Website Berita dan Opini
Indeks

Mengapa Dedi Mulyadi Menang Telak di Pilgub Jabar? Ini Faktor-Faktor Penentu Kemenangannya

"Mengapa Dedi Mulyadi Menang Telak di Pilgub Jabar? Ini Faktor-Faktor Penentu Kemenangannya
Foto kang Icas: Kang Dedi berpose necis bersama para dosen dan alumni IAI PERSIS Bandung saat pernikahan Rere, anak sulungnya Muhammad Hoerudin Amin tahun 2023 di Soreang.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hasil quick count Pilkada Jawa Barat 2024 menunjukkan kemenangan telak pasangan Dedi Mulyadi-Erwan dengan perolehan suara 61,16%. Kemenangan ini tidaklah mengejutkan.

Sebagai pemerhati politik, sebelum Pilkada dilaksanakan, saya sering mengatakan bahwa kemenangan pasangan Dedi-Erwan tak akan bisa dibendung. Hal ini layaknya seperti kereta api yang melaju tanpa hambatan—siapa pun yang mencoba menghadang, akan terlindas. Apa yang membuat Dedi Mulyadi-Erwan unggul begitu signifikan?

 

Faktor Utama Kemenangan Dedi Mulyadi-Erwan

1. Dominasi Figur Dibandingkan Partai Politik

Pilkada Jawa Barat lebih sering menjadi kontestasi figur dibandingkan pilihan ideologis berbasis partai. Dedi Mulyadi tampil jauh lebih unggul secara popularitas dibandingkan lawan-lawannya.

Ridwan Kamil, yang semula diprediksi sebagai pesaing terkuat, memilih bertarung di Jakarta, meninggalkan arena di Jabar dengan membiarkan Dedi tanpa kompetitor sepadan.

Lawan-lawan Dedi di Pilgub, seperti Ahmad Syaikhu-Ilham Habibi, Acep Adang-Gita, dan Jeje-Ronal, dianggap belum memiliki rekam jejak yang cukup kuat atau dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat.

2. Rekam Jejak dan Amal Sosial yang Konsisten

Dedi Mulyadi telah lama dikenal sebagai tokoh dengan citra positif, tidak hanya melalui kebijakannya saat menjadi Bupati Purwakarta, tetapi juga dalam kiprah pembelaannya di berbagai kasus sosial. Pendekatannya yang humanis dalam membantu masyarakat menjadi magnet tersendiri bagi pemilih.

 

  • Kasus Vina Cirebon (2024). Dedi mengadvokasi keluarga korban pembunuhan Vina yang terkendala kondisi ekonomi, memastikan mereka mendapat pendampingan tanpa harus kehilangan penghasilan karena bolak-balik penyelidikan.
  • Kasus Orang Tua Digugat Anak. Pada 2021, ia berhasil mendamaikan kasus seorang ibu yang digugat anaknya Rp3 miliar di Bandung. Pendekatannya mengedepankan moralitas dan rasa daripada sekadar aspek hukum.
  • Mediasi Restoratif. Di Demak, ia mendamaikan perseteruan ibu dan anak yang sempat menyebabkan sang ibu ditahan. Dengan gigih, Dedi mengupayakan proses restorasi keadilan hingga pihak-pihak berseteru berdamai.
  • Perebutan Warisan Nenek Cicih (2018). Ia membantu menyelesaikan sengketa Rp1,6 miliar antara seorang ibu dan empat anak kandungnya di Bandung.
  • Kasus Amih (2017). Di Garut, ia mendukung ibu 83 tahun yang digugat anak dan menantunya senilai Rp1,8 miliar, hingga gugatan tersebut ditolak pengadilan.
Baca Juga:  Gelombang Protes Global: Ekonomi, Korupsi, dan Peran Generasi Muda

Semua langkah tersebut bukan hanya mencerminkan sensitivitas Dedi terhadap persoalan masyarakat kecil, tetapi juga memperkuat citranya sebagai pemimpin yang berjiwa kemanusiaan, sebagai pembela mustadhafiin.

Citra ini didukung oleh saluran YouTube-nya dengan hampir 6 juta subscriber, tempat ia mendokumentasikan berbagai aksi sosialnya seperti membantu pedagang kecil, memberi modal usaha, hingga menyantuni yang membutuhkan.

3. Dukungan Partai Besar dan Infrastruktur Politik

Dedi Mulyadi-Erwan diusung oleh dua partai besar, Gerindra dan Golkar. Kombinasi kekuatan ini, ditambah dengan dukungan presiden serta modal finansial yang memadai, memberikan landasan politik yang solid bagi pasangan ini.

4. Kelemahan Kompetitor

  • Ahmad Syaikhu-Ilham Habibi (PKS-NasDem). Pasangan ini hanya meraih 20% suara. Strategi menyerang Dedi dengan isu keagamaan seperti kejawen atau klenik tidak relevan bagi mayoritas masyarakat Jabar yang lebih pragmatis.
  • Acep Adang-Gita (PKB). Pasangan ini berhasil meraih 10,14% suara, sedikit lebih tinggi dari Jeje-Ronal (PDIP) yang hanya meraih 9,22%. Namun, keduanya tidak diproyeksikan untuk menang, melainkan untuk menjaga mesin partai tetap berjalan. Ini yang sering disebut sebagai “proyek daripada” — daripada mengusung kader luar, lebih baik mendorong kader sendiri.
  • Jeje-Ronal (PDIP). Meskipun diusung partai besar, pasangan ini tidak mampu menarik simpati masyarakat karena kurang menonjolnya figur maupun program.

5. Nilai Budaya dan Karakter Sunda

Sifat humanis dan ringan tangan Dedi Mulyadi tak lepas dari akar budayanya sebagai orang Sunda. Falsafah Sunda seperti silih asih (saling mengasihi), silih asah (saling membenahi), dan silih asuh (saling menjaga) sangat melekat pada dirinya. Nilai-nilai ini terlihat dalam berbagai langkahnya menyelesaikan kasus-kasus sosial dengan pendekatan welas asih.

Pamungkas

Kemenangan Dedi Mulyadi-Erwan adalah hasil dari kombinasi rekam jejak yang solid, kedekatan dengan masyarakat, dan strategi politik yang matang. Pendekatan humanisnya terhadap berbagai persoalan sosial telah memenangkan hati masyarakat Jawa Barat, yang menginginkan pemimpin dengan jiwa kepedulian nyata.

Baca Juga:  Kamu Lemah, Akui Saja

Dalam politik figur yang mendominasi Jawa Barat, Dedi Mulyadi-Erwan berhasil menunjukkan bahwa kebaikan, kerja nyata, dan kepekaan terhadap nilai-nilai lokal adalah kunci utama meraih kemenangan. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *