Ketika Gambar dan Video Tak Lagi Netral: Komunikasi Penyiaran dalam Sorotan Islam

Komunikasi Penyiaran dalam Islam
Ilustrasi

Oleh Yuyun Asymiawati*

“Gambar itu netral, yang penting niat.”

Kalimat ini sering terdengar dalam diskusi para kreator konten. Tapi benarkah desain visual itu netral? Apakah niat baik cukup untuk membenarkan semua bentuk penyiaran visual? Di sinilah kita perlu mengajak Islam bicara lebih jauh.

Media Visual dan Wajah Baru Penyiaran

Hari ini, wajah komunikasi penyiaran telah berubah. Bukan lagi hanya suara dan kata, tetapi gambar, gestur, warna, hingga video berdurasi 30 detik yang mampu membuat orang percaya tanpa sempat berpikir. Visual menjadi penyampai pesan paling cepat sekaligus paling memengaruhi.

Baca Juga:  Mediamorfosis dan Nasib Televisi

Konten edukasi dan dakwah memang menjamur. Tapi konten dengan balutan sensualitas juga tak kalah deras mengalir. Maka muncul pertanyaan penting: di mana posisi Islam ketika gambar dan video mulai membentuk persepsi umat?

Antara Kreativitas dan Kehati-hatian

Islam bukan agama anti seni. Tapi Islam juga tidak membebaskan ekspresi tanpa etika. Dalam dunia visual, ada batas-batas yang sering kali dilanggar atas nama “niat baik”.

Beberapa hadis menyebutkan larangan menggambar makhluk bernyawa (HR. Bukhari-Muslim), terutama jika menyerupai ciptaan Allah (tasyabbuh bi khalqillah). Maka muncul perdebatan:

  • Apakah gambar makhluk bernyawa otomatis haram?
  • Apakah video termasuk dalam larangan itu?
  • Apakah konten dakwah boleh menampilkan animasi manusia dan hewan?

Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi dan Wahbah az-Zuhaili memberikan ruang ijtihad. Mereka menyatakan gambar dan video dapat digunakan selama:

  1. Tidak mengandung unsur syirik atau pornografi.
  2. Tidak dijadikan objek penyembahan.
  3. Digunakan untuk kemaslahatan: dakwah, pendidikan, atau sosial.

Visual Tak Lagi Netral: Ada Etika yang Terlibat

Komunikasi penyiaran dalam Islam menuntut lebih dari sekadar kreativitas teknis. Kita tak bisa lagi menyebut visual sebagai netral. Faktanya, visual memengaruhi persepsi, menggerakkan emosi, bahkan membentuk ideologi. Apa yang tampak “estetik” belum tentu “etik”. Apa yang tampak “keren” belum tentu kebenaran.

Islam menuntun para penyiar untuk tidak sekadar menyebarkan pesan, tapi menjaga nilai. Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan untuk menyampaikan dakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Maka, desain visual pun harus ditimbang dengan akal dan nurani.

Penyiar Muslim, Kamu Siapa?

Jika kamu adalah kreator Muslim, maka kamu bukan hanya komunikator, tapi juga penyambung amanah langit. Pilihan font, warna, ilustrasi, bahkan durasi video — semua mengandung nilai di sisi Allah.

Pertanyaannya:

Apakah desain visualmu membuat orang makin dekat kepada Allah, atau justru makin sibuk menatap aurat dan lawakan kosong?

Penutup: Dari Layar ke Hati

Komunikasi penyiaran dalam Islam bukan hanya soal boleh atau haram, tapi juga soal bernilai atau sia-sia. Maka, mari menjadi penyiar yang bukan hanya kreatif, tetapi juga bertakwa.

Karena di ujung semua layar itu, ada pertanggungjawaban yang tak bisa diedit atau di-cut.

*Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *