Fa Aina Taz’habun: Kemana Kamu Akan Pergi?

 

Oleh Noorwaidah Arifin*

Dalam setiap perjalanan hidup, ada pertanyaan yang tak terelakkan: Fa Aina Taz’habun—”Maka, ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26).

Kalimat ini menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk senantiasa berpikir tentang arah hidupnya, pilihan yang diambil, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Di jalur menuju Pangandaran, sebuah masjid bertuliskan Fa Aina Taz’habun seakan memberikan peringatan bagi setiap pelintas jalan. Namun, pertanyaan ini tidak hanya berlaku dalam perjalanan fisik, tetapi juga dalam perjalanan kehidupan.

Kisah Hasan: Perjalanan Mencari Arti Hidup

Hasan adalah seorang pria asal Karawang, Jawa Barat. Dahulu, ia bekerja di sebuah perusahaan, tetapi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan status sebagai tulang punggung keluarga dan suami yang baru menikah, ia dihadapkan pada pilihan sulit. Demi menyambung hidup, ia menerima tawaran bekerja sebagai office boy (OB) di Madinah Al-Munawwarah.

Meninggalkan tanah air, sanak saudara, istri tercinta, dan orang tua yang sudah renta bukanlah keputusan mudah. Namun, ia meyakini bahwa rezeki dan kesempatan harus diperjuangkan. Di tanah suci, Hasan bekerja dekat dengan masjid, tempat ia sering mendengarkan ceramah para ustadz.

Ketika saya bertanya, “Hasan, tak ingin pulang ke tanah air?”

Ia menjawab dengan mata berkaca-kaca, “Tentu saja ingin, Bu. Pulang itu nomor satu. Tapi saya harus bersabar. Saya ingat nasihat para ustadz, bahwa dalam hidup kita harus siap menghadapi tantangan dengan sikap yang benar.”

Dari kisah Hasan, ada tiga pelajaran penting yang dapat kita renungkan:

1. Sabar dan Tabah dalam Menghadapi Ujian Hidup

Seperti kisah Nabi Ayyub AS yang diuji dengan kesulitan luar biasa, manusia juga harus bersabar dalam menghadapi ujian. Tidak ada perjalanan hidup yang selalu mulus. Hasan menerima nasibnya dengan tabah dan menjadikannya sebagai jalan untuk bertumbuh.

Baca Juga:  Saat Daun Gugur Satu: Kisah Puitis tentang Perpisahan dan Kepulangan

2. Optimisme dan Percaya Diri dalam Mengatasi Kesulitan

Ketika menghadapi keterbatasan ekonomi, keterasingan di negeri orang, dan tekanan mental akibat rindu kampung halaman, Hasan tetap optimis. Ia yakin bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286).

3. Terbuka terhadap Perubahan dan Kesempatan Baru

Hasan memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan. Ia tidak hanya meratapi nasib, tetapi berani mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perjalanan Menuju Ilahi

Kisah Hasan mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Ke mana pun kita melangkah, pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya. Maka, setiap langkah yang diambil seharusnya mengarah pada kebaikan dan keberkahan.

Pertanyaan Fa Aina Taz’habun seharusnya selalu kita renungkan: ke mana arah hidup kita? Apakah kita bergerak menuju ridha Allah atau justru tersesat dalam hiruk-pikuk dunia?

Karena pada akhirnya, tidak ada tempat kembali selain kepada-Nya.

*Penulis adalah mahasiswi KPI semester VIII

 

Editor: Nurdin Qusyaeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *