
Oleh Nisa Gustiani*
Hidup ini, sesungguhnya, tak pernah benar-benar ideal bagi siapa pun. Bahkan bagi insan paling mulia yang pernah menapaki bumi ini: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau adalah bunga dengan keharuman abadi, cahaya yang tak pernah redup, namun tetap harus melewati deras hujan, badai, dan gelap malam.
Di tengah tubuh sehatnya, beliau tetap merasakan sakit. Di tengah lantunan pujian umatnya, beliau tetap menerima caci maki, kebencian, pengkhianatan, bahkan upaya pembunuhan. Bayang-bayang kelam selalu mencoba menutup sinarnya.
Namun, Rasulullah tetap tegak sebagai teladan kesabaran, ketabahan, dan pengharapan. Dari beliau, kita belajar bahwa luka tidak selalu menghapus cahaya; justru cahaya bisa semakin terang di tengah luka.
Hidup di dunia ini bukan tempat menerima gaji, melainkan ladang bekerja. Ia seperti api yang harus terus menyala, seperti benih yang harus rela tertanam dalam tanah tandus, menunggu hujan yang ditentukan-Nya. Dunia adalah tempat menanam, tempat bersabar dalam menunggu, tempat meyakini bahwa buah yang sesungguhnya baru akan dipetik di akhirat.
Janganlah silau melihat hidup orang lain yang tampak seakan tanpa gelombang. Kapal yang terlihat berlayar di laut tenang, siapa tahu sedang menahan badai di dalam ruang mesin. Setiap jiwa pasti diuji. Allah telah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).
Seperti guru bijak yang tak pernah memberi soal SMA kepada murid SD, demikian pula Allah Yang Maha Mengetahui. Ia menguji sesuai kadar kemampuanmu, sesuai luasnya wadah hatimu. Maka, ketika ujian itu datang, yakinlah: Allah sudah menakar bahwa engkau mampu melewatinya.
Namun sering kali, kita menutup mata pada luasnya nikmat hanya karena tertutup satu cobaan kecil. Ketika perutmu sakit, kau menggerutu, padahal jantungmu tetap berdetak, matamu tetap melihat, kakimu tetap melangkah. Hanya karena satu bagian tubuh terganggu, kau lupa betapa banyak anugerah lain masih bekerja untukmu.
Maka, berdamailah dengan apa yang telah terjadi. Pahit atau manis, semua adalah bagian dari takdir Allah yang terbaik. Dunia bukan tempat balasan, melainkan tempat belajar menerima. Jika engkau bersabar, pahala sabar itu lebih luas dari samudera. Jika engkau berserah, hidupmu akan terasa lebih ringan, sebab bebanmu telah kau titipkan pada Allah.
Takdir memang terkadang pahit. Tetapi jika akhirmu husnul khatimah, wafat sebagai umat Rasulullah, maka seluruh kepahitan itu akan menjelma manis. Sebaliknya, semanis apa pun hidupmu di dunia, jika akhirnya berujung su’ul khatimah, itu tak lain hanyalah racun yang dibungkus madu.
Hidup ini bukan tentang menghapus luka, melainkan tentang bagaimana kau berdamai dengannya. Bukan tentang menolak takdir, melainkan menata hati agar lapang menerima. Selama akhir hidupmu masih dalam genggaman iman, maka seluruh perjalananmu adalah indah, meski penuh air mata.
Maka, tataplah apa pun yang terjadi dengan hati tenang, dengan jiwa lapang, dengan sabar yang terus kau rawat. Karena bersama sabar, di situlah ada kemuliaan.
Baarakallaahu fiikum
*Penulis adalah mahasiswa KPI semester VII
Editor: Nurdin Qusyaeri





