Website Berita dan Opini
Indeks

Selamat Jalan Sang Penjaga Adab: Mengenang Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Selamat Jalan Sang Penjaga Adab: Mengenang Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Ilustrasi dibuat AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Dunia intelektual Islam kembali kehilangan salah satu bintang terangnya. Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang filsuf, pemikir, sekaligus arsitek gagasan peradaban Islam kontemporer, dikabarkan wafat pada usia 94 tahun.

Kepergian beliau bukan sekadar meninggalkan duka, tetapi juga menghadirkan kesadaran bahwa dunia Islam baru saja kehilangan salah satu penjaga terakhir tradisi ilmu yang beradab.

Al-Attas bukan sekadar akademisi. Ia adalah pemikir yang sepanjang hidupnya berjuang melawan satu penyakit besar dalam dunia modern: hilangnya adab dalam ilmu pengetahuan.

Dari Bogor Jawa Barat ke Panggung Peradaban Islam

Syed Muhammad Naquib Al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931. Ia berasal dari keluarga yang memiliki akar tradisi keilmuan dan spiritual yang kuat. Garis keturunannya bersambung pada ulama-ulama Hadramaut, sementara lingkungan budaya Melayu membentuk kepekaan intelektual dan estetikanya.

Sejak muda, Al-Attas menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu. Perjalanan akademiknya membawanya ke berbagai pusat studi dunia, mulai dari Universitas Malaya hingga McGill University di Kanada dan SOAS London.

Namun bagi Al-Attas, pendidikan bukan sekadar gelar atau institusi. Pendidikan adalah pembentukan manusia yang beradab.

Melawan Krisis Ilmu di Dunia Modern

Nama Al-Attas dikenal luas melalui gagasan besar yang ia tawarkan kepada dunia Islam: Islamisasi ilmu pengetahuan.

Baginya, krisis umat Islam bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis epistemologi—krisis cara berpikir. Dunia Muslim, menurut Al-Attas, terlalu lama mengimpor paradigma ilmu dari Barat tanpa menyaringnya melalui pandangan hidup Islam.

Dalam berbagai karyanya, ia menegaskan bahwa ilmu tidak pernah netral. Ilmu selalu membawa nilai, pandangan dunia, dan arah peradaban.

Karena itu, ia menyerukan perlunya membangun kembali ilmu pengetahuan yang berakar pada tauhid, adab, dan hikmah.

Baca Juga:  Penulisan Ulang Sejarah Nasional, Antara Revitalisasi Identitas dan Ancaman Narasi Tunggal

Adab Sebagai Fondasi Peradaban

Salah satu konsep paling terkenal dari Al-Attas adalah gagasannya tentang adab.

Baginya, masalah utama dunia modern bukan sekadar kebodohan, melainkan loss of adab—hilangnya adab dalam memahami ilmu, kehidupan, dan posisi manusia di hadapan Tuhan.

Dalam perspektif Al-Attas, pendidikan sejati bukan hanya menghasilkan orang pintar, tetapi menghasilkan manusia yang tahu tempat segala sesuatu secara tepat: tahu posisi Tuhan, tahu posisi ilmu, tahu posisi manusia dalam tatanan kosmos.

Inilah yang membedakan pendidikan Islam dengan sekadar sistem pendidikan modern yang sering kali hanya melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan.

ISTAC adalah Mimpi Peradaban

Salah satu warisan monumental Al-Attas adalah berdirinya International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur.

Lembaga ini bukan sekadar kampus. ISTAC dirancang sebagai ruang intelektual tempat ilmu, spiritualitas, seni, dan peradaban bertemu. Bahkan arsitektur bangunannya dirancang oleh Al-Attas sendiri untuk mencerminkan keindahan peradaban Islam.

Di tempat inilah ia membimbing generasi baru sarjana Muslim untuk memahami Islam bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem peradaban yang utuh.

Warisan yang Tak Pernah Usai

Kepergian Al-Attas tentu meninggalkan kekosongan besar dalam dunia intelektual Islam. Namun pemikir besar sejatinya tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hidup dalam buku-bukunya.

Ia hidup dalam murid-muridnya.

Ia hidup dalam gagasan yang terus menginspirasi generasi baru.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi tetapi miskin hikmah, pemikiran Al-Attas justru semakin relevan.

Ia mengingatkan kita bahwa peradaban tidak dibangun oleh teknologi semata, tetapi oleh ilmu yang beradab.

Selamat jalan, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Engkau telah menyalakan lentera ilmu.

Kini tugas generasi setelahmu adalah memastikan cahaya itu tidak pernah padam!

Baca Juga:  Keluarga Besar KPI Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor Cisarua KBB

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *