
Bandung, Daras.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya dipandang sebagai langkah positif untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar, kini berubah menjadi sorotan tajam setelah muncul ribuan kasus keracunan siswa di berbagai daerah. Data resmi Badan Gizi Nasional mencatat sedikitnya 4.771 kasus keracunan akibat konsumsi makanan MBG, termasuk di Jawa Barat.
HIMA PERSIS Jawa Barat menilai peristiwa ini bukan sekadar insiden teknis, tetapi mencerminkan lemahnya manajemen, pengawasan, dan akuntabilitas penyelenggaraan program.
“Makanan yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman serius bagi siswa. Ribuan anak menjadi korban, baik dari sisi kesehatan, psikologis, maupun sosial. Ini menunjukkan kelalaian negara dalam menjamin hak anak memperoleh makanan sehat, bergizi, dan aman,” Tegas Guruh Almuslihun Amin, Ketua Bidang Politik dan Kebijakan Publik HIMA PERSIS Jawa Barat.
Menurut Guruh, fakta adanya ribuan korban menimbulkan pertanyaan serius tentang orientasi kebijakan publik. Ia mempertanyakan apakah program ini benar-benar ditujukan untuk memperbaiki gizi anak bangsa atau sekadar menjadi proyek pencitraan politik jangka pendek.
HIMA PERSIS Jawa Barat menegaskan, kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan pangan, distribusi, standar keamanan, hingga pengawasan independen dari kalangan pakar gizi, akademisi, maupun masyarakat sipil. Aparat penegak hukum pun wajib mengusut tuntas kasus keracunan ini serta memberikan sanksi keras kepada pihak-pihak yang terbukti lalai maupun melakukan praktik curang dalam penyediaan makanan.
“Keselamatan generasi muda adalah harga mati. MBG harus kembali pada tujuan esensialnya, yakni memberi makanan yang benar-benar bergizi, higienis, dan aman. Tanpa pembenahan serius, MBG hanya akan menjadi program pencitraan yang meninggalkan luka dan ketidakpercayaan masyarakat,” pungkas Guruh.
(San)






