Website Berita dan Opini
Indeks
Agama  

Harta Tergantung Siapa yang Memegangnya

Harta Tergantung Siapa yang Memegangnya
Foto penulis, ustad Iwan Ridwan

Oleh Ustadz Iwan Ridwan alias UIR

Harta, dalam pandangan Islam, bukan sekadar angka dan kepemilikan. Ia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap harta akan ditanya dengan dua pertanyaan mendasar: dari mana ia diperoleh dan ke mana ia dibelanjakan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang yang shalih.”

(HR. Ahmad dan lainnya, sanad shahih)

Hadits ini memberi pesan tegas:

harta tidak pernah salah—yang menentukan adalah siapa yang memegangnya.

Di tangan orang tamak, harta melahirkan kesombongan.

Di tangan orang shalih, harta berubah menjadi jalan menuju akhirat.

Kaya, Tapi Tidak Diperbudak Kekayaan

Allah SWT menganugerahkan kekayaan kepada Zainul Abidin (Ali bin Husain). Perdagangannya selalu menghasilkan keuntungan. Tanah pertaniannya subur dan berkembang. Harta terus bertambah dari waktu ke waktu.

Namun, kekayaan itu tidak pernah mengubah cara hidupnya.

Zainul Abidin tidak larut dalam kemewahan. Ia menjadikan hartanya sebagai alat ibadah, bukan tujuan hidup.

Baginya, harta bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.

Sedekah yang Tidak Ingin Dikenal

Saat malam tiba dan Madinah terlelap, Zainul Abidin memanggul karung tepung di pundaknya. Ia keluar sendirian, menyusuri jalan gelap, mendatangi rumah-rumah fakir miskin yang menjaga harga diri—mereka yang tidak suka meminta.

Ia memberi tanpa menyebut nama.

Ia menolong tanpa ingin dikenal.

Tak heran, banyak orang miskin di Madinah yang menerima rezeki tanpa pernah tahu siapa pemberinya. Bagi mereka, bantuan itu seperti datang dari langit.

Kebenaran Terungkap Setelah Wafat

Ketika Zainul Abidin wafat, bantuan itu berhenti.

Saat itulah para fakir miskin menyadari:

dialah orang yang selama ini mengetuk pintu rumah mereka di malam hari.

Baca Juga:  Spiritualitas Haji: Ketika Perjalanan Suci Mengubah Cara Pandang Hidup

Saat jenazahnya dimandikan, tampak bekas hitam di kedua pundaknya. Orang-orang bertanya, bekas apa itu?

Jawabannya sederhana, namun mengguncang:

itulah bekas karung-karung tepung yang ia pikul ke lebih dari seratus rumah di Madinah.

Harta yang Membebaskan, Bukan Memperbudak

Zainul Abidin juga dikenal gemar memerdekakan budak.

Budak yang bekerja dengan baik ia bebaskan sebagai bentuk penghargaan.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia memerdekakan budak dalam jumlah besar.

Hartanya tidak mengikat manusia, tetapi membebaskan manusia.

Dicintai Tanpa Kekuasaan

Suatu hari, Hisyam bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, menunaikan haji. Saat hendak mencium Hajar Aswad, pengawal meminta jamaah memberi jalan. Namun tak satu pun bergeser. Di rumah Allah, semua manusia setara.

Tiba-tiba, dari kejauhan tampak seorang lelaki sederhana. Tubuhnya kecil, wajahnya bercahaya, langkahnya tenang. Orang-orang spontan membuka jalan, menyambutnya dengan penuh cinta.

Ia berjalan tenang, lalu mencium Hajar Aswad.

Ajudan Hisyam bertanya,

“Siapa orang itu?”

Hisyam menjawab singkat,

“Aku tidak mengenalnya.”

Namun Al-Farazdaq berkata pelan,

“Mungkin Amirul Mukminin tidak mengenalnya. Tapi orang-orang mengenalnya. Dialah Ali bin Husain—Zainul Abidin.”

Penutup: Ketika Harta Menjadi Cahaya

Harta yang shalih hanya akan lahir di tangan orang yang shali.

Apa pun yang Allah titipkan—kekayaan, pengaruh, atau jabatan—jika diarahkan untuk kebaikan, ia akan menjadi jalan terang menuju akhirat.

Dan menariknya, manusia akan mencintai dan menghormati orang seperti ini, meski ia bukan penguasa, bukan pejabat, dan tidak punya kekuatan duniawi.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi ke mana harta itu kita bawa.

Wallahu a‘lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *