Agama  

Jejak Pertemuan itu Tak Ada yang Sia-sia

Jejak pertemuan itu tidak ada yang sia-sia
Penulis dan Aher menghadiri pernikahan anaknya H.Ingka Fakkuroqobah, ketua Corps Muballigh Bandung tahun 2024 di LPTQ kota Bandung.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

 

Dalam riak perjalanan hidup, kita adalah pengembara yang tak pernah tahu di mana akan bersandar, kepada siapa akan berbagi cerita, dan dari siapa akan belajar arti kehilangan.

Setiap pertemuan adalah takdir yang menunggu di persimpangan jalan, menuntun kita pada pelajaran yang tak selalu mudah dicerna, namun selalu meninggalkan jejak di hati.

Ada mereka yang datang seperti fajar, membawa hangatnya cahaya.

Pertemuan dengan mereka terasa seperti musim semi—menumbuhkan harapan, menyuburkan senyum, dan menghadirkan kebahagiaan tanpa syarat.

Mereka adalah tangan yang menggenggam erat saat badai mengguncang, suara yang menguatkan saat dunia terasa runtuh.

Dari mereka, kita belajar bahwa kebaikan adalah bahasa semesta yang tak perlu diterjemahkan.

Namun, tak semua yang hadir membawa kehangatan.

Ada juga yang datang seperti badai, merobohkan ketenangan, mengguncang keyakinan, dan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

Kita belajar tentang pengkhianatan dari mereka yang menjanjikan keabadian, kita mengenal kepedihan dari mereka yang mengajarkan ketulusan dengan dusta.

Mereka bukan sekadar luka, melainkan guru kehidupan yang mengajarkan kita cara berdiri setelah jatuh, cara tetap percaya setelah kecewa.

Aher dan Keluarga Besar Karuhun Wati

Lalu ada yang terbaik. Mereka bukan sekadar persinggahan, bukan pula angin lalu yang hanya menyapa sejenak.

Mereka adalah rumah—tempat di mana hati selalu ingin kembali.

Dalam tatapan mereka, ada ketenangan.

Dalam tawa mereka, ada kehangatan.

Dalam kehadiran mereka, ada kepastian bahwa hidup, sekeras apa pun, akan selalu punya tempat untuk bahagia.

Tak perlu menyesali siapa pun yang pernah hadir dalam hidup.

Setiap orang yang datang membawa makna—baik sebagai anugerah maupun sebagai pelajaran.

Yang baik, mengajarkan kebahagiaan.

Yang buruk, menempa keteguhan.

Baca Juga:  Hikmah di Balik Ujian: Belajar dari Pohon Bongsai dan Kopi Pahit

Dan yang terbaik, akan menjadi bagian dari cerita hidup yang selalu kita kenang, bahkan ketika waktu telah jauh melangkah.

Karena sejatinya, pertemuan bukan tentang kebetulan.

Ia adalah skenario yang Tuhan gariskan dengan cinta, agar kita bisa tumbuh, belajar, dan akhirnya memahami—bahwa setiap hati yang pernah singgah, adalah cermin dari perjalanan kita sendiri.

Wallahu’alam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *