Website Berita dan Opini
Indeks
Puisi  

Ketika Isi Kepala Menari di Tengah Sempitnya Waktu

Menulis di tengah kesibukan bukan hal mudah. Namun justru di sela waktu yang sempit, inspirasi kerap hadir tanpa permisi.

Menulis di Tengah Kesibukan
Gambar Ilustrasi

Oleh Popi Sri Mulyani*

Di sela ruang yang sempit,
di antara detik yang berlari tanpa peduli,
tiba-tiba ide bermunculan—
menari-nari dalam kepala,
seperti anak-anak yang tak sabar ingin bermain hujan.

Kadang mereka riuh,
berisik,
mendesak minta ditumpahkan ke dalam kata,
ke dalam kalimat yang utuh,
agar tak lenyap ditelan lupa.

Menulis menjadi jalan sunyi yang gaduh,
tempat segala kegelisahan menjadi hikmah,
tempat setiap tanya menemukan makna,
tempat isi kepala yang semrawut
berubah jadi lukisan utuh di atas kertas putih.

Kadang kita kesal—
kenapa datangnya tak bisa diatur,
kenapa harus muncul di waktu yang tak lapang.
Namun justru di situlah letaknya anugerah:
di tengah gelisah, lahirlah karya.

Sebab kepala ini tak selalu penuh,
tak selalu gaduh,
dan saat ia bicara,
kita harus siaga,
menjadi perantara bagi suara-suara yang meminta abadi
melalui aksara yang tak akan mati.

Menulis bukan sekadar pelarian,
melainkan perayaan
dari kekacauan yang berhasil dijinakkan,
dari kesempitan yang akhirnya melahirkan kelapangan,
dari ide yang tak hanya numpang lewat,
tapi diabadikan—jadi jejak.

Karena siapa tahu,
besok isi kepala ini sunyi,
dan tak ada lagi yang menari.

“Jangan tunggu waktu longgar, sebab inspirasi tak kenal jadwal. Ia datang tak diundang, dan menulis adalah cara menyambutnya dengan penuh kehormatan.”

*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung

Baca Juga:  Ketika Cinta Tanpa Ketakutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *