Website Berita dan Opini
Indeks
Media  

Mengubah Tren Menjadi Konten Dakwah Kreatif

 

Oleh Yuyun Asymiawati*

 

Zaman sekarang, cukup scroll sebentar di media sosial—Instagram, TikTok, X (dulu Twitter)—kita langsung disuguhi lautan tren. Ada challenge joget yang viral, outfit-of-the-day yang serba estetik, sampai gaya hidup “self healing” yang katanya menyembuhkan luka batin tapi diam-diam bikin dompet menipis sekaligus krisis.

Tidak ada yang salah dengan tren-tren ini, selama tidak melanggar batas syariat. Tapi pernah nggak sih, kita mikir lebih jauh: dari mana asal tren-tren ini? Apa makna di baliknya? Dan yang paling penting, kita bisa ngapain dengan tren ini?

Sayangnya, banyak di antara kita yang lebih semangat mengikuti tren dibanding menyimak konten dakwah. Buka explore, yang muncul justru hiburan, bukan pencerahan. Padahal, konten dakwah juga bisa lho tampil keren, menarik, dan menyentuh—asal dikemas dengan cara yang relate sama keseharian anak muda. Sayangnya, masih banyak anggapan bahwa konten dakwah itu kaku, berat, atau “nggak cocok buat FYP.”

Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan tentang fenomena ikut-ikutan ini jauh sebelum era digital. Beliau bersabda:

Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan sekadar peringatan, tapi panggilan agar umat Islam punya prinsip dalam bersikap. Bukan anti tren, tapi jangan jadi generasi yang hanya mengekor tanpa filter. Kita perlu bijak memilah mana tren yang sekadar lucu-lucuan, mana yang mengandung simbol budaya atau ritual agama lain. Misalnya, gerakan tangan yang viral padahal ternyata bagian dari doa agama tertentu, atau ucapan populer yang secara makna bertentangan dengan tauhid.

Baca Juga:  Idealisme dan Realisme Dakwah: Perspektif Sosiologi

Sebaliknya, kita bisa balik arah: menjadikan tren sebagai jalan dakwah. Contohnya? Salaman saat Idul Fitri. Itu bukan tren luar, tapi tradisi Islami yang mengandung makna mendalam—memperkuat ukhuwah, saling memaafkan, dan mendoakan. Kalau dikemas dengan visual yang hangat, storytelling yang menyentuh, atau video singkat yang relatable, bisa banget lho jadi konten yang viral sekaligus bermakna!

Jangan alergi dengan medsos. Justru medsos itu ladang pahala yang luar biasa luasnya, asal kita pandai menanam. Dakwah bukan hanya lewat mimbar atau khutbah, tapi bisa hadir lewat reels, thread, tweet, podcast, carousel, bahkan konten lifestyle. Misalnya:

  • Buat yang suka desain, coba bikin kutipan ayat atau hadis dengan visual estetik.
  • Yang suka nulis, bisa share refleksi pribadi, cerita hijrah, atau tips hidup sehat ala Nabi.
  • Yang doyan jalan-jalan, bisa angkat sisi sejarah Islam dari kota yang dikunjungi.
  • Yang hobi masak, bisa berbagi resep halal dan sunnah food ala Rasulullah SAW.

 

Bayangkan, satu konten kecil yang kamu buat bisa jadi sebab hidayah bagi ribuan orang yang melihat. Satu video bisa jadi pintu tobat seseorang. Satu postingan bisa membangkitkan semangat hijrah. Dan semua itu tercatat sebagai amal jariyah.

Mari jadi bagian dari perubahan. Jangan hanya jadi penonton tren, tapi jadilah penggerak konten kebaikan. Jangan cuma ikut-ikutan, tapi pahami apa yang kita ikuti. Jangan hanya viral, tapi pastikan bernilai dan berdampak.

Kalau bukan kita yang memproduksi konten dakwah, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Mulai dari yang kecil. Satu konten, satu pesan, satu aksi. Cukup jadi diri sendiri, tapi versi terbaik yang membawa cahaya. Yuk, bikin medsos kita jadi ladang pahala!

Baca Juga:  Pemuda, Pena, dan Panggung Dakwah: Kilas Balik Talkshow HIPA ‘25 Pesantren Persis Pajagalan

Tag teman-temanmu. Ajak bareng-bareng. Dakwah itu bukan tugas ustaz dan ustazah saja—tapi tugas kita semua, para digital native yang ingin surga tak hanya diraih, tapi juga dibagikan.

*Penulis adalah mahasiswi KPI Tamhied Semester VI.

Editor Nurdin Qusyaeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *