Neraca Dosa di Piring MBG

Neraca Dosa di Piring MBG
Anak SD sedang memikirkan sesatu

Oleh Nurdin Qusyaeri

Di piring merah putih itu, kau lihat apa?

Bukan nasi, bukan ikan, bukan susu—

Tapi angka.

Rp335 triliun.

Menggumpal seperti lemak di paha para pejabat.

Mengalir deras ke rekening mitra SPPG.

Hanya setetes—setetes, ya!—yang jatuh ke perut anak-anak yang kau sebut “target manfaat”.

Ibu Rumah Tangga di survei Porec berkata:

“Menu tidak sesuai standar, kadang hanya roti biasa.”

Rotinya mungkin basi. Tapi hatinya? Pecah.

Pegawai Swasta berbisik:

“Dipegang kerabat elit, proses tidak transparan.”

Kerabat siapa? Kau tahu. Aku tahu.

Semua tahu, kecuali yang pura-pura tuli.

Wirausaha yang jujur membuka hitungan:

“Beli grosir, tagih eceran; markup kongkalikong.”

Selisihnya ke mana? Ke kantong siapa?

Coba tebak sekali.

Anak-anak target utama?

Hanya 6,5% manfaat nyata yang mereka kecap.

Sementara 44,5% untuk elit politik,

44% untuk pengelola dapur.

Jadi, siapa yang sebenarnya kau kenyangkan, Pak Menteri?

Perut rakyat? Atau perut partai?

Dan aku ingin bicara tentang guru honorer.

Mereka yang mengajar anak-anakmu membaca,

sementara anak-anak mereka sendiri lupa rasa kenyang.

Gaji tiga ratus ribu.

Tiga. Ratus. Ribu.

Tiap bulan. Selama belasan tahun.

Sementara MBG menggaji ahli gizi baru Rp5-8 juta.

Kepala SPPG dapat fee per porsi.

Tenaga admin P3K segar langsung Rp4-6 juta.

Mereka kerja 14 bulan.

Guru honorer kerja 14 tahun.

Cemburu? Bukan.

Itu namanya penghianatan sistem.

Kau lebih percaya pada dapur baru

daripada pada pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdi sebelum kau lahir jadi menteri.

87% rakyat bilang MBG rawan korupsi tinggi.

88% bilang ini program untuk elit, bukan anak-anak.

80% tolak kelanjutan MBG tanpa reformasi total.

Tapi Prabowo bilang:

Baca Juga:  Keajaiban Memberi

“Saya pertaruhkan kepemimpinan saya 2029.”

Pertaruhkan apa?

Perut anak-anak?

Nasib guru honorer?

Anggaran pendidikan dan kesehatan yang kau sedot habis?

Lalu kau bilang “uang kita ada”.

Benar, uang kita ada.

Tapi mengapa rasanya seperti kau mengambil dari saku kiri rakyat

lalu memasukkannya ke saku kanan para penguasa?

MBG bukan makan bergizi gratis.

Tapi Makanan Bagi Golongan.

Makan Bergolak Gratifikasi.

Makan Bersama Gaple.

Maka solusinya bukan tutup program, aku setuju.

Tapi bakar strukturnya, lalu tanam yang baru.

  • Ganti SPPG dengan koperasi komunitas. (93% rakyat setuju, lho!)
  • Prioritaskan P3K untuk guru honorer, bukan rekrutmen politik.
  • Audit independen, bukan dari BGN yang tidur di atas tumpukan laporan palsu
  • Fokus pada daerah 3T dan stunting, bukan semua orang kenyang propaganda.

Atau biarkan saja.

Biarkan guru honorer tetap makan hati,

biarkan anak-anak dapat roti basi,

biarkan 31% rakyat yang siap aksi kolektif

mengguncang kursi-kursi empuk itu.

Karena ketika piring retak, isinya tumpah.

Dan rakyat lapar—tidak hanya makanan,

tapi juga keadilan— Maka mereka akan makan. Bukan dari piring MBG.

Tapi dari meja kekuasaan yang kau jaga serakah.

Jakarta, menunggu audit Tuhan

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *