
Oleh Ihsan Nugraha
Setiap kali musim haji tiba, layar kaca menayangkan jutaan manusia berpakaian ihram yang memutih di Padang Arafah. Saya selalu berhenti sejenak menatapnya. Gambar itu seperti pintu yang membawa saya kembali ke tahun 2013—tahun ketika saya berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama Bapak, sebuah kenangan yang sulit saya lupakan.
Perjalanan Ibadah Haji yang Penuh Makna
Kami berangkat berdua, dengan niat yang sama: melaksanakan ibadah haji dengan tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Perjalanan ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga mengendap dalam hati sebagai pengalaman spiritual yang dalam.
Bapak saat itu sudah tidak sekuat dulu. Tapi semangatnya masih sama seperti ketika saya kecil: teguh, tenang, dan tidak banyak mengeluh.
Di Mina, Langkah yang Semakin Pelan
Salah satu momen yang selalu saya ingat adalah ketika kami berjalan dari Mina menuju Jamarat untuk melontar jumrah. Kami berjalan perlahan, mengikuti ritme tubuh masing-masing. Saya sempat berkata, “Perlahan saja, Pak.” Beliau menjawab pendek, “Ya,” sambil menepi sejenak. Saya mengambil sebotol air mineral dari tas kecil dan memberikannya. Beliau menerimanya dengan tenang, tanpa banyak kata. Tidak ada drama. Tapi di situ saya tahu, beliau sedang menahan letih yang tidak ringan.
Waktu terus bergulir. Kami menyelesaikan semua rangkaian ibadah sesuai jadwal. Sesekali kami diam lama, entah karena lelah, entah karena memang sudah tidak tahu harus bicara apa lagi. Tapi diam kami tidak pernah canggung. Ada semacam pemahaman diam-diam bahwa masing-masing sedang menata diri di hadapan Tuhan.
Tangisan di Tawaf Wada
Satu momen yang selalu kembali dalam ingatan saya adalah saat kami melaksanakan tawaf wada—tawaf perpisahan. Di sinilah Bapak menangis, sambil menatap Ka’bah, ia berkata dengan suara yang nyaris seperti gumaman, “Masihkah Bapak diberi kesempatan untuk kembali ke sini?”
Saya hanya memandang wajahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi pertanyaan itu membekas sampai hari ini. Mungkin karena dalam kalimat itu terselip doa, harap, dan ketakutan yang tak terucap.
Setelah kembali dari Tanah Suci, Bapak mulai mengalami penurunan kesehatan. Tubuhnya pelan-pelan melemah, seperti pelita yang meredup tanpa suara. Hingga akhirnya, pada bulan Ramadan tahun 2017, beliau wafat. Tepat empat tahun setelah perjalanan itu. Tidak di tanah suci, tapi tetap dalam suasana yang suci.
Sejak saat itu, tiap kali menyaksikan siaran langsung haji—terutama wukuf, saya tidak pernah bisa menontonnya dengan biasa saja. Ada kenangan yang hadir tanpa perlu dipanggil. Suasana di Arafah, Mina, dan Masjidil Haram kini bukan sekadar bagian dari ritual ibadah, tetapi ruang kenangan yang menyimpan fragmen-fragmen kebersamaan kami berdua.
Kini saya hanya bisa mendoakan: semoga amal ibadah Bapak diterima, dan semoga Allah memberinya tempat terbaik di sisi-Nya. Dan jika suatu saat saya diberi kesempatan untuk kembali menunaikan ibadah haji, saya ingin mengulang langkah-langkah itu, sambil mengenang seseorang yang pernah berjalan di sebelah saya dengan pelan—dan penuh keteguhan. Sebab, kenangan haji bersama bapak bukan hanya soal tempat dan waktu, tapi tentang makna yang tertanam dalam hati.






