Sindiran, Nasi Bungkus, dan Residen yang Baperan

Sindiran, Nasi Bungkus dan Residen yang Baperan
Gambar dibuat si teh Meta

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Sindiran, Nasi Bungkus, dan Residen yang BaperanBaru dikritik soal Program Makan Bergizi (MBG), langsung pasang mode baper.

“Banyak profesor nyinyir,” katanya.

Lha, profesor nyinyir mah wajar, Pak. Itu tandanya mereka masih hidup dan berpikir. Yang bahaya itu kalau profesor diem aja, ngangguk-ngangguk sambil nyicipin nasi MBG yang belum tentu mateng. Belum move on dari sindiran, eh sekarang sindir lagi. Kali ini profesornya langsung di-pick up: “Kita bikin program kasih makan rakyat, masih aja dicibir.”

Sebentar. Ini negara atau acara talk show?

Beberapa bulan lalu, Residen—eh, Presiden—juga sempat nyeletuk:

“Di Indonesia, orang pintar sering nggak jadi apa-apa.”

Mungkin maksudnya nyindir Anies? Entahlah. Tapi yang pasti, rakyat jadi makin bingung: ini pemimpin atau stand-up comedian?

Aneh aja sih, seorang jenderal, patriotik dan tangguh kok jadi baperan gitu. Apa karena faktor U yang sudah di atas 70 tahun, gitu? Nanti mau sekalian aja nitip kalau Ustadz Adi Hidayat lagi ngajarin ngaji para profesor, titip pesan ya ustadz… ajarin juga Pak Presiden agar bisa legowo terima kritik. Nggak semua harus dibawa ke mimbar dan diceritain. Kan nggak semua curhat cocok dikonsumsi publik, apalagi yang dikasih nasi bungkusnya belum tentu sehat.

 

Program MBG: Antara Niat Baik dan Bungkus Nasi yang Kurang Gizi

Sekilas, program MBG itu seperti nasi padang: terlihat enak, penuh lauk, dan bergizi. Tapi pas dibuka?

Di Cianjur, puluhan anak-anak malah keracunan.

Di Jakarta, tempat masaknya belum dibayar hampir 1 miliar rupiah. Ya mungkin nasinya doyan utang.

Sementara di Yahukimo, Papua, anak-anak sekolahnya malah menolak MBG. Katanya, lebih nyaman masak sendiri. Piring lebih bersih, hati lebih tenang.

Baca Juga:  Puasa dan Kematian: Latihan Berpisah dengan Dunia

Katanya “bergizi”, tapi kenapa malah bikin mules satu sekolah?

Apakah ini bagian dari pendidikan karakter—supaya anak-anak jadi tahan uji usus?

Kalau niatnya mulia, eksekusinya juga jangan setengah matang. Jangan sampai ini cuma program nasi bungkus rasa pencitraan, yang ujung-ujungnya dijadikan bahan kampanye, bukan kebijakan berkelanjutan.

Negara, Jangan Jadi Kantin Raksasa

Negara itu jangan cuma sibuk nyuapin rakyat.

Negara harusnya ngajarin rakyat mancing, bukan terus-terusan nyodorin sendok.

Berikan pekerjaan, bukan sekadar piring.

Buat rakyat sejahtera, bukan cuma kenyang sesaat.

Coba tengok Malaysia, tetangga yang kita sering remehkan itu:

  • Penghasilan warganya besar.
  • Biaya hidupnya hanya setengah dari kita.
  • Bensin RON 95 cuma Rp 7.000.
  • Tol 485 KM cuma Rp 170.000.

Di kita?

  • Cileunyi ke Soreang aja Rp 16.500.
  • Bandung ke Semarang? Setengah juta.

Ini tol atau tiket ke konser Coldplay?

Yang lebih miris, rakyat Indonesia harus puasa sebelum gajian—bukan karena iman, tapi karena harga sembako naik terus. Sementara pemerintah sibuk menggoreng narasi seolah rakyat cuma butuh makan gratis, bukan harga hidup yang manusiawi.

Bungkus Nasi Boleh, Bungkus Akal Jangan

Kami rakyat nggak anti MBG. Kami cuma minta: programnya matang, gizinya beneran ada, dan jangan jadi panggung buat pencitraan. Karena yang kami butuh itu bukan nasi bungkus berlabel negara, tapi hidup yang lebih murah, pekerjaan yang nyata, dan pemimpin yang tidak baperan.

Kalau negara mau kasih makan, silakan.

Tapi tolong jangan bungkus akal sehat kami dengan narasi sendu dan kebijakan asal jadi.

Rakyat bukan anak TK, Pak. Kami lapar, iya. Tapi kami lebih lapar keadilan dan logika. Wallahu’alam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *