
Oleh: Parihah*
Di tengah kehidupan yang makin individualis dan hedon, ada satu tempat yang menolak larut dalam kesendirian. Komplek Bahagia Permai, sebuah lingkungan kecil di daerah Margacinta, justru memilih untuk memperkuat simpul kebersamaan—menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan dan hati-hati yang damai sebagai ruang untuk bersilaturahmi. Masjid itu bernama Masjid Baiturruhiyat, yang dipimpin oleh Ketua DKM Bapa H. Zul Azmi, S.H., M.H.
Sabtu Kajian Tafsir Al-Qur’an – Ahad Kajian Tematik
Setiap Sabtu ba’da salat subuh berjamaah, langit Komplek Bahagia Permai menjadi saksi lantunan ayat-ayat suci yang dibaca dan ditadabburi di Masjid Baiturruhiyat. Kajian Tafsir Al-Qur’an menjadi agenda rutin yang diisi oleh Ustadz Mudrika Daud—membawa warga lebih dekat pada makna firman Allah, tidak hanya sebagai bacaan tetapi sebagai petunjuk hidup yang nyata.
Keesokan harinya, Ngaji Ahad (JIHAD) hadir dengan kajian tematik yang lebih variatif dengan ustadz berbeda setiap pekan. Dari pembahasan Riyadhus Shalihin, adab, keluarga, hingga persoalan kehidupan sehari-hari semua dikupas ringan tapi sarat hikmah.
Yang menarik, setiap kegiatan tak berakhir begitu saja. Selepas kajian, warga dipersilakan untuk makan bersama dengan hidangan sederhana namun penuh kehangatan. Dari sinilah keindahan ukhuwah terwujud—dari hal sederhana lahir keakraban yang tulus.
Pasar Murah Penuh Cinta dan Keberkahan
Ahad ini ada yang istimewa. Masjid Baiturruhiyat di bawah kepengurusan Bapa H. Zul Azmi, S.H., M.H. menggelar Pasar Murah Penuh Berkah yang berbeda dari biasanya. Sayur mayur segar ditata rapi di atas meja. Warga bisa membawanya pulang dengan bayar seikhlasnya—bahkan boleh tidak membayar sama sekali.
Tidak ada label harga, tidak ada syarat. Hanya ada kepercayaan dan kehangatan antarwarga yang ingin membangun ukhuwah lebih dalam lagi. Yang lebih istimewa, semua itu tidak berasal dari sponsor atau donatur, melainkan dari dana umat yang dikumpulkan oleh warga dan dikelola dengan amanah oleh DKM, lalu dikembalikan sepenuhnya untuk umat.
“Dana dari Umat – Untuk Umat.”
Kalimat sederhana itu menjadi prinsip dasar yang terus dijaga. Setiap rupiah dipastikan bernilai maslahat.
Hebatnya, seluruh pengelolaan dilakukan oleh anak-anak muda yang kreatif, saleh, solutif, dan visioner. Mereka tidak hanya berpikir untuk hari ini, tetapi juga menanam benih untuk masa depan. Masjid tidak hanya ramai karena ibadah, tetapi juga karena kegiatan sosial yang membumi dan merangkul semua kalangan.
Menjaga Hubungan Langit dan Bumi
Apa yang dilakukan oleh warga Komplek Bahagia Permai adalah bentuk nyata dari hubungan habluminallah dan habluminannas.
“Sayangi yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.”
Mereka mendekat kepada Allah tidak hanya lewat ilmu dan ibadah, tetapi juga merangkul sesama manusia dengan senyum, bantuan, dan kehadiran. Inilah wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Kebersamaan tidak selalu butuh kemewahan. Cukup ada niat baik, makanan sederhana, dan hati yang ikhlas—maka lahirlah keberkahan.”
Komplek Bahagia Permai mungkin tidak besar, tapi jiwa-jiwa penghuninya luas. Di sana masjid tak hanya menjadi tempat bersujud, tetapi juga tempat di mana cinta, ilmu, dan ukhuwah tumbuh—untuk dunia yang lebih damai dan akhirat yang selamat.
Semoga nama Komplek Bahagia Permai menjadi doa para penghuninya agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin.
*Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung
Editor: San






