Hubungan Mesra Najasyi Dengan Islam

Hubungan Raja Najasyi dengan Islam
foto dibuat oleh gemini ai. sepasang suami istri .muslim

Oleh Ustadz Iwan Ridwan

Setelah Najasyi diusir oleh para pejabat tinggi Habasyah tiba-tiba terjadi peristiwa yang diluar dugaan manusia. Badai mengamuk disertai guntur dan hujan lebat, sebatang pilar Istana roboh menimpa sang raja yang sedang berduka kehilangan keponakannya Najasyi. Beberapa waktu kemudian dia wafat.
Rakyat Habasyah berunding untuk memilih raja baru. 12 anak raja seyogyanya salah satunya mestinya menerima tahta raja, akan tetapi tidak ada yang layak melihat tantangan ke depan yang berat bagi sebuah kerajaan.

Wal Akhir diputuskan yang berhak dan mampu menjaga kerajaan ke depan adalah Ashamah bin Abjar (Najasyi). Mereka pun mencari keberadaan Najasyi yang telah diusir oleh mereka sendiri untuk kembali ke negeri Habasyah untuk dibai’at menjadi raja.

Saat bersamaan, dilantiknya Najasyi ditempat lain Allah SWT mengutus Nabi Muhamad Saw.

Tatkala Orang-orang Quraisy mulai memberikan ganguan dan menganiaya umat muhamad Saw di Mekah, Rasulullah bersabda : “Di negeri Habasyah bertahta seorang raja yang tidak suka berlaku zalim terhadap sesama, pergilah kalian kesana dan berlindunglah di dalam pemerintahannya sampai Allah memberikan jalan keluar dan membebaskan kalian dari kesulitan ini.

Setelah orang Quraisy mendengar kaum muslimin mengungsi ke Habasyah, Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah diutus untuk melobi dan memprovokasi Raja Najasyi agar mengusir kaum muslimin dan mengembalikannya lagi ke Mekah.
Cara yang gunakan dua orang utusan Quraisy dengan membawa hadiah terbaik untuk raja dan membawa sogokan untuk para perjabatnya agar para pejabatnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh Amru bin Ash dan Abdullah, akan tetapi semuanya praktek busuknya diketahui raja Najasyi tatkala terjadi diskusi antara dua orang Qurasyi dan Ja’far bin Abi Thalib sebagai juru bicara kaum muslimin.
Akhirnya kedua Quraisy tersebut diusir dan seluruh hadiahnya dikembalikan.

Baca Juga:  Tugas Berat Seorang Pendidik: Menyalakan Obor Ilmu di Tengah Tantangan Zaman

Memasuki tahun baru 7 hijriyah, Rasululloh Saw hendak berdakwah kepada enam orang pemimpin negeri tetangga, yang salah satunya adalah negeri Habasyah.

Rasulullah Saw mengutus Umayah adh Dhamari ke negeri Habasyah dengan membawa dua surat, diantara isi surat yang pertama ajakan untuk masuk Islam, adapun surat kedua agar Najasyi bersedia menjadi wakil Rasulullah Saw dalam pernikahannya dengan Romlah bin Abu Sufyan (janda dari suami yang murtad)

Semua permintaan isi surat tersebut disetujui Najasyi, beliau mengucapkan syahadatain di depan umum, dan bersedia menjadi wakil dalam pernikahan Nabi Saw.

Di hari pernikahan itu, istana Najasyi tampak semarak, Najasyi berkata: saya penuhi permintaan Nabi Saw untuk menikah dengan Romlah binti Abi Sufyan dan saya berikan mahar sebagai wakil nikah Nabi Saw berupa empat ratus dinar. yang menjadi wali dari Romlah (Ummu Habibah) adalah Kholid bin Said bin Ash berkata: saya terima permintaan Nabi Saw dan saya nikahkan Romlah binti Abi Sufyan yang memberi saya wakalah dengan Rasulullah Saw.

Setelah ijab qobul tersebut Romlah sangat nampak bahagia.
Najasyi menyiapkan dua kapal untuk mengantarkan Ummul mukminin Romlah binti Abi Sufyan dan putrinya Habibah dan rombongan kaum muslimin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

(Resume kitab Shuwarun min Hayati at Tabiin hal 253-264)
————————–
Hidayah Taufiq hanya akan didapatkan oleh Orang bersih hati dan lapang dada.
(QS. al An’am :125)
فمن يرد الله ان يهديه يشرح صدره لاسلام….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *