Agama  

Khutbah Jum’at: “Menyembelih Sifat Kebinatangan, Kebuasan, dan Kesetanan dalam Diri”

Menyembelih Sifat Kebinatangan
Pinterest

Oleh Nurdin Qusyaeri

Khutbah Pertama

.الحمد لله، الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

.أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

.أما بعد

.فيا أيها المسلمون، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mari kita tingkatkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang terwujud dalam hati yang bersih, akal yang jernih, dan amal yang saleh.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, bulan yang penuh dengan nilai pengorbanan dan ketundukan kepada Allah. Bulan di mana kita diperintahkan untuk berqurban, menyembelih hewan sebagai simbol ketaatan dan ketakwaan.

Allah SWT berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Namun, khutbah ini tidak akan sekadar membahas penyembelihan fisik hewan. Lebih dari itu, kita akan menyelami makna spiritual di balik qurban, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya’ as-Sa’adah.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat empat unsur kekuatan:

  1. Sifat kebinatangan (syahwat) – Quwwatun Bahiimiyyah
  2. Sifat kebuasan (amarah) – Quwwatun Subuuiyyah
  3. Sifat kesetanan (tipu daya dan makar) – Quwwatun Syaithaniyyah
  4. Sifat kemalaikatan (ketaatan dan kedekatan kepada Allah)

Tiga yang pertama harus kita sembelih. Yang terakhir harus kita tumbuhkan.

1. Sifat Kebinatangan (Syahwat)

Ini adalah dorongan untuk hidup hanya demi makan, minum, seks, dan kesenangan dunia. Jika manusia tidak menundukkan syahwatnya, maka ia tak beda dengan binatang ternak.

Allah berfirman:

“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Qurban adalah pengingat agar kita menyembelih syahwat dalam diri. Kita harus bertanya:

Mungkin kita menyembelih sapi, tapi masih memelihara kerakusan?

Mungkin kita menyembelih kambing, namun masih menjadi hamba syahwat?

2. Sifat Kebuasan (Amarah)

Sifat ini mendorong manusia menjadi agresif, kejam, menindas, menyerang, bahkan membunuh dan haus kuasa. Ini yang menjadikan orang sanggup memfitnah, menyakiti, merampas hak orang lain, memperkosa, atau membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat, yang membuat anak-anak sekolah pingsan, masuk RS.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan amarahnya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka qurban adalah momen kita bertanya:

Apakah kita hanya menyembelih domba, tapi masih menyimpan dendam dan kebuasan dalam hati?

3. Sifat Kesetanan (Tipu Daya dan Makar)

Ini adalah sifat penuh kelicikan, manipulasi, kebohongan, dan makar.
Iblis tidak makan dan tidak kawin, tapi ia tetap sesat karena sombong dan merasa lebih mulia dari Adam.

Allah berfirman:

“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, dan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Sifat ini melahirkan pemimpin zalim, pengusaha culas, pejabat korup, dan oknum yang menipu rakyat. Kita harus menyembelih sifat ini dengan kejujuran dan ketulusan.

Ma’asyiral Muslimin,

Jangan kita bangga menyembelih hewan qurban, sementara dalam diri kita masih hidup sifat-sifat hewani dan setani. Sesungguhnya yang Allah terima bukan darah dan dagingnya, tapi ketakwaan hati kita.

Allah berfirman:

“Daging dan darah hewan qurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Khutbah Kedua

….الحمد لله، و الشكر لله، ولا حول ولا قوة الا بالله

Hadirin Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah,

Setelah menyembelih tiga sifat itu, kita harus menumbuhkan sifat keempat, yaitu:

4. Sifat Kemalaikatan

Inilah sifat yang membuat manusia lebih tinggi dari malaikat:

Jujur, Bersih, Adil, Sabar, Istiqamah, dan Taat pada Allah.

Nabi Ibrahim dan Ismail adalah teladan insan-insan malaikati: mereka tunduk total pada perintah Allah, bahkan ketika harus menyembelih yang dicinta.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung.” (QS. As-Saffat: 106–107)

Maka mari kita qurbankan bukan hanya hewan, tapi juga ego kita, dendam kita, kesombongan kita, dan segala bentuk kezaliman dalam hati kita.

Pesan Penutup: Kepedulian pada Sesama

Di tengah dunia yang penuh luka, saudara-saudara kita di Palestina masih hidup dalam penjajahan, penindasan, dan penderitaan.

Apakah kita hanya menyembelih kambing, tapi tidak peduli pada jeritan anak-anak Gaza?

Qurban sejati adalah ketika kita mengulurkan tangan, menyuarakan keadilan, dan melawan kezaliman—baik dengan harta, kata, maupun doa.

Nabi bersabda:

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penutup

Mari kita jadikan momen menjelang Idul Adha ini sebagai waktu muhasabah dan tazkiyah: menyucikan jiwa dari sifat kebinatangan, kebuasan, dan kesetanan.

Mari menjadi insan-insan malaikati yang tunduk, taat, dan peduli.

Allah berfirman:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Baca Juga:  Keistimewaan dan Sunnah Hari Jumat dalam Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *