Melawan Rasa Takut dengan Berserah Diri

Melawan rasa takut dengan berserah diri
Foto Intensia

 

Oleh Hendi Rustandi*

Kita hidup pada zaman di mana rasa takut begitu mudah menyelinap ke dalam hati. Setiap hari, telinga kita dijejali kabar tentang penyakit yang mematikan, bencana yang tiba-tiba datang, atau ketidakpastian hidup yang terasa menghantui. Banyak orang terjebak dalam kecemasan: “Bagaimana jika aku jatuh sakit? Bagaimana jika kehilangan orang yang kusayangi? Bagaimana jika masa depan ternyata gelap?”

Rasa takut itu wajar. Ia bagian dari fitrah manusia. Namun, yang sering membuat kita menderita bukanlah ancaman itu sendiri, melainkan bagaimana hati kita mempersepsinya. Rasa takut bisa membelenggu, membuat kita tak berdaya, bahkan kehilangan harapan.

Di sinilah ajaran Islam menawarkan cahaya. Allah berfirman:

Janganlah kamu bersedih dan janganlah kamu takut, sesungguhnya Allah bersama kamu.” (QS. At-Taubah: 40).

Ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar bersembunyi di gua, dalam keadaan terancam. Bayangkan: jika Rasulullah pun pernah berada dalam situasi menegangkan, lalu tetap tenang karena yakin pada pertolongan Allah, maka kita pun seharusnya belajar menata hati.

Berserah diri kepada Allah—tawakal—bukanlah sikap pasrah tanpa usaha. Nabi pernah menegaskan, “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah kepada Allah.”

Artinya, kita tetap berusaha menjaga diri dengan sebaik-baiknya, tapi setelah itu serahkan hasilnya kepada Allah. Itulah rahasia ketenangan: ikhtiar sepenuh hati, lalu percaya sepenuhnya.

Ketika kita bersandar pada Allah, rasa takut itu perlahan luruh. Sebab kita sadar: hidup dan mati ada dalam genggaman-Nya, rezeki dan musibah datang dengan izin-Nya, dan tak ada satu pun yang menimpa kita kecuali sudah tertulis dengan hikmah.

Di tengah keresahan zaman ini, mari belajar mengubah rasa takut menjadi doa, mengubah cemas menjadi syukur, dan mengubah kepanikan menjadi tawakal.

Baca Juga:  Harta Tergantung Siapa yang Memegangnya

Saat berita buruk terus mengalir, kita perlu menyeimbangkannya dengan kabar gembira dari langit: bahwa Allah Maha Penyayang, Maha Menjaga, dan tak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Hidup mungkin penuh ketidakpastian. Tetapi bagi orang yang hatinya tertambat pada Allah, ada kepastian yang menenangkan: apa pun yang terjadi, ia tidak pernah berjalan sendirian.

Maka, bila rasa takut mulai menyelimuti hati, berhentilah sejenak. Tarik napas, berdoalah, dan serahkan semuanya kepada Allah. Lalu melangkahlah dengan yakin: karena tidak ada yang lebih menenangkan daripada hidup dalam genggaman-Nya.

*Penulis adalah ketua Prodi KPI IAI PERSIS Bandung 

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *