Reshuffle Kabinet: Politik Bersih atau Bersih-Bersih Politik?

Reshuffle Kabinet
Foto Penulis (Dokpri)

Oleh Hendi Rustandi*

Setiap kali reshuffle kabinet diumumkan, jargon “bersih-bersih” kembali digembar-gemborkan. Manis di telinga, tetapi getir di kenyataan. Pertanyaan rakyat sederhana: siapa yang benar-benar dibersihkan—korupsi dan ketidakbecusan, atau lawan politik yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan?

Kursi Menteri sebagai Papan Catur

Kursi menteri terlalu sering diperlakukan seperti papan catur. Siapa yang setia dipertahankan, siapa yang rewel disingkirkan, dan siapa yang potensial diberi hadiah. Sayangnya, kinerja rakyat jarang dijadikan ukuran.

Apa alasan seorang menteri dicopot? Apa indikator seorang pengganti layak dipercaya? Semua serba gelap. Publik hanya disuguhi drama pergantian wajah tanpa penjelasan yang jujur.

Baca Juga:  Reshuffle Kabinet Prabowo: Konsolidasi Politik dan Akselerasi Program Ekonomi Rakyat

Bersih-Bersih atau Bersih-Bersih Kekuasaan?

Jika ini yang disebut bersih-bersih, maka sesungguhnya yang dibersihkan bukan masalah bangsa, melainkan ruang kekuasaan. Politik transaksional tetap hidup, budaya kompromi tetap bersemi, sementara rakyat dibiarkan dengan janji-janji kosong.

Rakyat tidak butuh pertunjukan reshuffle yang hanya jadi riasan kekuasaan. Mereka menuntut keberanian politik yang sungguh-sungguh: membersihkan korupsi, menghentikan praktik dagang kursi, dan mengembalikan jabatan publik pada marwahnya sebagai amanah, bukan komoditas.

Titik Balik atau Sandiwara Kekuasaan?

Jika reshuffle kabinet kali ini masih sekadar kosmetik, maka sejarah akan mencatatnya sebagai episode lain dari sandiwara kekuasaan. Namun, bila pemerintah berani menjadikan momen ini sebagai titik balik, rakyat berharap akan lahir menteri yang bekerja dengan hati, berpikir dengan akal sehat, dan bertindak penuh integritas.

*Penulis: Dosen KPI IAI Persis Bandung

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *