
Oleh: Popi Sri Mulyani
Dalam dinamika sebuah hubungan, baik itu suami-istri, orang tua-anak, maupun pertemanan, komunikasi adalah fondasi utama yang menjaga keharmonisan dan saling pengertian.
Namun, tidak jarang terjadi konflik, salah satu pihak memilih diam dan tidak merespons—sebuah perilaku yang dikenal sebagai silent treatment. Meski terlihat sepele, perlakuan diam ini bisa menjadi bentuk kekerasan emosional yang merusak hubungan dan kesehatan mental.
Artikel ini akan membahas bahaya silent treatment dari sisi psikologis dan perspektif Islam.
Apa Itu Silent Treatment?
Silent treatment adalah perilaku menolak untuk berbicara, berinteraksi, atau mengakui keberadaan orang lain sebagai bentuk hukuman atau ekspresi kemarahan. Ini berbeda dari “time-out” atau mengambil waktu untuk menenangkan diri, karena silent treatment dilakukan untuk menyakiti atau mengontrol pihak lain secara emosional.
Dalam psikologi, ini bisa dianggap sebagai mengungkapkan emosi atau kekerasan emosional yang tersembunyi.
Bahaya Silent Treatment dalam Psikologi
1. Menghancurkan Kepercayaan dan Koneksi Emosional
Diam yang berkepanjangan menciptakan jarak emosional, membuat pasangan merasa ditolak dan tidak dihargai. Hal ini bisa mengikis rasa aman dan kepercayaan dalam hubungan.
2. Meningkatkan Stres dan Kecemasan
Korban silent treatment sering kali merasa bingung, cemas, bahkan merasa bersalah meskipun tidak tahu apa kesalahan mereka. Ketidakpastian ini memicu stres berkepanjangan.
3. Menghambat Penyelesaian Masalah
Tidak adanya komunikasi membuat konflik tetap menggantung dan tidak terselesaikan. Ini bisa menumpuk masalah menjadi lebih besar di kemudian hari.
4. Merusak Harga Diri
Perlakuan diam dapat membuat seseorang merasa tidak penting atau tidak layak untuk diajak bicara. Seiring berjalannya waktu, hal ini dapat memunculkan rasa percaya diri dan harga diri seseorang.
Silent Treatment dalam Perspektif Islam
Islam adalah agama yang sangat menekankan pentingnya komunikasi, kasih sayang, dan penyelesaian konflik secara damai. Perilaku silent treatment, jika dilakukan dengan maksud menyakiti atau menghukum, bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
1. Larangan Memutus Komunikasi Lebih dari Tiga Hari
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu dan saling berkomunikasi. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam.”
(HR. Bukhari no. 6077 dan Muslim no. 2560)
Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak membenarkan pemutusan komunikasi yang berlarut-larut, karena dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan.
2. Anjuran Berdamai dan Saling Memaafkan
Dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini menjadi dasar untuk selalu mengupayakan rekonsiliasi, bukan saling diamkan.
3. Contoh Rasulullah SAW dalam Menghadapi Konflik
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang penyayang dan komunikatif, bahkan ketika menghadapi konflik dengan para istri beliau. Tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan Rasulullah memberikan perlakuan diam sebagai hukuman emosional.
Kapan Diam Dibolehkan dalam Islam?
Diam dalam Islam bisa menjadi ibadah jika bertujuan untuk menghindari konflik atau berkata kasar. Misalnya ketika seseorang sedang emosi, Nabi SAW bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian marah, maka diamlah.” (HR.Ahmad)
Namun, diam ini bersifat sementara untuk menenangkan diri, bukan untuk menyiksa secara emosional atau menghindari penyelesaian masalah.
Cara Sehat Mengatasi Konflik Menurut Islam
1. Saling Menasihati dengan Lemah Lembut
QS. An-Nahl: 125 – “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
2. Musyawarah dalam Keluarga
QS. Asy-Syura: 38 – “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…”
3. Mengendalikan Emosi dan Sabar
QS. Ali Imran: 134 – “…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain…”
Maka Silent treatment bukan hanya bentuk kekerasan emosional yang berbahaya dalam perspektif psikologis, namun juga bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang, komunikasi, dan penyelesaian konflik secara damai.
Islam mendorong umatnya untuk tidak menyimpan dendam, memutus komunikasi, atau menyakiti sesama secara emosional, melainkan untuk saling memaafkan dan membangun hubungan yang sehat dan saling menghormati.
Moga manfaat.





