Di tengah dinamika politik Indonesia saat ini, ummat sering kali dihadapkan pada realitas bahwa partai-partai politik lebih mengutamakan kepentingan pragmatisme daripada idealisme. Maka sangatlah mendesak perlunya partai sejati yang bisa jadi agregasi kepentingan masyarakat secara umum.
Usai pemilu presiden dan legislatif, fokus kita kini beralih pada pemilihan kepala daerah, yang menyebabkan partai-partai yang sebelumnya berseberangan kini berkoalisi demi meraih kursi kekuasaan.
Dalam situasi ini, suara rakyat kerap kali diabaikan, dan kita patut bertanya: apakah partai-partai politik benar-benar memperjuangkan kepentingan umat, atau sekadar memanfaatkan suara rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka?
Sistem demokrasi yang seharusnya menjadikan partai politik sebagai representasi dari aspirasi rakyat sering kali justru melahirkan kebijakan yang merugikan masyarakat.
Kita bisa melihat contohnya dalam pengesahan UU Cipta Kerja, yang banyak merugikan kaum pekerja, serta proyek-proyek seperti pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dan Kereta Cepat yang tidak menjadi kebutuhan mendesak bagi rakyat.
Kebijakan-kebijakan ini lebih banyak menguntungkan segelintir elit, termasuk para kapitalis-oligarki, ketimbang memikirkan kepentingan rakyat secara luas.
Selain itu, partai politik kerap menunjukkan sikap pragmatis dan oportunis. Demi mempertahankan atau mendapatkan kekuasaan, mereka tidak segan-segan mengorbankan nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar perjuangan, termasuk nilai-nilai Islam.
Banyak partai yang memilih bersikap ambigu terhadap isu-isu keislaman karena khawatir jika terlalu vokal mereka akan dianggap radikal dan kehilangan dukungan rakyat.
Ini menyebabkan banyak partai Islam kesulitan konsisten memperjuangkan ajaran Islam dalam ranah politik.
Padahal, dalam ajaran Islam, konsistensi dalam menegakkan kebenaran sangat penting, bahkan ketika harus berhadapan dengan penolakan dari sebagian masyarakat.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa siapa saja yang berusaha mencari ridha Allah meski menghadapi kemarahan manusia, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.
Sebaliknya, siapa saja yang lebih mengutamakan mencari ridha manusia dengan mengabaikan ridha Allah, maka Allah akan membiarkannya bergantung pada manusia.
Masalah lainnya adalah tingginya biaya yang diperlukan dalam sistem demokrasi saat ini, terutama dalam pemilihan kepala daerah. Kampanye politik yang mahal membuat partai-partai politik, termasuk partai Islam, bergantung pada dukungan para kapitalis.
Akibatnya, banyak kebijakan yang akhirnya lebih berpihak kepada oligarki daripada memperjuangkan kepentingan umat. Tingginya biaya politik juga sering kali menjadi pintu masuk bagi praktik korupsi.
Data dari ICW menunjukkan bahwa banyak kepala daerah dan anggota DPR/DPRD terjerat kasus korupsi, yang menunjukkan betapa sistem ini telah menciptakan ruang bagi penyimpangan.
Dalam konteks ini, menjadi sangat penting bagi umat Islam untuk mendukung dan membangun partai politik yang benar-benar berlandaskan pada ajaran Islam.
Partai politik Islam yang sejati seharusnya didirikan dengan tujuan untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar, dan aktivitasnya harus mencakup dakwah serta penyadaran umat terhadap berbagai ancaman yang dihadapi, baik dari ideologi selain Islam maupun konspirasi negara-negara adidaya.
Partai semacam ini tidak hanya berfokus pada perolehan suara atau kursi kekuasaan, tetapi lebih pada bagaimana membangun opini umum yang kuat agar umat Islam dapat secara sadar menuntut penerapan syariah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa partai politik Islam harus didasarkan pada akidah Islam dan setiap anggotanya harus terikat dengan syariah.
Tujuan utama dari partai ini adalah menegakkan Islam, bukan sekadar memenangkan kontestasi politik. Partai ini harus terus konsisten menyerukan dakwah, membongkar kebatilan ideologi selain Islam, dan memperingatkan umat tentang bahaya yang dihadapi.
Dengan demikian, partai ini mampu membangun kesadaran umat untuk memperjuangkan penerapan syariah secara menyeluruh.
Karakter utama dari partai politik Islam yang sejati adalah berkhidmat kepada Islam dan melayani kepentingan umat tanpa tergoda oleh kepentingan pragmatisme.
Partai semacam ini harus tetap setia pada prinsip-prinsip Islam, meskipun menghadapi tantangan dan penentangan dari berbagai pihak.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan dengan tetap konsisten menyampaikan Islam meski banyak pihak yang menentangnya.
Oleh karena itu, dalam situasi politik yang penuh dengan intrik dan kepentingan, umat Islam membutuhkan partai politik yang benar-benar berjuang demi tegaknya Islam dan kepentingan umat, bukan sekadar mengejar kekuasaan semata. Wallahu ‘alam.





