Skandal Korupsi Bank BJB yang Tenggelam oleh Drama Lisa Mariana

Data Google Trends menunjukkan bahwa perhatian publik lebih tersita pada drama personal Lisa Mariana, sementara dugaan korupsi Bank BJB justru luput dari sorotan.

Kasus Korupsi BJB
Lisa Mariana Ketika Diperiksa KPK, 22 Agustus 2025 (Foto: TribunNews)

Oleh Ihsan Nugraha

Di tengah riuhnya perbincangan publik sepanjang Agustus 2025, ada ironi yang patut kita renungkan. Sebuah kasus besar dengan dugaan kerugian negara hingga Rp222 miliar—yakni kasus korupsi Bank BJB—nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk pemberitaan tentang seorang perempuan bernama Lisa Mariana.

Kita seolah menyaksikan bagaimana gosip personal berhasil menutupi pembahasan serius soal tata kelola dana publik. Pertanyaannya, apakah kita sedang menghadapi krisis perhatian publik, atau justru ini bagian dari strategi komunikasi untuk mengalihkan isu?

Kasus Korupsi BJB: Ratusan Miliar yang Hilang

KPK telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini, terdiri dari dua pejabat internal BJB dan tiga pihak eksternal dari agensi iklan. Dugaan penyimpangan terjadi dalam pengadaan iklan dan promosi Bank BJB periode 2021–2023.

Dari total anggaran sekitar Rp409 miliar, hanya sebagian kecil yang digunakan sesuai mekanisme. Selebihnya, sekitar Rp222 miliar diduga mengalir ke jalur yang tidak semestinya. Skema ini mirip dengan pola klasik: mark-up, penunjukan langsung tanpa prosedur, hingga penggunaan perusahaan-perusahaan yang diduga hanya sebagai “kendaraan” untuk menyalurkan dana.

KPK bahkan sempat menggeledah rumah Ridwan Kamil pada Maret 2025, menyita sejumlah dokumen dan barang. Namun, sampai hari ini, posisinya masih sebatas nama yang disebut-sebut dalam proses penyidikan. Tidak ada status hukum yang jelas melekat padanya, selain fakta bahwa lingkaran dekatnya turut diperiksa.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji 2024 dan Kerugian Negara Triliunan Rupiah

Masuknya Nama Lisa Mariana

Di sinilah dinamika publik berubah. Lisa Mariana dipanggil KPK sebagai saksi pada 22 Agustus 2025. Publik berharap keterangan Lisa bisa memberi gambaran tentang jalur aliran dana atau keterlibatan tokoh-tokoh penting di balik layar.

Namun yang terjadi justru berbeda. Media, terutama platform digital dan infotainment online, lebih memilih menyoroti isu personal: hubungan Lisa dengan Ridwan Kamil, bahkan sampai urusan tes DNA. Dalam sekejap, gosip personal jauh lebih populer dibanding pembahasan tentang Rp222 miliar dana publik yang raib.

Data Google Trends memperlihatkan fakta yang mencolok. Sepanjang Agustus 2025, pencarian terkait “Lisa Mariana” melonjak tajam, jauh melampaui pencarian “kasus korupsi BJB” atau “korupsi Bank BJB”.

Artinya, dalam kesadaran publik digital, drama personal jauh lebih menarik dibanding dugaan penyalahgunaan dana publik dalam skala besar.

Mengapa Gosip Menang dari Korupsi?

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ada beberapa alasan mengapa gosip personal selalu lebih mendominasi:

  • Sederhana dan emosional. Orang lebih mudah mengikuti cerita personal daripada membaca data pengadaan iklan atau audit keuangan.
  • Ada figur yang jelas. Publik lebih mudah melekatkan perhatian pada wajah dan nama seseorang, dibanding angka-angka.
  • Efek distraksi. Tidak menutup kemungkinan bahwa sorotan besar ke isu personal juga menguntungkan pihak-pihak yang ingin meredam sorotan terhadap substansi kasus.

Dampak yang Kita Abaikan

Ada konsekuensi besar ketika isu korupsi tenggelam dalam gosip.

  • Akuntabilitas publik melemah. Ratusan miliar rupiah berpotensi hilang tanpa pertanggungjawaban serius.
  • Reformasi tata kelola terbengkalai. BJB sebagai salah satu BUMD terbesar di Jawa Barat seharusnya menjadi teladan transparansi, bukan justru sarang masalah.
  • Publik kehilangan daya kritis. Ketika perhatian diarahkan ke gosip, kita melupakan inti persoalan: sistem pengadaan yang rentan, lemahnya pengawasan, dan potensi keterlibatan aktor-aktor politik besar.
Baca Juga:  Permintaan Kuasa Hukum PT BDS Soal Akses Dokumen, Praktisi Hukum Ingatkan Hati-Hati

Mengembalikan Fokus ke Substansi

Sebagai warga negara, kita tentu berhak tahu bagaimana uang publik dikelola. Kasus korupsi Bank BJB seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola BUMD, memperkuat mekanisme audit, dan memastikan bahwa dana ratusan miliar tidak hilang begitu saja.

Sayangnya, hingga hari ini, kita justru sibuk membicarakan hal-hal di luar substansi. Pertanyaan besar yang tersisa: apakah ini karena kecenderungan media mengikuti selera pasar, atau ada upaya sistematis untuk menenggelamkan kasus besar dengan isu personal?

Apapun jawabannya, publik perlu menuntut agar KPK menuntaskan kasus ini hingga terang benderang. Gosip akan berlalu, tetapi korupsi BJB adalah soal masa depan keuangan daerah dan kepercayaan publik terhadap institusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *