
Seakan dunia ini dirancang dengan ketimpangan yang tak terjelaskan.
Kita, yang berjalan dalam lorong-lorong penuh harap, sering kali hanya dapat menyaksikan bayangan impian itu, jauh di ujung sana, tak tergapai oleh tangan atau-pun doa.
Setiap hati membawa ingin, menumbuhkan cita-cita dalam sunyi, merajut mimpi sehalus benang sutra, mengharap bahagia yang layak dijemput.
Namun, hidup, yang berlumur misteri dan ketidakpastian, menyisakan kita pada kenyataan: tak semua langkah akan tiba di tempat yang diinginkan. Ada yang menggapai, ada pula yang terbenam dalam bayangan, meski sudah sekuat tenaga berlari.
Tentang bahagia, mungkin ia memang bukan hadiah yang bisa diperebutkan. Setiap insan berhak memilikinya, meski jalannya tak selalu sama, meski kadang harus menyusuri liku yang sepi dan perih.
Bahagia ada dalam genggaman kita masing-masing, hadir dalam wujud yang mungkin tak pernah kita duga—bukan sebagai kemenangan, tapi penerimaan.
(Dinur)






