Website Berita dan Opini
Indeks

Ramadhan Terakhir: Sebuah Kenangan untuk Teteh

Ramadhan terakhir: Kenangan untuk Teteh
Gambar dibuat oleh nenk Meta

 

Oleh Rina Setiawati

Seandainya aku tidak menyadari adanya takdir yang telah ditetapkan, mungkin aku akan memberanikan diri mengadu kepada-Mu, yaa Rabb… Mengapa harus Teteh yang Kau panggil pulang terlebih dahulu? Mengapa harus dia, sosok yang begitu baik, tidak hanya kepadaku tetapi juga kepada siapa pun yang mengenalnya?

 

Teteh adalah saudara perempuanku yang paling dekat dalam hidupku. Kami tumbuh bersama sejak kecil, berbagi tawa dan air mata, hingga kami sama-sama menjalani kehidupan berumah tangga. Namun, seiring waktu yang terus berjalan, satu hal yang tak pernah berubah adalah sifat mulianya—kesabaran yang luar biasa, kasih sayang yang melimpah, kelapangan hati untuk memaafkan, dan keengganan menyakiti hati siapa pun.

Teteh selalu memilih menanggung luka di dalam diam, menyembunyikan kepedihannya dalam relung hati terdalam, agar orang lain tak perlu ikut merasa sedih. Mungkin, justru karena kebiasaan itulah penyakit berat itu bersarang dalam tubuhnya—kanker payudara yang perlahan tapi pasti merenggut kekuatannya.

 

Ramadhan itu menjadi saksi bisu perjuangan terakhirnya. Ia sempat berbisik lirih, bahwa rasa sakit yang dideritanya sudah tak tertahankan. Dalam sisa tenaganya yang kian melemah, ia menghubungi kami semua, saudara-saudaranya, satu per satu melalui pesan singkat.

Ia meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahan, meski kami pun tahu tak ada satu pun yang patut disesali dari sosok sebaik dirinya. Tangannya sudah begitu lemah, hingga huruf-huruf pada pesan itu tertulis tak beraturan. Namun, justru dari situ kami tahu: ia sedang berpamitan. Aku membaca pesannya dengan air mata yang luruh tanpa bisa kutahan. Sungguh, aku merasa amat bersalah karena tak sempat menjenguknya untuk terakhir kalinya.

Baca Juga:  Kemdiktisaintek Luncurkan Beasiswa Doktoral untuk Dosen Indonesia

 

Saat itu, ketika suaminya menyuapinya, hanya dua suapan yang mampu ia telan. Lalu, dengan tenang dan damai, ia pergi. Seolah ia tahu, jatah rezeki dan waktunya telah sempurna—tuntas hingga titik penghabisan. Ia tak hanya menjadi istri, ibu, dan saudara, tapi juga tulang punggung bagi keluarganya.

Teteh adalah seorang guru sekolah dasar yang penuh dedikasi. Setiap hari, ia bergulat dengan waktu, menembus kemacetan dan sesak penumpang bus, demi mengabdikan diri kepada para muridnya. Semua itu ia jalani meski penyakit terus menggerogotinya dalam diam.

 

Kini, perjuangannya telah usai. Kami semua amat menyayanginya, namun Allah jauh lebih mencintainya. Kini, ia telah bebas dari rasa sakit, terbebas dari segala beban dunia. Ia telah kembali kepada Sang Pemilik kehidupan—Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ramadhan 2022 menjadi Ramadhan terakhirnya di dunia. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilafnya, menerima setiap amal salihnya, dan menempatkannya di tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”

Bandung, 21 Ramadhan 1446 H / 21 Maret 2025 M

*Penulis adalah mahasiswi KPI B semester VI IAI PERSIS Bandung

 

Editor Nurdin Qusyaeri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *