Terang yang Membakar: Ketika Kekuasaan Menguji Iman

Kekuasaan Menguji Iman
Ilustrasi

Oleh: Yuyun Asymiawati*

Sungguh mengejutkan—seperti sebuah plot twist dalam cerita. Berita yang wara-wiri di TV dan media sosial membuatku bergidik. Seorang pemimpin pemerintahan, tokoh pondok pesantren, rektor kampus—entah siapa lagi yang menyandang gelar “pemimpin”—terus disebut dalam berbagai kasus: kejahatan, penyimpangan, atau “sekadar” keteledoran yang berujung aib.

Mereka menjadi trending topic. Bukan karena prestasi, melainkan karena sensasi. Bukan karena pengabdian, tapi karena pengkhianatan terhadap kepercayaan.

Padahal sebelumnya, mereka bersinar. Dikelilingi pujian, diagungkan karena kinerja, dipercaya karena citra. Namun dalam sekejap, sorot kamera yang dulu mengangkat nama kini mematikan karier. Satu demi satu, kita menyaksikan bagaimana jabatan bisa berubah menjadi jebakan.

Mengapa Orang Baik Bisa Jatuh?

Apakah kekuasaan benar-benar sebegitu menyesatkannya? Atau mungkin, manusia memang menyimpan potensi gelap yang diam-diam menunggu waktu untuk menyala?

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:286, Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ayat ini sering dianggap penghibur, namun juga pengingat: ketika seseorang diberi kekuasaan, berarti ia diuji sesuai kapasitasnya. Jika ia gagal, mungkin bukan karena ujiannya terlalu berat—bisa jadi karena ia meremehkan, atau terlalu percaya diri hingga lalai menjaga diri.

Baca Juga:  Bijaksana: Antara Sabda Dewa dan Teriakan dalam Kepala

Iman yang Tidak Dijaga Bisa Rapuh

Tentu ini bukan pembelaan terhadap mereka yang bersalah. Tapi ini juga pengingat bahwa kita semua punya celah. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun, manusia paling mulia, setiap hari berdoa agar hatinya diteguhkan di jalan yang lurus. Maka jika seorang nabi saja khawatir akan kesesatan, bagaimana mungkin kita merasa aman hanya karena merasa ‘sudah cukup baik’?

Kekuasaan adalah cahaya. Tapi cahaya itu bukan sekadar penerang. Ia bisa menyilaukan, membakar, bahkan membutakan, jika hati tak siap menerimanya. Maka bukan hanya tentang iman, tapi juga tentang penjagaan diri yang terus-menerus. Godaan kekuasaan datang dalam berbagai bentuk: bukan hanya uang, tapi juga pujian, kekaguman, pengaruh, dan rasa kuasa atas hidup orang lain.

Ketika Kekuasaan Tak Lagi Bersandar pada Ketakwaan

Bukankah Fir’aun juga awalnya hanyalah manusia biasa? Namun ketika kekuasaan tak lagi disandarkan pada rasa takut kepada Tuhan, manusia bisa merasa dirinya adalah tuhan. Dalam Surah Al-Qashash ayat 83, Allah memberi peringatan keras:

“Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di muka bumi dan tidak membuat kerusakan. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.”

Mungkin ini soal menghindari ketinggian, bukan hanya dalam jabatan, tapi juga dalam hati. Karena saat hati merasa lebih tinggi dari yang lain, di situlah awal dari kejatuhan.

Jangan Tuhan-kan Pemimpin, Jangan Suci-sucikan Diri

Tak sedikit pemimpin yang jatuh dalam skandal dulunya dikenal religius. Ada yang rajin ceramah, aktif dalam kajian, bahkan memiliki pesantren. Tapi iman bukan jaminan bila tidak dirawat. Iman yang tidak dijaga akan keropos oleh tepuk tangan, reputasi, dan pengaruh. Kompromi pun mulai terjadi. Dan seperti retakan kecil di dinding yang lama-lama merobohkan seluruh bangunan, kesalahan kecil bisa menjelma menjadi bencana besar.

Saya tidak hendak menghakimi. Tapi saya juga tidak ingin kita terlalu mudah memaafkan. Karena kepercayaan publik itu mahal. Pemimpin yang jatuh dalam skandal, apalagi berulang, bukan hanya mencoreng nama pribadi, tapi juga mencederai harapan banyak orang.

Baca Juga:  Tips Menambah Rezeki Sesuai Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Namun jika semua ini hanya membuat kita sinis, maka kita gagal mengambil pelajaran. Inilah saatnya kita bercermin. Tidak menuhankan pemimpin, dan tidak menganggap diri lebih suci. Kita semua sedang dalam perjalanan menaklukkan hawa nafsu—dan kekuasaan hanyalah salah satu bentuknya.

Maka jagalah hati, sekalipun belum punya jabatan. Karena kadang yang membuat jatuh bukan pangkat tinggi, tapi kesombongan kecil yang tak tertangani.

*Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *