
Oleh Nurdin Qusyaeri
Sejarah mencatat, jurnalisme dulu ditulis dengan darah. Kini, ia ditulis dengan… algoritma. Dan algoritma tidak kenal empati. Ia tak peduli apakah suatu konten diperoleh dengan investigasi berbulan-bulan atau cuma hasil nyomot dari trending Twitter. Yang penting: klik, share, dan durasi nonton.
Itulah sebabnya, di Hari Kebebasan Pers 3 Mei 2025 ini, kita tidak sedang merayakan merdekanya jurnalis, tapi menyaksikan mereka dipecat satu per satu. Bukan karena menulis kebenaran yang berbahaya, tapi karena perusahaan tak sanggup bayar gaji, sebab iklan sudah lari ke YouTube dan TikTok.
Sebuah momen menyayat itu terekam di layar kaca. Di Kompas TV, host Gita Nila Maharkesri menyampaikan penutupan program Sport Pagi yang sudah tayang selama 12 tahun. Dengan suara bergetar dan mata berkaca, ia menyampaikan perpisahan yang lebih mirip doa kematian bagi industri TV konvensional.
Tangis di studio itu viral, namun bukan karena rating, melainkan karena kesedihan kolektif, TV mulai usang, dan kita tak bisa berbuat apa-apa.
“TV Menangis, Algoritma Tertawa.” Begitu tulis pengamat marketing Yuswohady dalam unggahan Instagram-nya yang menyindir sekaligus menggugah. Di saat televisi berjuang mempertahankan program dengan tim besar dan studio mewah, seorang podcaster dengan ring light murahan dan mic Rp 300 ribuan justru bisa menggaet jutaan penonton.
Sementara itu, Rosadi Jamani menulis elegi tentang matinya jurnalisme. Bukan mati karena represi, tapi karena ignoransi. Jurnalis kehilangan tempat. Mereka sekarang disuruh bikin konten, bukan berita. Deadline-nya bukan esok pagi, tapi sekarang juga, Kak, biar naik reach! Mereka tak lagi diminta verifikasi fakta, tapi disuruh buat thread “5 Fakta Menarik tentang Kasus X” yang bisa viral dalam 60 detik.
Padahal, dalam perspektif komunikasi Islam, fungsi media adalah tabligh (menyampaikan kebenaran), amar ma’ruf (mendorong kebaikan), dan nahi munkar (mencegah keburukan). Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab: 70:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Sayangnya, kebenaran hari ini kalah cepat dari kehebohan. Media bukan lagi alat penyampai hikmah, tapi komoditas pasar emosi.
Heavy asset, low profit — itulah kutukan TV. Bayar studio, lighting, kru, narasumber. Sementara TikTok cukup pakai muka glowing dan filter, lalu viral. Televisi kalah bukan karena tak berisi, tapi karena tak fleksibel. Konten kalah oleh kontentainment.
Kita hidup di era ketika narasi dibentuk bukan oleh redaksi, tapi oleh For You Page. Ketika anak SMP lebih percaya TikTok ketimbang talkshow Najwa Shihab. Ketika klarifikasi pejabat lebih cepat muncul di akun Instagram pribadi dibanding wawancara jurnalistik.
Now, everybody is media, kata Yuswohady. Tapi tak semua tahu bagaimana menjadi jurnalis. Inilah tantangan hari ini. Bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi kehilangan makna. Wartawan dipaksa menjadi YouTuber. Editor dibekukan. Opini digantikan meme. Fakta disisihkan demi feel good content.
Dan publik? Sialnya, mereka tak peduli. Mereka tak lagi mencari kebenaran. Mereka mencari hiburan, dan kalau bisa, yang bisa ditonton sambil rebahan, makan mie instan, dan sambil scroll dua layar.
Tapi Rosadi tidak menyerah. Di balik satirnya, ada nyala api kecil: bahwa jurnalisme tidak mati total. Masih ada jurnalis-jurnalis independen, media komunitas, akun-akun kecil yang terus menjaga akal sehat dan akurasi. Mereka tak viral, tapi jujur. Tak dibayar mahal, tapi bermartabat.
Begitu pula Yuswohady, yang mengajak kita melihat realitas ini sebagai peluang: bahwa media harus bertransformasi. Bukan hanya platform yang berubah, tapi cara berpikir. TV harus belajar menjadi ringan, cepat, dan relevan. Jurnalis harus memegang etika, tapi juga belajar bicara dalam bahasa algoritma.
Komunikasi Islam adalah jalan tengah antara kebebasan dan tanggung jawab, antara kebenaran dan kasih sayang. Media yang Islami bukan hanya benar secara fakta, tapi hasanah dalam cara. Ia amar ma’ruf nahi munkar, tapi tak jadi buzzer. Ia menyuarakan kebenaran, tapi tak kehilangan adab.
Hari Kebebasan Pers hari ini bukan tentang selebrasi, tapi refleksi.
Bukan bertanya “berapa banyak berita kita viral?”
Tapi “berapa banyak yang masih percaya jurnalis bekerja untuk kebenaran?”
Jika hari ini jurnalisme menangis, jangan biarkan ia sendirian.
Peluklah ia. Bantu ia bangkit.
Karena tanpa jurnalisme yang jujur dan rahmatan lil alamin, demokrasi hanyalah sandiwara—dan algoritma adalah sutradaranya.
Wallahu’alam





