Website Berita dan Opini
Indeks

Puasa Digital: Menahan Diri dari Hiruk Pikuk Media Sosial

Ketika Jari Lebih Lapar dari Perut

Puasa Digital: Menahan Diri dari Hiruk Pikuk Media Sosial
Foto dibuatkan Meta AI
Keluarga yang bertemu dan berkumpul namun tetap aja main hp masing-masing.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Muqaddimah: Antara Lapar Perut dan Lapar Jari

Hari ketujuh. Perut mulai jinak. Ia tidak lagi memberontak setiap jam. Tapi ada yang lebih liar dari perut yaitu jari-jari tangan.

Setiap lima menit, tanpa sadar, jari meraih ponsel. Scroll, scroll, scroll. Like, komentar, share. Ganti aplikasi, scroll lagi. Lihat notifikasi, balas pesan, scroll lagi. Siklus ini berulang terus, seperti zombie yang tak punya kendali.

Ironisnya, siklus ini tidak berhenti di bulan puasa. Bahkan di siang hari, saat perut kosong, jari-jari ini tetap sibuk. Ia tidak ikut puasa. Ia terus makan—makan konten, makan gosip, makan drama, makan segala hal yang tidak bermanfaat.

Padahal, bukankah puasa seharusnya melatih kita menahan diri dari segala hal yang sia-sia? Bukan hanya menahan makan dan minum, tapi juga menahan pandangan, menahan lisan, dan—di era digital—menahan jari.

Muhammad Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya (berbuat sesuai kebohongan), serta perbuatan bodoh (yang menyakiti), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Pertanyaannya: apakah “perkataan dusta” di era digital hanya sebatas omongan lisan? Ataukah ia juga mencakup tulisan, komentar, status, dan semua yang kita tebar di dunia maya?

Mari kita selami.

Landasan Dalil: Menjaga Lisan di Era Digital

Hadis tentang Keselamatan Lisan

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat populer. Tapi populer tidak selalu berarti dipraktikkan. Di media sosial, hadis ini seperti hiasan dinding: indah dilihat, jarang diingat.

Padahal, jika direnungkan, hadis ini mencakup seluruh bentuk komunikasi. Lisan bukan hanya organ di mulut, tapi juga ujung jari yang mengetik. Jika kita tidak bisa berkata baik di kolom komentar, lebih baik diam. Jika tidak bisa menulis status yang bermanfaat, lebih “pensiun”.

Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengutip hadis ini dan menjelaskan bahwa diam yang dimaksud adalah diam dari keburukan, bukan diam dari kebaikan. Diam dari ghibah, diam dari fitnah, diam dari ujaran kebencian, diam dari debat kusir yang tidak bermanfaat.

Ayat tentang Menjaga Pandangan

Firman Allah SWT:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Di era digital, “menjaga pandangan” tidak hanya berarti tidak melihat aurat lawan jenis secara langsung. Ia juga berarti tidak melihat konten-konten yang diharamkan: foto-foto tidak senonoh, video-video maksiat (guyat geyot, gual geol, gutak gitek, aluman alimeun), atau bahkan konten-konten yang hanya membuang waktu tanpa manfaat.

Media sosial adalah etalase raksasa. Setiap hari kita melihat ribuan gambar. Sebagian baik, sebagian buruk, sebagian sia-sia. Puasa melatih mata kita untuk selektif: apa yang pantas dilihat, apa yang tidak.

Telaah Filosofis: Lapar Mata di Era Visual

Masyarakat Tontonan

Filsuf Perancis Guy Debord pada tahun 1967 menulis buku terkenal berjudul The Society of the Spectacle. Ia meramalkan bahwa masyarakat modern akan berubah menjadi “masyarakat tontonan”—di mana segala sesuatu menjadi tontonan, dan nilai sesuatu ditentukan oleh seberapa menarik ia dilihat.

Ramalan Debord menjadi kenyataan di era media sosial. Kita tidak lagi hidup dalam realitas langsung, tapi dalam representasi realitas. Orang lebih suka melihat foto makanan daripada makan makanannya. Lebih suka menonton drama orang lain daripada menyelesaikan drama sendiri. Lebih suka menjadi penonton kehidupan daripada menjalani kehidupan.

Di bulan Ramadhan, sindrom “masyarakat tontonan” ini semakin parah. Orang sibuk menu makanan, memotret sahur, memvideo buka puasa, merekam tarawih, lalu mengunggah semuanya. Ibadah menjadi tontonan. Yang suci menjadi sekuler. Yang privat menjadi publik.

Jalaluddin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi mengingatkan bahwa komunikasi yang efektif bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun hubungan. Di era digital, kita pandai menyampaikan pesan (status, komentar, postingan), tapi mungkin gagal membangun hubungan—bahkan dengan keluarga sendiri.

Puasa digital adalah antitesis dari semua ini. Ia mengajak kita berhenti menonton, dan mulai menjalani. Berhenti memotret, dan mulai merasakan. Berhenti mengunggah, dan mulai merenung.

Ekonomi Perhatian

Di era digital, ada satu komoditas paling berharga: perhatian manusia. Semua platform media sosial berlomba merebut perhatian kita. Mereka mendesain fitur-fitur adiktif: notifikasi merah, infinite scroll, video otomatis, semuanya untuk membuat kita tetap di layar selama mungkin.

Semakin lama kita di layar, semakin banyak iklan yang kita lihat, semakin banyak uang yang mereka dapat. Kita bukan lagi pengguna, tapi komoditas. Perhatian kita dijual kepada pengiklan.

Puasa adalah perlawanan terhadap ekonomi perhatian ini. Dengan berpuasa, kita melatih diri untuk tidak mudah tergoda. Tidak mudah teralihkan. Tidak mudah memberikan perhatian pada hal-hal yang tidak penting.

Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)

Di era digital, “meninggalkan yang tidak berguna” berarti meninggalkan scroll tanpa tujuan, meninggalkan like tanpa makna, meninggalkan komentar tanpa manfaat, meninggalkan aplikasi yang hanya membuang waktu.

Baca Juga:  Puasa dan Komunikasi Rasa: Merajut Empati di Era Dingin

Perspektif Komunikasi: Antara Koneksi dan Konektivitas

Koneksi vs Konektivitas

Sosiolog Korea-Jerman Byung-Chul Han, dalam bukunya In the Swarm, membedakan antara koneksi dan konektivitas. Koneksi adalah hubungan yang nyata, mendalam, dan bermakna. Konektivitas adalah hubungan dangkal yang terjadi melalui jaringan digital.

Media sosial menawarkan konektivitas tinggi, tapi koneksi rendah. Kita punya ratusan teman Facebook, tapi tidak punya satu teman curhat. Kita punya ribuan followers Instagram, tapi merasa kesepian. Kita sering chatting, tapi jarang bertemu.

Puasa mengembalikan makna koneksi yang sejati. Di bulan ini, kita mengurangi interaksi digital dan meningkatkan interaksi nyata. Shalat tarawih berjamaah, buka puasa bersama, silaturahmi ke keluarga—semua adalah momen koneksi yang tidak bisa digantikan oleh like dan komentar.

Fenomena “Phubbing” di Bulan Ramadhan

Phubbing (phone + snubbing) adalah istilah untuk perilaku mengabaikan orang di depan kita karena sibuk dengan ponsel. Fenomena ini semakin parah di era digital. Bahkan di bulan Ramadhan, saat seharusnya kita lebih fokus pada ibadah dan keluarga, phubbing tetap terjadi.

Bayangkan: saat berbuka puasa, seluruh keluarga duduk bersama. Tapi masing-masing sibuk dengan ponsel. Ada yang foto makanan, ada yang scroll TikTok, ada yang balas WhatsApp. Tubuh bersama, tapi hati terpisah. Fisik hadir, tapi jiwa melayang di dunia maya.

Padahal, momen Ramadhan adalah momen langka. Keluarga berkumpul, orang tua masih ada, anak-anak masih kecil. Semua ini tidak akan kembali. Tapi ponsel selalu ada, konten selalu bisa diulang, drama selalu bisa disusul.

Puasa digital mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya. Hadir saat berbuka, hadir saat sahur, hadir saat tarawih, hadir bersama orang-orang yang kita cintai.

Puasa dari Konten Negatif

Ghibah Digital

Ghibah (menggunjing) adalah dosa besar dalam Islam. Allah menyamakannya dengan memakan daging saudara yang sudah mati—gambaran yang sangat mengerikan.

Di era digital, ghibah menjadi lebih mudah dan lebih masif. Kita tidak perlu bertemu langsung untuk menggunjing. Cukup dengan mengetik di grup WhatsApp, atau berkomentar di kolom yang tidak relevan, atau membuat status tanpa menyebut nama tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Di bulan Ramadhan, ghibah digital ini seharusnya berhenti. Tapi kenyataannya? Grup-grup WhatsApp keluarga malah makin ramai dengan gosip. Kolom komentar makin panas dengan saling serang. Status-status makin provokatif dengan sindiran.

Padahal, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْمُسْلِمَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Sesungguhnya muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di era digital, “tangan” tidak hanya berarti memukul. Ia juga berarti mengetik. Jika komentar kita menyakiti orang lain, kita belum menjadi muslim sejati. Jika status kita membuat orang lain tersinggung, puasa kita mungkin tidak berarti di sisi Allah.

Hoaks dan Fitnah Digital

Bulan Ramadhan sering kali menjadi bulan maraknya hoaks. Entah karena orang lebih banyak waktu di rumah sehingga lebih banyak scrolling, atau karena ada semangat “berbagi” yang salah arah.

Hoaks tentang keutamaan amalan tertentu, hoaks tentang makanan yang membatalkan puasa, hoaks tentang tokoh agama yang dianggap menyimpang, hoaks tentang politik—semua beredar dengan cepat.

Padahal, menyebarkan hoaks termasuk dalam kategori “perkataan dusta” yang disebut dalam hadis di atas. Jika kita menyebarkan berita bohong, meskipun dengan niat baik, kita tetap berdosa. Dan jika itu dilakukan di bulan Ramadhan, dosanya bisa lebih besar karena kesucian waktu.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini adalah pedoman literasi digital. Tabayyun (cek dan ricek) adalah kewajiban sebelum menyebarkan informasi. Di bulan Ramadhan, kewajiban ini menjadi lebih penting.

Puasa di Tengah Politik Digital

Jika Ramadhan bertepatan dengan tahun politik (pemilu atau pilkada), tantangannya semakin berat. Media sosial akan dipenuhi dengan kampanye, serangan, black campaign, dan hoaks politik.

Di tengah situasi ini, puasa digital menjadi sangat relevan. Kita harus bisa membedakan antara informasi dan propaganda. Antara fakta dan opini. Antara dukungan dan kebencian.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Muslim sejati adalah yang muslim lain selamat dari lisan dan tangannya. Muhajir sejati adalah yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

Di era digital, “hijrah” bisa berarti hijrah dari debat politik yang tidak bermanfaat, hijrah dari grup WA yang penuh fitnah, hijrah dari akun-akun yang hanya menyebarkan kebencian.

Fenomena lain yang mengganggu di bulan Ramadhan adalah politisasi agama. Banyak konten dakwah yang sebenarnya adalah konten politik dengan bungkus agama. Ustaz-ustaz tertentu dijadikan corong kepentingan politik. Ceramah-ceramah Ramadhan diisi dengan pesan-pesan yang memecah umat.

Puasa digital mengajarkan kita untuk kritis. Tidak semua yang berceramah adalah dai, bisa jadi politisi berdasi agama. Tidak semua konten religi adalah nasihat, bisa jadi kampanye terselubung.

Praktik Puasa Digital: Langkah-Langkah Konkret

Baca Juga:  Dinamika Dakwah Logika Mistika: Menyatukan Rasio dan Spiritualitas dalam Pemahaman Islam

Setelah teori, mari kita bahas praktik. Bagaimana cara berpuasa digital di bulan Ramadhan?

1. Detoks Media Sosial

Cobalah untuk tidak membuka media sosial selama Ramadhan. Atau jika berat, kurangi secara drastis. Gunakan waktu yang biasa untuk scrolling untuk membaca Al-Qur’an atau buku-buku bermanfaat.

2. Matikan Notifikasi

Notifikasi adalah musuh konsentrasi. Setiap bunyi “notif” memecah fokus kita. Matikan semua notifikasi yang tidak penting. Atau lebih baik, aktifkan mode “jangan ganggu” selama berpuasa.

3. Buat Jadwal Online

Tentukan waktu-waktu khusus untuk online. Misalnya, hanya satu jam setelah berbuka dan satu jam setelah sahur. Di luar waktu itu, ponsel disimpan, layar dimatikan.

4. Periksa Niat Sebelum Posting

Sebelum mengunggah status atau komentar, tanya pada diri: “Apakah ini akan mendekatkanku pada Allah? Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah ini akan membuatku bangga di akhirat?”

Jika jawabannya tidak, lebih baik tidak usah.

5. Perbanyak Interaksi Nyata

Gunakan waktu Ramadhan untuk bertemu orang secara langsung. Silaturahmi ke keluarga, buka puasa bersama teman, shalat berjamaah di masjid. Interaksi nyata lebih berkah daripada ribuan komentar virtual.

6. Bersihkan Akun dari Konten Negatif

Manfaatkan Ramadhan untuk “bersih-bersih” digital. Unfollow akun-akun yang tidak bermanfaat. Keluar dari grup yang penuh gosip. Hapus aplikasi yang hanya membuang waktu.

7. Isi dengan Konten Positif

Ganti konten negatif dengan konten positif. Follow akun-akun dakwah, subscribe channel kajian, baca artikel-artikel Islami. Jadikan ponsel sebagai sarana ibadah, bukan sarana maksiat.

Humor Ramadhan: Ketika Ponsel Juga “Puasa”

Bayangkan jika ponsel kita juga ikut puasa. Mungkin akan seperti ini:

WhatsApp: “Maaf, saya sedang puasa. Tidak bisa kirim pesan dari subuh sampai maghrib. Silakan chat lagi nanti.”

Instagram: “Feed sedang puasa. Tidak ada konten baru hari ini. Silakan istirahatkan mata Anda.”

YouTube: “Rekomendasi video sedang puasa. Kami tidak akan menampilkan video-video yang tidak bermanfaat selama Ramadhan.”

TikTok: “Aplikasi ini sedang puasa. Tidak akan membuang waktu Anda hari ini.”

Grup WhatsApp Keluarga: “Grup ini sedang puasa dari gosip. Mohon kiriman hanya doa dan ayat suci.”

Indah sekali jika itu terjadi. Tapi kenyataannya, tidak. Ponsel kita tidak puasa. Ia terus bekerja, terus menggoda, terus mengalihkan perhatian.

Maka, kitalah yang harus “memuasakan” ponsel kita. Mengatur notifikasi. Membatasi waktu layar. Meng-uninstall aplikasi yang tidak perlu. Membuat jadwal digital detox.

Abu Nawas, jika hidup di era digital, mungkin akan bercerita:

“Suatu hari aku bertemu orang yang sangat sibuk dengan ponselnya. Aku tanya, ‘Kamu sedang apa?’ Ia jawab, ‘Aku sedang mencari teman.’ Aku lihat di sekelilingnya ada puluhan orang, tapi ia lebih memilih mencari teman di ponsel. Aku geleng-geleng kepala. Orang-orang sekarang lebih suka teman maya daripada tetangga nyata.”

Lalu ia menambahkan, “Dulu, orang puasa itu menahan lapar dan haus. Sekarang, orang puasa harus menahan diri dari godaan ponsel. Lebih berat mana? Menurutku, godaan ponsel lebih berat. Karena dulu setan hanya satu, sekarang setan ada di setiap aplikasi.”

Renungan di Hari Ketujuh: Antara Dunia Maya dan Dunia Nyata

Hari ketujuh. Sepertiga Ramadhan hampir berlalu. Tapi berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk hal-hal sia-sia? Berapa jam kita scroll tanpa tujuan? Berapa banyak komentar yang tidak bermanfaat? Berapa banyak konten yang tidak kita ingat lagi setelah lima menit?

Mari kita hitung: rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3-4 jam per hari di media sosial. Dalam sebulan, itu 90-120 jam. Dalam setahun, itu 1.000-1.500 jam. Seumur hidup? Puluhan ribu jam. Waktu sebanyak itu bisa digunakan untuk belajar ilmu agama, membaca Al-Qur’an berkali-kali, atau menghafal hadis.

Ramadhan adalah momen untuk mengevaluasi. Jika di luar Ramadhan kita sulit mengendalikan diri, di bulan ini kita punya “alasan” spiritual untuk mengurangi. Gunakan kesempatan ini.

Imam Al-Ghazali berkata: “Barangsiapa tidak bisa mengendalikan matanya, ia akan tersesat. Barangsiapa tidak bisa mengendalikan lidahnya, ia akan celaka. Barangsiapa tidak bisa mengendalikan tangannya, ia akan menyesal.”

Di era digital, “tangan” berarti jari yang mengetik. Jika tidak bisa mengendalikan jari, kita akan tersesat di dunia maya dan celaka di dunia nyata.

Rasulullah SAW bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering dilupakan banyak orang: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Waktu luang di bulan Ramadhan adalah nikmat besar. Jangan sia-siakan dengan scroll yang tak berujung. Gunakan untuk hal-hal yang kekal.

Pamungkas: Puasa yang Utuh

Puasa yang utuh bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia juga menahan mata dari melihat yang haram, menahan telinga dari mendengar yang sia-sia, menahan lisan dari berkata yang buruk, dan—di era digital—menahan jari dari mengetik yang tidak bermanfaat.

Rasulullah SAW mengingatkan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)

Jangan sampai kita termasuk dalam golongan ini. Jangan sampai puasa kita hanya membuat perut lapar, tapi hati tetap kering. Jangan sampai Ramadhan berlalu, tapi kita tidak berubah.

Mari berpuasa secara utuh: puasa perut, puasa mata, puasa telinga, puasa lisan, dan puasa jari. Mari jadikan Ramadhan ini sebagai awal kehidupan digital yang lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih berkah.

Allahu a’lam bish-shawab.

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *