Website Berita dan Opini
Indeks

Setan Dibelenggu, Tapi Mengapa Kita Masih Jahat?

Membongkar Dalih, Menyalahkan Diri, dan Seni Bertanggung Jawab

Setan Dibelenggu, Tapi Mengapa Kita Masih Jahat?
Ilustrasi setan dibelenggu buatan Meta

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

 

Muqaddimah: Ironi di Bulan Suci

Hari keenam. Hampir Satu pekan kita berpuasa. Secara teoretis, setan-setan sedang dibelenggu. Markas besar Iblis tutup. Para agen lapangan cuti bersama. Seharusnya ini bulan paling aman dari gangguan jahat.

Tapi realitas berkata lain.

Kemarin, saya membuka media sosial. Berita pertama: pencurian motor di siang bolong. Berita kedua: penganiayaan karena rebutan lahan parkir. Penganiayaan anak oleh ibu tiri. Berita ketiga: politikus A menyerang politikus B dengan fitnah keji. Berita keempat: komentar-komentar pedas di kolom postingan ustaz terkenal. Berita kelima: seorang artis tertangkap tangan mengonsumsi narkoba—di bulan puasa.

Saya menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu bertanya dalam hati: “Setannya sudah dibelenggu atau cuti bersama? Kalau setan tidak bekerja, siapa yang membuat semua kejahatan ini?”

Pertanyaan ini bukan pertanyaan main-main. Ia mengusik banyak orang. Bahkan para sahabat pun bertanya hal serupa kepada Rasulullah. Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, beliau bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat populer. Setiap ceramah Ramadhan pasti mengutipnya. Tapi jarang ada yang mengupas tuntas: jika setan sudah dibelenggu, dari mana datangnya kejahatan? Apakah hadis ini hanya metafora? Ataukah ada sumber kejahatan lain yang lebih dekat di banding setan?

Mari kita selami bersama. Dengan pendekatan filosofis, psikologis, teologis, dan—tentu saja—sedikit humor di sela-sela renungan.

Landasan Dalil: Membaca Ulang Hadis “Setan Dibelenggu”

Teks dan Konteks

Para ulama memiliki beberapa penjelasan tentang makna “dibelenggu” dalam hadis ini. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan beberapa kemungkinan:

Pertama, setan benar-benar dibelenggu secara fisik sehingga tidak bisa mengganggu manusia. Ini pendapat yang paling tekstual.

Kedua, setan dibelenggu dari sebagian godaan—mereka tidak bisa menggoda untuk hal-hal besar, tapi masih bisa untuk hal-hal kecil.

Ketiga, yang dimaksud adalah setan-setan tertentu, bukan semua setan. Setan-setan paling jahat dibelenggu, sementara yang lain masih berkeliaran.

Keempat, “dibelenggu” di sini adalah metafora. Karena pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, semangat ibadah manusia meningkat, sehingga setan “seolah-olah” terbelenggu—bukan karena mereka tidak bisa menggoda, tapi karena manusia tidak merespons godaan mereka.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari cenderung pada penjelasan keempat. Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “dibelenggu” adalah berkurangnya pengaruh setan, bukan hilangnya kemampuan mereka sama sekali. Ini seperti orang yang tangannya dibelenggu—ia masih bisa bergerak, tapi sangat terbatas.

Tapi ada satu penjelasan yang paling menarik, datang dari Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin. Beliau berkata bahwa setan itu berjalan dalam aliran darah manusia. Ketika manusia berpuasa, aliran darahnya melambat, ruang gerak setan pun menyempit. Ini penjelasan yang sangat fisiologis sekaligus spiritual.

Tafsir Filosofis: Antara Setan Eksternal dan Setan Internal

Konsep “Nafs” dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajarkan bahwa selain setan dari luar, manusia juga punya musuh dari dalam: nafs (jiwa) yang cenderung pada kejahatan. Allah berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini diucapkan oleh Nabi Yusuf AS—seorang nabi, seorang yang maksum (terjaga dari dosa). Tapi beliau tetap mengakui bahwa dalam dirinya ada potensi jahat.

Ini menunjukkan bahwa nafs ammarah bi as-su’ (nafsu yang menyuruh pada kejahatan) adalah realitas universal pada setiap manusia.

Imam Al-Ghazali membagi nafsu menjadi tiga tingkatan:

1. Nafs Ammarah: Nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan. Ini level paling rendah.

2. Nafs Lawwamah: Nafsu yang sudah mulai bisa membedakan baik-buruk, dan mencela dirinya sendiri ketika berbuat salah.

3. Nafs Muthmainnah: Nafsu yang tenang, mencapai kedamaian dengan mengingat Allah.

Setan eksternal hanya bisa menggoda melalui pintu nafsu internal. Jika pintu ini tertutup rapat, setan tidak punya akses. Tapi jika pintu terbuka—karena kebiasaan buruk, karena dendam, karena keserakahan—maka setan akan masuk dengan mudah.

Psikologi Modern tentang “Bayangan”

Baca Juga:  Tafsir Surat Al Mudatsir Dina Basa Sunda: Panggero Ka Nu Keur Ngagojod Kebluk

Menariknya, psikologi modern memiliki konsep yang mirip. Carl Jung, psikoanalis terkenal, berbicara tentang “bayangan” (shadow)—bagian dari kepribadian yang kita sembunyikan, yang tidak kita akui, yang berisi semua potensi gelap kita.

Semakin kita menekan bayangan ini, semakin kuat ia muncul dalam bentuk-bentuk yang tidak terkendali. Orang yang paling keras menentang korupsi, misalnya, bisa jadi justru paling rentan korupsi jika berada dalam posisi berkuasa—karena bayangannya tidak pernah dikelola, hanya ditekan.

Viktor Frankl, pendiri logoterapi, menambahkan bahwa manusia memiliki “kehendak untuk makna” (will to meaning). Ketika kehendak ini gagal terpenuhi, manusia jatuh dalam kekosongan eksistensial, dan kekosongan ini sering diisi dengan kejahatan, kekerasan, atau konsumsi berlebihan.

Dalam konteks puasa, kita bisa melihatnya sebagai terapi untuk mengelola bayangan dan mengisi kekosongan makna. Dengan menahan lapar, kita belajar mengendalikan impuls. Dengan menahan amarah, kita belajar mengelola emosi. Dengan menahan syahwat, kita belajar mengenali batas.

Perspektif Komunikasi: Siapa yang Paling Sering Disalahkan?

Fenomena Scapegoating

Dalam teori komunikasi, ada istilah scapegoating—mencari kambing hitam. Ketika sesuatu salah, kita cenderung menyalahkan pihak lain. Ini adalah mekanisme pertahanan diri paling primitif.

Di media sosial, fenomena ini merajalela. Setiap kali ada masalah, netizen langsung mencari “setan” yang bisa disalahkan. Pemerintah, koruptor, buzzer, asing, atau siapa pun yang bisa dijadikan kambing hitam. Jarang ada yang berani berkaca: mungkin saya juga bagian dari masalah.

Di bulan Ramadhan, logika ini kadang terbawa ke ranah spiritual. Kita suka menyalahkan setan atas semua dosa kita. “Duh, tadi aku marah-marah, diganggu setan kali ya.” “Aku bolos puasa, godaan setan kuat banget.”

Padahal setan sedang dibelenggu. Yang marah-marah ya kita sendiri. Yang bolos puasa ya kita sendiri. Tapi rasanya lebih nyaman menyalahkan setan daripada mengakui kelemahan diri.

Bahasa dan Konstruksi Realitas

Dalam perspektif komunikasi, bahasa yang kita gunakan membentuk cara kita berpikir. Jika kita terus berkata “saya diganggu setan”, kita sedang mengonstruksi realitas di mana kita adalah korban pasif. Kita tidak punya kendali. Kita hanya objek yang digerakkan oleh kekuatan luar.

Padahal Islam mengajarkan konsep ikhtiar (usaha) dan tawakkal (berserah). Kita bukan korban pasif. Kita adalah agen yang punya pilihan. Setan bisa menggoda, tapi kita yang memutuskan untuk merespons atau tidak.

Refleksi Psikologis: Mengapa Kita Sulit Mengakui Kesalahan?

Teori Atribusi dalam Psikologi

Psikologi sosial mengenal konsep fundamental attribution error: kecenderungan manusia untuk menjelaskan perilaku orang lain berdasarkan karakter internal, tapi menjelaskan perilaku sendiri berdasarkan faktor eksternal.

Contoh:

  • Jika orang lain marah, kita bilang “dia pemarah”.
  • Jika kita marah, kita bilang “saya sedang stres”.
  • Orang lain korupsi karena “jahat”, kita korupsi karena “terpaksa”.
  • Orang lain tidak puasa karena “malas”, kita tidak puasa karena “sibuk”.

Ini menjelaskan mengapa kita mudah menyalahkan setan. Karena setan adalah faktor eksternal paling nyaman. Dengan menyalahkan setan, kita tidak perlu mengakui bahwa kita lemah, kita tidak disiplin, kita kurang iman. Setan menjadi “kambing hitam” universal untuk semua dosa kita.

Puasa sebagai Terapi Kejujuran

Puasa melatih kita untuk jujur. Ketika puasa, kita mungkin bisa berbohong pada manusia—bilang puasa padahal makan di belakang. Tapi kita tidak bisa berbohong pada Allah.

Kita tidak bisa bilang “diganggu setan” dengan keyakinan penuh, karena setan sedang dibelenggu. Kita harus jujur: “Ya Allah, saya lemah. Saya mengeluh. Saya marah. Saya tidak bisa menahan diri.”

Kejujuran inilah yang membuka pintu taubat. Selama kita masih sibuk menyalahkan setan, kita tidak akan pernah benar-benar bertaubat. Karena taubat mensyaratkan pengakuan bahwa saya yang salah, bukan orang lain, bukan setan, bukan keadaan.

Imam Al-Ghazali berkata: “Mengakui dosa adalah setengah dari taubat. Menyalahkan orang lain adalah penghalang taubat.”

Politik “Setanisasi” Lawan

Dalam politik, strategi tertua adalah “setanisasi” lawan. Sebut lawan sebagai “setan”, “iblis”, “thaghut”, atau sebutan buruk lainnya. Dengan begitu, publik akan membenci mereka tanpa perlu argumentasi rasional.

Di Indonesia, fenomena ini marak setiap pemilu. Masing-masing kubu saling menuduh sebagai “setan”. Padahal, menurut hadis, setan sedang dibelenggu. Jadi yang saling menuduh itu manusia semua. Lucu juga: dua kelompok manusia saling mengklaim sebagai “malaikat” dan menuduh lawannya sebagai “setan”, padahal setannya sendiri sedang libur.

Baca Juga:  Dari Al-Ihsan ke Welas Asih: Pribumisasi Islam dalam Layanan Publik

Humor Ramadhan: Ketika Setan “WFH”

Sedikit humor untuk mencairkan suasana. Bayangkan jika setan punya grup WhatsApp internal.

Pagi hari, 1 Ramadhan:

Iblis: “Selamat pagi, anak-anak. Mulai hari ini kita WFH (Work From Hell). Sesuai peraturan dari atas, kita semua dibelenggu. Jadi nggak bisa ganggu manusia secara langsung. Tapi jangan khawatir, kita punya agen-agen rahasia.”

Setan Junior: “Agen rahasia apa, Bos?”

Iblis: “Namanya nafs alias hawa nafsu. Dia sudah tertanam dalam diri manusia sejak lahir. Tugas kita selama ini adalah mengaktifkan dia. Sekarang dia sudah aktif, kita tinggal libur. Dia akan bekerja sendiri.”

Setan Senior: “Tapi Bos, kalau manusia puasa, nafsu mereka melemah.”

Iblis: “Tenang, manusia itu makhluk paling mudah lupa. Begitu bedug maghrib, mereka akan makan berlebihan. Setelah kenyang, nafsu mereka balik lagi. Tinggal kita lihat mereka saling marah, saling fitnah, ghibah, saling iri. Kita nggak perlu kerja keras.”

Setan Junior: “Bos jenius!”

Iblis: “Makanya aku jadi bos. Sekarang istirahat. Jangan lupa isi absen WFH setiap hari. Yang nggak absen, potongan gaji.”

Dua pekan kemudian:

Setan Junior: “Bos, manusia pada lapor. Mereka bilang setan masih berkeliaran. Padahal kita WFH.”

Iblis: “Biarkan mereka menyalahkan kita. Daripada mereka menyalahkan diri sendiri. Selama mereka masih cari kambing hitam, kita aman.”

Renungan di Hari Keenam: Melawan “Setan” yang Sebenarnya

Hari keenam. Seperempat Ramadhan sudah berlalu. Di hari-hari awal, semangat masih tinggi. Godaan masih terasa “wajar”. Tapi memasuki hari keenam, godaan mulai membosankan. Yang muncul bukan godaan besar, tapi kejenuhan kecil. Malas, ngantuk, males gerak, males ibadah.

Inilah “setan” yang paling berbahaya: rasa malas. Ia tidak perlu menggoda dengan dosa besar. Cukup membuat kita “sedikit” meninggalkan sunnah, “sedikit” mengulur-ulur waktu, “sedikit” mengurangi kualitas ibadah. Dan sedikit demi sedikit, puasa kita kehilangan esensinya.

Setan mungkin dibelenggu, tapi rasa malas tidak. Ia adalah produk dari nafsu kita sendiri. Dan hanya kita yang bisa melawannya.

Maka di hari keenam ini, mari kita tanyakan pada diri: Apa yang paling sering membuatku “tidak maksimal” di bulan Ramadhan? Apakah setan, ataukah diriku sendiri?

Jika jawabannya adalah “diriku sendiri”, selamat! Kita sudah melewati langkah pertama menuju perbaikan. Jika jawabannya masih “setan”, mungkin kita perlu merenung lagi.

Jalaluddin Rumi, penyair sufi agung, menulis dalam Matsnawi:

“Hai jiwa, jangan kau salahkan setan terus-menerus.

Kau sendiri lebih banyak berdosa dari setan.

Setan hanya menggoda sekali, kau mengulanginya berkali-kali.

Setan musuh di luar, kau musuh di dalam.

Mengapa kau sibuk memusuhi yang luar,

Sementara yang dalam kau biarkan merajalela?”

Pamungkas: Antara Setan dan Diri

Pada akhirnya, setan itu nyata. Ia musuh yang dideklarasikan dalam Al-Qur’an. Tapi ia bukan satu-satunya musuh. Musuh yang lebih dekat adalah nafsu kita sendiri.

Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’: “Setan itu seperti anjing yang menggonggong dari luar rumah. Nafsu itu seperti ular yang bersarang di dalam rumah. Mana yang lebih berbahaya? Ular di dalam, tentu saja. Karena ia bisa mematuk kapan saja, tanpa kita sadari.”

Maka, di bulan Ramadhan ini, mari kita sibuk memberantas ular di dalam, bukan sibuk melempar batu pada anjing di luar. Mari kita sibuk memperbaiki diri, bukan sibuk menyalahkan setan.

Karena pada akhirnya, di hadapan Allah, kita tidak bisa berkata,

“Ya Allah, saya berdosa karena diganggu setan.”

Setan akan menjawab, “Ya Allah, dia berdusta. Aku hanya menggoda, tapi dia yang memilih.”

Dan kita hanya bisa diam, malu, dan menyesal.

Semoga puasa ini mengajarkan kita kejujuran yang paling dasar: jujur pada diri sendiri, jujur pada Tuhan, dan jujur bahwa kitalah—bukan setan—yang paling bertanggung jawab atas hidup kita.

Wallahu’alam

 

Referensi:

  • Al-Qur’an dan Terjemahannya
  • Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
  • Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari
  • Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
  • Carl Jung, Aion: Researches into the Phenomenology of the Self
  • Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning
  • Jalaluddin Rumi, Matsnawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *