Website Berita dan Opini
Indeks

Lapar yang Mencerahkan: Ketika Perut Kosong, Mata Hati Terbuka

Lapar yang Mencerahkan: Ketika Perut Kosong, Mata Hati Terbuka
Ilustrasi AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hari kesebelas. Tubuh sudah sepenuhnya pasrah pada ritme puasa. Lapar tidak lagi dirasakan sebagai siksaan, tapi sebagai irama yang akrab. Dan di keheningan siang, saat tidak ada kunyahan yang memecah konsentrasi, sesuatu yang aneh terjadi: mata hati mulai terbuka.

Para sufi sejak dulu telah memahami rahasia ini. Mereka tahu bahwa lapar bukan sekadar pengalaman fisik, tetapi juga jalan spiritual yang membawa pada pencerahan.

Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, menulis dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa hati manusia itu seperti cermin. Ketika perut kenyang, cermin itu menjadi buram, tertutup debu dan kabut. Tapi ketika lapar, cermin itu jernih, siap memantulkan cahaya Ilahi .

Dalam kitabnya yang monumental, Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali mendedikasikan bab khusus tentang rahasia-rahasia ibadah, termasuk puasa . Di sana beliau menjelaskan bahwa makanan berlebihan mengeraskan hati, memadamkan cahaya makrifat, dan membuat jiwa berat untuk bangun di malam hari.

Sebaliknya, lapar adalah “makanan” bagi ruh. Ketika jasad kelaparan, ruh justru mendapat nutrisi yang selama ini terhalang oleh dominasi fisik.

Konsep ini belakangan mendapat “pengakuan” dari dunia sains modern melalui penelitian Yoshinori Ohsumi, ilmuwan Jepang yang meraih Hadiah Nobel Kedokteran tahun 2016.

Ohsumi menemukan mekanisme yang disebut autophagy—dari bahasa Yunani: auto (diri sendiri) dan phagein (memakan). Ketika sel kekurangan nutrisi, ia mulai “memakan” bagian-bagian dirinya yang rusak atau tidak berguna, mendaur ulangnya menjadi energi dan komponen baru yang sehat .

Ohsumi, yang masa kecilnya hidup di Jepang pasca-Perang Dunia dengan segala kekurangannya, tumbuh menjadi ilmuwan yang tekun mengamati sel-sel ragi dalam kelaparan. Ia melihat sendiri bagaimana sel-sel itu bertahan dengan cara “memakan” dirinya sendiri—membersihkan yang rusak, menyisakan yang sehat .

Penemuan ini membuka pintu pemahaman baru tentang bagaimana tubuh beregenerasi, bagaimana penyakit seperti Parkinson dan kanker bisa dicegah, dan bagaimana puasa bisa menjadi kunci kesehatan .

Seorang ulama kontemporer, Dr. Muhammad Saad Ibrahim, dalam ceramahnya di TvMu Channel, menjelaskan temuan ini dengan bahasa yang gamblang. Autophagy, katanya, adalah proses dekomposisi sel-sel yang stres karena tidak mendapat asupan nutrisi.

Ketika stres, sel itu “memakan” bagian-bagiannya yang rusak, mendaur ulangnya, dan menjadi lebih sehat. “Yang dianggap sudah tidak baik lagi, pada proses autophagy diolah kembali dan kemudian menjadi sehat,” jelasnya .

Subhanallah, apa yang ditemukan para sufi seribu tahun lalu melalui pengalaman spiritual, kini terbukti secara empiris di laboratorium. Lapar yang kita rasakan di bulan Ramadhan bukan sekadar latihan kesabaran, tapi juga mekanisme pembersihan yang Allah rancang dalam tubuh kita.

Tubuh kita “memakan” sampah-sampah seluler, jiwa kita “memakan” debu-debu dosa. Keduanya berjalan beriringan.

Tapi autophagy ala Ohsumi hanya membersihkan sel-sel fisik. Al-Ghazali mengajarkan ada autophagy yang lebih tinggi: pembersihan jiwa. Dalam kitab Ihya’, beliau menjelaskan bahwa jiwa manusia itu seperti cermin yang bisa memantulkan cahaya Tuhan.

Tapi cermin itu bisa kotor—oleh debu syahwat, oleh kabut kesombongan, oleh karat kedengkian. Puasa, dengan laparnya, adalah kain yang membersihkan cermin itu. Semakin bersih cermin, semakin jelas cahaya Ilahi terpantul di dalamnya .

Kiai Ulil Abshar Abdalla, atau Gus Ulil, dalam tayangan NU Online menjelaskan hal ini dengan analogi yang indah. Menurutnya, ketika orang sedang lapar karena berpuasa, getaran rohaninya menjadi lebih intensif dan lebih kuat daripada saat kenyang:

“Kenyang seringkali membuat pikiran kita tidak konsentrasi; untuk membaca, belajar. Tetapi lapar justru menjadi jalan terbaik kita mengondisikan diri, rohani, dan pikiran untuk bisa lebih atentif, lebih memiliki perhatian kepada sesuatu,” katanya .

Gus Ulil mengutip Al-Ghazali yang menggambarkan hati manusia seperti cermin. Jika hati sedang kotor karena jarang dibersihkan, ia tidak akan peka menangkap ilham yang datang dari Allah.

Baca Juga:  Puasa dan Kematian: Latihan Berpisah dengan Dunia

Dan salah satu cara untuk membersihkan hati itu adalah dengan lapar. “Ilham adalah pengetahuan yang tidak dipelajari dari buku dan guru, tetapi dari pengalaman langsung ketika berjumpa dengan pengalaman batin. Pengalaman-pengalaman rohani ini yang akan membuat kualitas seorang Mukmin menjadi naik,” pungkasnya .

Lalu datanglah Jalaluddin Rumi, sang penyair cinta, dengan bahasa yang berbeda. Dalam Matsnawi -nya yang legendaris, Rumi menggambarkan lapar sebagai jalan menuju Tuhan dengan cara yang puitis. Ia berkata:

“Hai tubuh yang kenyang, jadilah kurus!

Karena orang yang berpuasa itu seperti lilin, terang hatinya.

Lapar itu bagaikan awan yang menaungi akal,

Akan tetapi ia menjadi awan yang menaungi hati para wali.

Perut yang lapar itu bagaikan pintu menuju langit;

Makanan yang sedikit itu laksana cahaya yang menerangi akal.”

Rumi, yang hidup di abad ke-13 di tengah gejolak politik dan sosial yang dahsyat, menemukan bahwa satu-satunya jalan menuju kedamaian adalah dengan melepaskan diri dari belenggu dunia.

Baginya, lapar adalah kunci pembuka pintu langit . Ia mengibaratkan kerinduan manusia kepada Tuhan seperti sepotong bambu yang dipisah dari rumpunnya. Bambu itu rela dipotong, dilubangi, dibentuk sekian rupa, demi bisa menjadi seruling yang melantunkan suara kerinduan kepada rumpun asalnya .

Begitu pula manusia. Lapar yang kita rasakan adalah “pelubangan” atas diri kita. Ia membuat kita kosong, agar Tuhan bisa mengisi dengan cahaya-Nya. Ia membuat kita lemah, agar kita sadar bahwa kekuatan sejati hanya milik Allah. Ia membuat kita hampa, agar kita tidak lagi bergantung pada apa pun selain Dia.

Dalam bahasa psikologi modern, ini disebut internal locus of control—kendali yang berasal dari dalam diri. Seorang psikolog Muslim kontemporer, Syekh Dr Asim Yusuf, dalam ceramahnya yang membahas Al-Ghazali, menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada faktor eksternal, tapi pada reaksi internal kita terhadap faktor-faktor itu .

Ia memberi contoh sederhana: orang dengan external locus of control akan marah ketika hujan mengguyur tanpa payung. Tapi orang dengan internal locus of control akan tenang, karena ia tahu hujan adalah ketetapan Tuhan dan ia bisa mengatur reaksinya:

“Kamu tidak bisa menghentikan hujan, tapi kamu bisa membawa payung,” katanya .

Puasa melatih kita membawa payung itu. Lapar yang kita rasakan adalah “hujan” yang tak terhindarkan. Tapi kita bisa mengatur reaksi kita: dengan sabar, dengan doa, dengan rasa syukur bahwa kita masih punya makanan untuk berbuka. Inilah internal locus of control yang sejati—ketika kita menyerahkan kendali kepada Allah, tapi tetap bertanggung jawab atas pilihan kita .

Para psikolog juga menemukan bahwa lapar bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi. Dalam kondisi lapar, tubuh melepaskan hormon-hormon tertentu yang membuat otak lebih waspada. Ini mungkin penjelasan ilmiah mengapa para sufi memilih lapar sebagai jalan spiritual. Dengan perut kosong, pikiran lebih jernih, hati lebih peka, dan jiwa lebih mudah melambung ke hadirat Ilahi.

Tapi ada satu level lagi yang lebih dalam. Para sufi percaya bahwa lapar bukan sekadar membersihkan hati, tapi juga membuka mata batin. Mata batin ini—disebut bashirah dalam tradisi Islam—adalah organ spiritual yang mampu melihat realitas yang tak tampak oleh mata fisik. Ia melihat Tuhan di balik tabir, melihat hikmah di balik musibah, melihat cinta di balik ujian.

Baca Juga:  Lailatul Qadar: Malam Takdir yang Mengubah Narasi Hidup

Rumi dalam Matsnawi menggambarkan mata batin ini dengan indah:

  • “Mata fisik hanya melihat buih di permukaan laut,
  • Tapi mata hati melihat lautan itu sendiri.
  • Puasa menutup mata fisik, agar mata hati terbuka.
  • Ia membuatmu buta pada dunia, agar kau bisa melihat Tuhan.”

Luar biasa. Apa yang ditemukan Ohsumi di level sel—bahwa kelaparan membuat sel “melihat” bagian-bagian rusaknya dan membersihkannya—itu adalah metafora sempurna dari apa yang terjadi di level spiritual. Lapar membuat jiwa “melihat” bagian-bagian rusaknya: iri, dengki, sombong, cinta dunia. Dan dengan izin Allah, ia membersihkannya satu per satu.

Dr. Zainab Al-Tawil, seorang psikolog Muslim, mengatakan bahwa lapar bukan hanya soal menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menggali kedalaman jiwa. “Ini adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami esensi kehidupan yang lebih besar daripada sekadar kenikmatan duniawi,” jelasnya .

Di sinilah kita sampai pada titik temu yang menakjubkan antara sains dan spiritualitas. Ohsumi menemukan autophagy di level sel. Al-Ghazali mengajarkan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—di level ruh. Rumi merayakan isyq—cinta Ilahi—di level hati. Ketiganya berbicara tentang hal yang sama: pembersihan, pembaruan, dan pendekatan kepada Yang Maha Suci.

Ohsumi mungkin tidak pernah membaca Ihya’ Ulumuddin. Ia mungkin tidak kenal dengan Al-Ghazali atau Rumi. Tapi ia telah menemukan—dengan mikroskop dan tabung reaksi—apa yang ditemukan para sufi dengan mata hati mereka. Bahwa lapar itu menyembuhkan. Bahwa lapar itu membersihkan. Bahwa lapar itu membuka jalan menuju kehidupan baru.

Di hari kesebelas ini, coba renungkan: saat perutmu keroncongan, apa yang sebenarnya terjadi? Di level fisik, sel-selmu sedang sibuk “makan” sampah-sampah mereka. Di level jiwa, hatimu sedang dibersihkan dari debu-debu dosa. Di level spiritual, ruhmu sedang menjalani “autophagy” versi Ilahi—memakan ego, mencerna nafsu, membuang semua yang tidak berguna, dan menyisakan yang murni untuk kembali kepada-Nya.

Rumi berkata, “Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut. Aku bukan dari alam semesta, bukan dari alam malakut. Tempatku adalah ketiadaan, jejakku adalah tanpa jejak. Aku adalah ruh, bukan jasad.” Dan puasa adalah jalan menuju ketiadaan itu. Ia membuat kita kosong, agar Tuhan bisa mengisi.

Maka, nikmatilah lapar ini. Ia bukan musuh, tapi guru. Ia bukan siksaan, tapi rahmat. Ia bukan ujian semata, tapi kado terindah dari Yang Maha Cinta. Karena hanya dengan lapar kita bisa merasakan betapa manisnya iman. Hanya dengan kosong kita bisa dipenuhi cahaya-Nya. Hanya dengan mati sejenak dari dunia, kita bisa hidup abadi di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Referensi

  • Al-Qur’an dan Terjemahannya
  • Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, terutama Bab “Rahasia Puasa” dan “Keajaiban Hati”
  • Imam Al-Ghazali, Kimiyā-ye Sa’ādat (The Alchemy of Happiness)
  • Jalaluddin Rumi, Matsnawi, berbagai buku terjemahan dan syarah
  • Yoshinori Ohsumi, wawancara dalam Journal of Cell Biology (2012)
  • Penelitian Autophagy dan Hadiah Nobel Kedokteran 2016
  • Dr. Muhammad Saad Ibrahim, Tausiyah di TvMu Channel, diakses via Suara Muhammadiyah
  • Gus Ulil Abshar Abdalla, “Korelasi Lapar dengan Jalan Rohani”, NU Online
  • Syekh Dr Asim Yusuf, “Ghazali’s Science of the Soul”, SeekersGuidance
  • Osman Nuri Topbas, Ratapan Kerinduan Rumi, Mizania
  • Berbagai sumber pendukung lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *