Sastra  

Mabuk Cinta: Anak Panah Takdir atau Pilihan Hati?

Mabuk cinta antara anak panah takdir dan pilihan hati

Foto Al Munawwir Komplek Q: Dua insan yang sedang mabuk cinta dan menanti takdir terbaiknya.

Oleh Nurdin Qusyaeri

Jatuh cinta itu laksana anak panah yang dilepaskan dari busur. Ia melesat tanpa bisa ditahan, mencari sasaran yang telah ditetapkan. Menghindar ke kanan, kau tertusuk rindu yang membekukan malam-malam panjangmu.

Menghindar ke kiri, kau ditikam cemburu yang membara di hati tanpa sebab nyata. Cinta, dalam segala kedahsyatannya, selalu menyisakan tanya: takdirkah ia, ataukah pilihan hati yang meresap perlahan?

Para pecinta sejak zaman lampau telah memeriksa misteri ini. Sebagian berkata, cinta yang meluap-luap, atau al-‘isyq, hanyalah takdir yang menyerupai hausnya jiwa pada seteguk air. Ia hadir begitu saja, di luar kuasa manusia. Bukankah Umar bin Khattab r.a. pernah berkata kepada seorang laki-laki yang mengaku terjerat cinta, “Itu adalah sesuatu yang berada di luar kuasamu”?

Seperti cinta Mughits kepada Barirah, air mata yang mengalir dari jenggotnya adalah saksi bahwa cinta tak pernah bisa dikendalikan.

Nabi Muhammad saw. sendiri berkata kepada Ibnu Abbas, “Betapa besar cinta Mughits kepada Barirah, namun betapa besar pula kebencian Barirah kepadanya.”

Namun, ada pula yang berkata bahwa cinta, terutama cinta yang meluap hingga mabuk kepayang, adalah buah dari inisiatif hati. Ia bermula dari pilihan, dari hasrat yang disirami oleh kehendak.

Seperti orang yang mabuk karena khamr, cinta yang meluap adalah akibat dari sebab yang dipilih. Sebab itulah, cinta bisa menjadi sesuatu yang dipuji, atau justru dicela.

Maka, di antara dua kutub ini, kita menemukan harmoni. Esensi cinta, dengan segala sebab-sebabnya, mungkin berada dalam ranah pilihan.

Namun, ketika cinta telah melampaui batas, ketika ia menyerupai hujan badai yang tak dapat dihentikan, maka ia telah memasuki ranah takdir.

Baca Juga:  Rantai Menuju Kemenangan Refleksi dari Seorang Julius Caesar

Barangkali inilah mengapa cinta disebut sebagai “penyakit yang mematikan,” seperti kata seorang tabib dalam Imtizaj Al-Arwah, karena ia menyerang tanpa permisi, seperti wabah yang menggerogoti jiwa.

Namun, tidak semua cinta yang meluap adalah cela. Sebagaimana Mughits yang tetap mencintai Barirah meski mereka telah berpisah, cinta itu menjadi bukti bahwa hati memiliki daya yang tak terjamah oleh logika.

Dan dalam cinta yang demikian, bukan rasa yang tercela, melainkan bagaimana manusia mengelolanya.

Tapi, ah, cinta… ia adalah takdir sekaligus pilihan, luka sekaligus penawar. Seperti anak panah yang melesat, ia adalah perjalanan yang tak dapat ditarik kembali.

Dan di ujung perjalanan itu, manusia hanya bisa berbisik lirih, “Jika aku bisa memilih, takkan aku pilih untuk jatuh cinta. Tapi kini aku tahu, cinta memilihku.” Wallahu’alam.

Perjalanan Samarang Kamojang – Bandung, 23 Desember 2024.

Nurdin Qusyaeri

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *