
Oleh Popi Sri Mulyani*
Mungkin…
ia tidak sedang tidur.
Ia hanya memejamkan mata,
berharap dunia diam sejenak.
Berharap waktu berhenti, walau sesaat.
Karena letihnya sudah menembus tulang,
dan beban di kepalanya sudah berisik bagai badai yang tak kunjung reda.
Ia duduk di sudut ruangan—kosong, sepi,
ditemani sunyi yang menggantung di langit-langit.
Tidak ada musik, tidak ada suara,
hanya detak jantung yang tersengal menahan segala rasa.
Ia lelaki…
yang dunia paksa untuk kuat sejak ia bocah.
Yang tidak diberi ruang untuk menangis,
yang tidak diajarkan bagaimana cara meminta tolong,
yang tidak pernah diajak bicara tentang luka.
Ia lelaki…
yang tak pernah mengeluh di hadapanmu,
padahal setiap hari ia menggenggam pecahan hidup yang tajam,
melangkah di atas harapan yang retak,
menelan kecewa tanpa jeda.
Setiap malam ia pulang membawa tubuh yang nyaris rubuh,
tapi masih menyempatkan senyum untuk anak-anaknya.
Masih menanyakan kabarmu—meski tak satu orang pun menanyakan kabarnya.
Masih mengurungkan keluhnya—karena ia tahu,
dunia tidak menyediakan tempat aman untuk air matanya.
Bu,
lelaki itu tidak sedang baik-baik saja.
Tapi ia takut menyuarakannya.
Karena ia pikir, jika ia bicara, segalanya akan ambruk.
Jika ia jujur, semua orang akan kecewa.
Padahal… mungkin hanya butuh satu pelukan.
Satu kalimat lembut: “Tak apa kalau kamu lelah, aku di sini.”
Bayangkan,
berapa banyak kisah yang ia pendam?
Berapa banyak luka yang tak pernah ia obati?
Berapa malam yang ia habiskan dengan menggigil dalam diam?
Dan pagi harinya, ia tetap bangun,
dengan wajah yang kamu kira tegar,
padahal itu cuma topeng.
Mungkin bukan uang yang ia cari,
tapi pengakuan bahwa perjuangannya tidak sia-sia.
Mungkin bukan pujian yang ia mau,
hanya tempat aman untuk ia rebah.
Karena tak ada yang lebih menyesakkan,
daripada menjadi kuat hanya karena tak punya pilihan untuk lemah.
Jadi tolong…
kalau suatu hari kau melihatnya duduk terdiam,
jangan suruh ia bangkit,
jangan paksa ia menjelaskan.
Cukup duduk di sampingnya,
dan bisikkan pelan:
“Hari ini tak perlu jadi pahlawan… cukup jadi dirimu, itu pun sudah sangat hebat.”
Tulisan ini bukan hanya untuk para lelaki,
tapi untuk siapa saja yang pernah menanggung dunia dalam diam.
Untuk mereka yang terlihat paling kokoh,
padahal hatinya nyaris roboh.
Karena kadang… yang paling kuat pun bisa rapuh.
Yang paling banyak memberi pun ingin dipeluk.
Yang selalu ada pun ingin dicari.
*Penulis adalah Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung






