Website Berita dan Opini
Indeks

Bertemu Abah Jujun Junaedi: Sing Jadi “Sarjana Jadi”

Abah Jujun Junaedi
Foto Dokpri Parihah: KH. Jujun Junaedi, berfoto dengan Hendi Rustandi dan para peserta Praktik Kerja Profesi, IAI PERSIS Bandung di Pusdai Jabar.

Oleh Parihah*

Siang itu ada yang berbeda di Pusdai Jawa Barat. Bagi kami mahasiswa IAI Persis Bandung yang tengah menjalani Praktik Kerja Profesi (PKP), hari terahir seharusnya hanya di tutup dengan agenda formal.

Namun takdir Allah menghadirkan kejutan yang begitu berkesan, kami dipertemukan langsung dengan sosok Ketua DKM Pusdai Jabar yang baru dilantik, yaitu KH. Dr. Jujun Junaedi, M.A., atau yang akrab disapa Abah Jujun Junaedi.

Selama ini, sosok Abah Jujun hanya kami lihat di layar kaca saja lewat program “Damai Indonesiaku” TV One. Namun kali ini Qodarulloh kami duduk langsung di ruang kerjanya. Dengan ramah beliau menyambut kami, meski tengah dalam kondisi tak sehat-serangan strok yang kedua kalinya masih beliau derita.

Wajahnya tetap teduh, senyum tulus dan tutur katanya penuh kehangatan dan terkadang diselingi canda yang membuat kami tergelak.

Baca Juga:  Dari Teori ke Praktik: Mahasiswa KPI IAI Persis Bandung Sukses Menjalani PKP di Pusdai Jawa Barat

Dalam perbincangan singkat itu, Abah menyampaikan sebuah nasihat yang akan selalu kami kenang.

“Sing jadi Sarjana jadi” ucap beliau sambil menatap kami dengan penuh makna

Beliau menjelaskan, ada Sarjana yang “Hanya jadi sarjana”sekedar gelar, sekedar ongkos,tanpa makna. Namun yang lebih mulia adalah “Sarjana Jadi”, Yaitu seorang Sarjana yang mumpuni, yang kesarjanaannya bisa dipertanggung jawabkan dihadapan manusia dan terutama di terutama di hadapan Allah

Abah kemudian mengutip sebuah hadits:

Al-adabu fawqol ilmi”

“Adab itu berada diatas ilmu”

Beliau menegaskan, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula ketundukannya kepada Allah SWT

“Profesor itu seharusnya lebih soleh daripada doktor, doktor lebih saleh darpada MA, MA lebih saleh daripada sarjana, dan sarjana lebih soleh daripada lulusan SMA,” tuturnya.

Lebih jauh abah mengaitkan petuahnya dengan ayat Al-Quran tentang Ulul Albab,

Yaitu orang orang yang selalu berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. “Apa dulu mikir dulu apa zikir dulu? Harusnya zikir dulu. Karena banyak pemikir yang tidak zikir jadinya ngaco,” ujarnya sambil menekankan bahwa dzikirlah yang menuntun pemikiran menuju Tauhid.

“Sing Saroleh…”

Sore itu, kami pulang dengan hati yang lebih lapang. Pertemuan singkat di hari terahir PKP menjadi pelajaran berharga bagi kami.

Dari Abah Jujun Junaedi kami belajar bahwa Ilmu tidak sekedar gelar, tapi harus menjadi Cahaya yang menuntun Ahlak, Ibadah dan Ketaatan kepada Allah.

Moga bermanfaat.

*Penulis adalah mahasiswa KPI B semester VII

Responses (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *