
SIDOARJO, DARAS.ID — Pagi yang tenang di Sidoarjo berubah menjadi duka mendalam pada 29 September 2025. Musholla empat lantai di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk seketika.
Sebanyak 17 santri meninggal dunia, 49 lainnya masih dalam pencarian, dan 104 santri berhasil selamat.
Musholla yang selama ini menjadi tempat berzikir dan belajar itu kini berubah menjadi kuburan massal. Di bawah tumpukan besi dan beton, beberapa jasad ditemukan masih dalam posisi berpelukan—seolah masih berzikir sebelum napas terakhir mereka terhenti.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ujar salah satu pengasuh pondok dengan suara bergetar. “Ini takdir Allah,” tambahnya lirih.
Namun di balik kesedihan itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam: siapa yang bertanggung jawab!
Antara Takdir dan Kelalaian
Tragedi ini memantik perdebatan di publik. Sebagian menuding pihak pesantren lalai, sebagian lain menilai pemerintah ikut abai.
Menurut Muji Himawan, ahli konstruksi dari ITS, penyebab utama ambruknya musholla tersebut adalah kegagalan struktur total. Ia menyebutkan kemungkinan lemahnya kualitas material, perencanaan yang tidak melibatkan insinyur profesional, serta minimnya pengawasan teknis dari pihak berwenang.
Namun di sisi lain, tragedi ini juga memperlihatkan runtuhnya struktur kepedulian negara terhadap pesantren.
Pesantren di Indonesia selama ini berkembang secara mandiri, dengan dana terbatas dan fasilitas seadanya. Banyak yang membangun ruang belajar atau tempat ibadah tanpa dukungan teknis dan anggaran memadai dari pemerintah.
“Negara sering datang setelah bencana, bukan sebelum musibah,” tulis pengamat pendidikan Islam, Diantika IE, dalam kolom reflektifnya.
“Yang runtuh bukan hanya bangunan, tapi juga moral kolektif kita sebagai bangsa.”
Pesantren: Pilar yang Terabaikan
Sejarah mencatat, pesantren adalah benteng moral dan spiritual bangsa. Sebelum republik ini berdiri, para santri telah mengangkat bambu runcing melawan penjajah. Namun dalam masa kemerdekaan, mereka justru sering dibiarkan berjalan sendiri.
Dengan gaji ustaz yang minim, biaya santri yang rendah, dan fasilitas terbatas, banyak pesantren bertahan hanya dengan semangat iman.
Ketika bangunan mereka roboh, yang datang bukan bantuan, melainkan penghakiman.
“Pesantren yang salah,” kata sebagian warganet di media sosial. Padahal, seperti dikatakan Diantika, “Mereka membangun iman, tapi disuruh bayar sendiri biayanya.”
Mereka yang Gugur, Bukan Korban Bangunan
Kini, enam belas nama santri akan diukir di batu nisan. Mereka bukan sekadar korban bangunan roboh, tapi simbol dari iman yang terpaksa menanggung kelalaian sistemik.
Mereka membangun tempat ibadah dengan semangat, namun negara absen memastikan keselamatan mereka.
Jika kelak musholla baru berdiri, mungkin prasastinya akan berbunyi:
“Kami tidak butuh belasungkawa, kami butuh negara yang benar-benar hadir.”
Reporter: Tim Redaksi Daras.id
Editor: Dinur
Foto: Dok. BPBD Sidoarjo





