
Oleh Puji Purwati*
Ramadhan menghadirkan kesadaran paling jujur tentang siapa manusia sebenarnya. Dalam keseharian, manusia sering merasa kuat, mampu, bahkan seolah dapat mengendalikan hidupnya sendiri.
Namun ketika Ramadhan datang; saat menahan lapar, dahaga, dan berbagai keinginan, disanalah tumbuh satu kesadaran mendasar, bahwa manusia adalah makhluk yang sangat bergantung kepada Allah.
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ
Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Q.S Fathir : 15)
Ayat ini menyebut manusia sebagai fuqarā’ ilā Allāh orang-orang yang sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Bukan hanya ketika lemah, sakit, atau kesulitan, tetapi dalam seluruh keadaan hidup. Nafas yang kita hirup, rezeki yang dimakan, ketenangan yang dirasakan, semuanya berasal dari-Nya.
Ramadhan melalui ibadah shaum menghadirkan pelajaran nyata tentang makna ayat ini. Ketika lapar dan dahaga dirasakan, manusia menyadari bahwa kekuatan yang dimiliki tidaklah mutlak.
Tubuh membutuhkan makan dan minum, saat shaum sekalipun halal tidak berani melampaui aturan-Nya, kecuali saat Allah berkehendak dalam ketetapan-Nya, kesadaran ini menegaskan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa rahmat-Nya..
Tadabbur ayat ini juga mengajarkan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Dialah Al-Ghaniyy—Yang Maha Kaya. Ibadah yang manusia lakukan bukan untuk menambah kemuliaan Allah, tetapi justru untuk menyelamatkan dan menumbuhkan kesejatian manusia sebagai hamba-Nya.
Shaum dan Ibadah lainnya di bulan Ramadhan pada akhirnya adalah jalan agar manusia kembali menyadari siapa dirinya di hadapan Allah Rabb seluruh Alam.
Mungkin inilah diantara pelajaran terdalam dari ibadah shaum—bukan hanya menahan diri, dan menghidupkan ibadah, tetapi belajar kembali bergantung kepada Allah dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar kuat tanpa pertolongan Allah.
Ketika manusia menyadari kebutuhannya kepada Allah, di situlah ia menemukan ketenangan yang sejati dan kesejatian diri sebagai seorang hamba.
*Penulis adalah sekretaris prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, IAI PERSIS Bandung





