
Daras.id – Sejumlah tokoh aktivis lintas generasi berkumpul dalam acara Silaturahmi Aktivis Lintas Generasi: Rindu Bandung Lautan Api yang digelar di Jalan Babakan Jeruk, Kota Bandung, pada Selasa (4/11). Kegiatan ini menjadi ajang refleksi dan silaturahmi bagi para aktivis lintas zaman untuk membahas kondisi sosial, politik, dan demokrasi Indonesia terkini.
Acara yang diinisiasi oleh Bandung Connecting People ini merupakan kolaborasi berbagai organisasi seperti Forum Dangiang Siliwangi, AMS, Walhi Jawa Barat, Gespermindo, Hejo Institute, dan Pergerakan Mahasiswa Bandung.
Forum ini menghadirkan tiga narasumber utama: Rocky Gerung, M. Jumhur Hidayat, dan Syahganda Nainggolan.
Semangat Bandung dan Gagasan Awal Forum
Penggagas acara, Paskah Irianto, menjelaskan bahwa gagasan forum ini berawal dari keinginan sederhana untuk mempertemukan kembali para aktivis lintas generasi.
“Saya tahun 80-an, 90-an sampai 2000-an hadir di majelis rakyat. Berbagai kasus tanah, politik, saya hadir di situ. Sekarang kita ini sudah tua, saya sendiri 65, tapi perjuangan itu tidak pernah ada kata berhenti,” ujarnya.
Paskah menegaskan, semangat Bandung harus terus menyala sebagai simbol perjuangan rakyat. Forum ini dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari aktivis senior, mahasiswa, hingga pegiat NGO.
“Ada banyak teman dari berbagai segmen, ada para senior, ada juga kelompok NGO, organisasi massa. Ada dari Garut, ada dari Banten, dan banyak lagi,” tambahnya.
Evaluasi Gerakan Mahasiswa dan Kondisi Sosial Ekonomi
Dalam forum tersebut, Paskah menyoroti kondisi gerakan mahasiswa saat ini. Menurutnya, meski semangat mahasiswa tetap tinggi, gerakan tersebut sering gagal dalam menggerakkan massa rakyat.
“Kalau kami memosisikan diri sebagai senior, kami bangga sama gerakan mahasiswa ini. Tapi ternyata dalam berbagai isunya gagal. Semangatnya luar biasa, tapi rakyat tidak mau ikut. Gerakan mahasiswa memang di depan, tapi dia tidak akan bisa bertahan kalau rakyat tidak hadir,” katanya.
Ia mengingatkan kembali semangat tahun 1998, ketika rakyat dan mahasiswa bersatu dalam satu gerakan besar.
“Saya saksi hidup di ’98 itu. Rakyat dari gang-gang keluar semua. Dia bisa masak, mensuplai makanan-makanan untuk teman-teman yang aksi di DPR, dan berlimpah,” kenangnya.
Paskah juga menyoroti masalah ekonomi yang menekan masyarakat kecil, termasuk dampak dari program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Program bagus seperti MBG ini malah membuat harga-harga naik. Ibu-ibu rumah tangga sekarang ribut, karena semua harga barang naik, sementara pendapatan tetap. Telur naik, ayam naik, bawang naik,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap melihat sisi positif program tersebut.
“Efek positif juga ada, anak-anak bisa makan. Tapi larinya bukan pada gizi, hanya pada makan. Tujuannya mengurangi stunting, tapi yang terjadi baru sekadar bisa makan,” katanya.
Ia menegaskan, kunci kesejahteraan bangsa tetap bergantung pada penegakan hukum.
“Kalau kita mau bilang kunci dari kesejahteraan bangsa ini adalah menegakkan hukum, tentu kita mau bilang, perbaiki dulu KPK-nya. Karena sekarang korupsi semakin masif,” pungkasnya.
Rocky Gerung: Bandung Tetap Pusat Ide Intelektual Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Rocky Gerung menekankan pentingnya Bandung sebagai pusat kelahiran ide-ide besar dalam sejarah politik Indonesia.
“Indonesia itu dimerdekakan oleh Bung Karno di Bandung lewat Indonesia Menggugat. Tidak ada perubahan tanpa Bandung. Tidak ada Bandung tanpa buruh. Prabowo belajar politik pertama kali di Bandung di bawah asuhan Buyung Nasution dan Rahman Tolleng,” ujar Rocky.
Menurutnya, semangat Bandung masih menjadi penggerak perubahan sosial dan politik.
“Apakah masyarakat sipil masih percaya pada Bandung Connection ini? Masih. Karena cuma di Bandung terbina hubungan antara aktivis, tokoh politik lama, dan ide tentang masa depan,” katanya.
Rocky juga menyoroti perubahan dunia yang kini beralih dari ideologi menuju algoritma.
“Pertanyaan masa depan kita adalah, apakah demokrasi di masa depan akan diandalkan pada ideologi atau algoritma? Karena suatu waktu ideologi dibatalkan oleh algoritma. Generasi baru tidak mau lagi belajar tentang ideologi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia dibangun atas dasar perdebatan ideologis yang kuat.
“Negara ini mau didirikan berbasis apa? Islam, kerajaan, sosialisme, liberalisme? Tetapi di dalam perdebatan itu ada kekerasan berpikir metodologis. Tradisi itu ada di Bandung terus-menerus,” jelasnya.
Pemimpin Harus Berbasis Etika dan Intelektualitas
Rocky menilai, demokrasi Indonesia harus melahirkan pemimpin yang beretika dan berintelektualitas tinggi.
“Pemimpin masa depan tidak boleh hanya mengandalkan elektabilitas yang bisa dibeli di lembaga survei. Pemimpin harus lolos dua hal: etikabilitas dan intelektualitas,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemimpin dengan kedalaman intelektual dibutuhkan untuk memahami isu-isu besar dunia seperti keamanan global, etika lingkungan, dan solidaritas kemanusiaan.
“Indonesia diminta oleh para pendiri bangsa untuk ikut serta dalam perdamaian dunia. Maka harus dipastikan bahwa kita memproduksi human solidarity, bukan memperbanyak alutsista,” ujar Rocky.
Rocky juga menilai Kabinet Prabowo harus dibangun berdasarkan ideologi, bukan transaksi politik.
“Kabinet itu harus hasil transaksi ideologi, bukan transaksi politik,” tegasnya.
Bandung, Kota Ide dan Masa Depan
Rocky menutup diskusi dengan menegaskan pentingnya menjaga Bandung sebagai pusat pemikiran nasional.
“Ada Bandung yang mampu lakukan itu. Solo tidak mungkin mampu,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia mengajak para peserta membangun komitmen baru yang disebutnya Bajer Babakan Jeruk.
“Di Jalan Babakan Jeruk ini, kita bikin semacam komitmen. Dari sekarang kita cicil isu-isu yang memungkinkan Prabowo untuk percaya bahwa demokrasi itu adalah kekuatan, bukan kekuatan militer,” katanya.
Menurutnya, sinyal politik seperti langkah simbolik Presiden Prabowo yang menggunakan KRL dari Manggarai ke Tanah Abang perlu dimaknai secara serius.
“Itu sinyal bahwa kereta cepat tidak dibutuhkan, yang lebih dibutuhkan adalah KRL,” ujarnya.
Forum Rindu Bandung Lautan Api pun ditutup dengan pernyataan Rocky Gerung yang menanggapi pandangan-pandangan audiens, sekaligus mempertegas pentingnya peran masyarakat sipil dan intelektual dalam arah demokrasi nasional.
(Red)






