Website Berita dan Opini
Indeks
IAIPI  

Budaya Akademik Mahasiswa KPI: Sinergi Fakultas, Prodi, dan HMPS dalam Membentuk Komunikator Muslim yang Berilmu, Berakhlak dan Berdampak

Budaya Akademik
Foto Bersama saat Acara Dialog Publik antara Dosen dan Mahasiswa KPI (Dokumen Pribadi)

 

Oleh A. Badru Rifa’i, M. Hum

Budaya akademik mahasiswa tidak cukup dipahami sebagai rutinitas hadir di kelas, mencatat materi,
mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu menunggu nilai keluar. Budaya akademik jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah cara mahasiswa membentuk dirinya sebagai manusia pembelajar: bagaimana ia berpikir, bertanya, berdiskusi, membaca masalah, menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, menerima kritik, dan bertanggung jawab atas ilmu yang dipelajarinya.

Bagi mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Persis Bandung, budaya akademik
memiliki warna yang khas. Kekhasan itu lahir karena mahasiswa KPI tidak hanya belajar tentang komunikasi sebagai keterampilan berbicara, menulis, membuat konten, atau tampil di ruang publik. Mahasiswa KPI juga belajar bahwa komunikasi adalah amanah. Setiap kata, tulisan, gambar, video, siaran, dan konten digital memiliki dampak. Ia bisa menjadi jalan dakwah, pendidikan, pencerahan, dan perubahan sosial. Tetapi pada saat yang sama, komunikasi juga bisa menjadi sumber masalah apabila tidak disertai ilmu, etika, dan tanggung jawab moral.

Program Studi KPI FDK IAI Persis Bandung ditegaskan memiliki arah keilmuan yang mengintegrasikan ilmu komunikasi, dakwah Islam, media digital, dan nilai-nilai tafaqquh fid-dīn. Orientasi ini menjadi dasar pengembangan kurikulum, capaian pembelajaran lulusan, proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan tata kelola program studi. Artinya, budaya akademik mahasiswa KPI tidak boleh berhenti pada kecakapan teknis, tetapi harus sampai pada pembentukan cara berpikir, cara bersikap, dan cara berkontribusi.

Peran Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Di sinilah hubungan antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prodi KPI, dan HMPS KPI menjadi penting. Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Fakultas menjadi rumah besar yang mengarahkan kebijakan akademik, tata kelola, mutu, dan pengembangan kelembagaan. Prodi KPI menjadi ruang utama pembentukan kompetensi keilmuan dan profesi mahasiswa. Sementara HMPS KPI menjadi ruang aktualisasi mahasiswa, tempat nilai-nilai akademik diterjemahkan dalam kegiatan, dialog, kreativitas, kepemimpinan, solidaritas, dan pelayanan kepada sesama mahasiswa.

Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki posisi strategis sebagai Unit Pengelola Program Studi (UPPS) dalam mendukung tata kelola akademik melalui koordinasi antara pimpinan fakultas, program studi, Gugus Kendali Mutu, Lembaga Penjaminan Mutu, dosen, tenaga kependidikan, laboratorium, dan unit layanan mahasiswa. Ini berarti budaya akademik mahasiswa tidak lahir secara spontan, tetapi perlu ditopang oleh sistem. Mahasiswa bisa tumbuh baik apabila ekosistem fakultasnya sehat, terbuka, terarah, dan berorientasi pada mutu.

Fakultas dalam konteks ini berperan sebagai penjaga arah. Fakultas harus memastikan bahwa kegiatan
akademik, kemahasiswaan, penelitian, pengabdian, dan layanan mahasiswa berjalan dalam suasana yang mendukung pertumbuhan intelektual dan akhlak. Fakultas bukan hanya struktur administratif, tetapi rumah akademik yang membuat mahasiswa merasa memiliki tempat untuk berkembang. Di bawah payung fakultas, mahasiswa KPI perlu merasakan bahwa kampus adalah ruang aman untuk bertanya, ruang nyaman untuk belajar, ruang terbuka untuk berdialog, dan ruang serius untuk mempersiapkan masa depan.

Peran Prodi KPI

Sementara itu, Prodi KPI berperan sebagai jantung pengembangan keilmuan mahasiswa. Prodi merancang kurikulum, menetapkan capaian pembelajaran, mengarahkan profil lulusan, mengelola proses pembelajaran, dan memastikan mahasiswa memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam profil lulusan KPI diarahkan pada lima bidang utama, yaitu praktisi dakwah dan penyiaran Islam, content creator dan media strategist dakwah digital, jurnalis dan broadcaster Islam, peneliti komunikasi dan media Islam, serta pengelola humas dan komunikasi lembaga keagamaan. Profil ini menunjukkan bahwa mahasiswa KPI dipersiapkan untuk hadir di banyak ruang sosial: mimbar, media, lembaga, komunitas, ruang digital, dan masyarakat luas.

Namun profil lulusan itu tidak akan bermakna apabila mahasiswa tidak membangun budaya akademik sejak dini. Mahasiswa yang ingin menjadi jurnalis Islam harus terbiasa membaca, memverifikasi informasi, menulis dengan jujur, dan memahami etika pemberitaan. Mahasiswa yang ingin menjadi broadcaster harus membangun kemampuan berbicara, mengolah suara, menyusun naskah, dan memahami audiens. Mahasiswa yang ingin menjadi content creator dakwah digital harus mampu memadukan kreativitas dengan kedalaman pesan. Mahasiswa yang ingin menjadi peneliti komunikasi Islam harus memiliki kesabaran membaca data, menyusun argumen, dan berpikir kritis. Semuanya membutuhkan budaya akademik yang kuat.

Budaya akademik mahasiswa KPI juga harus tumbuh dalam proses pembelajaran yang aktif, artinya bahwa pembelajaran KPI dikembangkan berbasis RPS, CPL, CPMK, dan pendekatan student centered learning. Pembelajaran dilakukan melalui kuliah interaktif, diskusi, studi kasus, project based learning, praktikum media, simulasi broadcasting, produksi konten dakwah digital, blended learning, praktik lapangan, dan pembelajaran berbasis riset. Dengan model ini, mahasiswa KPI tidak cukup menjadi pendengar. Ia harus menjadi pelaku. Ia harus mengalami proses belajar dengan cara mencoba, berdiskusi, membuat karya, mengevaluasi, dan memperbaiki diri.

Baca Juga:  Penjaga Mushaf Penjaga Peradaban: Jejak Hafshah binti Umar sebagai Role Model KPI

Program Dialog Publik

Di sinilah HMPS KPI mengambil peran yang sangat penting. HMPS bukan sekadar organisasi mahasiswa yang mengurus acara. HMPS adalah laboratorium kepemimpinan, komunikasi, solidaritas, dan tanggung jawab sosial mahasiswa. Melalui HMPS, mahasiswa belajar memimpin rapat, menyusun program, mengelola konflik, membangun jejaring, menyampaikan aspirasi, mengatur kegiatan, dan bekerja sama dalam tim. Semua itu adalah bagian nyata dari budaya akademik.

Dalam program “Dialog Publik” menunjukkan bahwa HMPS KPI, melalui Divisi Sosial dan Politik, dalam rangka mewujudkan visi dan pengembangan Prodi KPI. Kegiatan ini diarahkan untuk membangun komunikasi efektif antara dosen dan mahasiswa, menjadi wadah aspirasi, meningkatkan budaya diskusi ilmiah, serta mencari solusi bersama terhadap isu akademik maupun sosial. Ini contoh konkret bahwa HMPS dapat menjadi jembatan antara mahasiswa, dosen, prodi, dan fakultas.

Dialog seperti ini penting karena kampus yang sehat bukan kampus yang tanpa kritik. Kampus yang sehat adalah kampus yang mampu mengelola kritik menjadi perbaikan. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga perlu belajar menyampaikannya dengan adab. Dosen perlu terbuka terhadap aspirasi mahasiswa, tetapi mahasiswa juga perlu memahami bahwa perubahan membutuhkan proses, data, dan tanggung jawab bersama. Dalam budaya akademik yang matang, kritik tidak berubah menjadi permusuhan, dan otoritas dosen tidak berubah menjadi jarak yang menakutkan.

Bagi mahasiswa KPI, kemampuan berdialog adalah bagian dari kompetensi inti. Bagaimana mungkin
mahasiswa komunikasi tidak mampu menyampaikan aspirasi dengan baik? Bagaimana mungkin mahasiswa penyiaran Islam tidak mampu memilih kata yang santun? Bagaimana mungkin calon dai digital tidak mampu membangun komunikasi yang menenangkan, bukan memperkeruh keadaan? Maka, forum-forum seperti dialog publik, diskusi mahasiswa, seminar, pelatihan jurnalistik, produksi konten, kajian media, dan kegiatan HMPS lainnya harus dipandang sebagai bagian dari pembelajaran, bukan sekadar agenda organisasi.

Nilai Akademik KPI

Nilai akademik KPI juga berkaitan erat dengan etika. Penilaian pembelajaran Prodi KPI mengacu pada prinsip valid, reliabel, objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, dan edukatif. Penilaian dilakukan melalui kuis, tugas, diskusi, presentasi, portofolio, proyek media, praktik laboratorium, UTS, UAS, ujian praktikum, dan tugas akhir. Dari sini terlihat bahwa nilai dalam budaya akademik tidak boleh hanya dipahami sebagai angka. Nilai adalah gambaran proses belajar. Ia menunjukkan kedisiplinan, kejujuran, kemampuan berpikir, keberanian mencoba, dan kesungguhan memperbaiki diri.

Mahasiswa KPI perlu mengubah cara pandang terhadap tugas dan penilaian. Tugas bukan hukuman.
Presentasi bukan formalitas. Praktikum bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ujian bukan hanya alat mengukur hafalan. Semua itu adalah proses pembentukan diri. Saat mahasiswa membuat video dakwah, ia sedang belajar menyusun pesan. Ketika mahasiswa menulis artikel, ia sedang belajar mengelola gagasan. Saat mahasiswa berdiskusi, ia sedang belajar mendengar. Ketika mahasiswa menerima kritik dosen, ia sedang belajar rendah hati. Saat mahasiswa gagal dalam sebuah proyek, ia sedang belajar memperbaiki kualitas.

Standar isi dalam Prodi KPI juga menuntut mahasiswa untuk adaptif terhadap perubahan zaman. Kurikulum KPI memperhatikan perkembangan ilmu komunikasi, teknologi media digital, hasil penelitian, kebutuhan dunia kerja, dan ditinjau secara berkala. Penguatan dilakukan pada komunikasi digital, dakwah multimedia, media sosial, artificial intelligence dalam komunikasi, serta peningkatan bobot praktik media. Ini menegaskan bahwa mahasiswa KPI harus dekat dengan perubahan, tetapi tidak boleh kehilangan akar nilai.

Sinergi Fakultas, Prodi, dan HMPS KPI

Hari ini, dunia komunikasi bergerak sangat cepat. Media sosial mengubah cara orang membaca berita.
Artificial intelligence mengubah cara orang membuat konten. Platform digital mengubah cara dakwah disampaikan. Audiens tidak lagi hanya menunggu informasi, tetapi ikut memproduksi, membagikan,
mengomentari, bahkan membentuk opini. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa KPI harus menjadi generasi yang bukan hanya mengikuti tren, tetapi mampu membaca arah perubahan. Ia harus kreatif, tetapi tetap kritis. Dia harus cepat, tetapi tetap cermat. Ia harus populer, tetapi tetap beradab. Ia harus adaptif, tetapi tetap memiliki prinsip.

Baca Juga:  Mahasiswi KPI IAI PERSIS Bandung Jadi Delegasi Program International Youth Excursion Network 2024 di Kuala Lumpur

Karena itu, sinergi Fakultas, Prodi, dan HMPS harus diarahkan untuk membentuk ekosistem mahasiswa yang produktif. Fakultas menyediakan kebijakan, fasilitas, dan iklim mutu. Prodi menyediakan kurikulum, pembelajaran, bimbingan, dan arah kompetensi. HMPS menghidupkan ruang partisipasi, aspirasi, solidaritas, kreativitas, dan kepemimpinan mahasiswa. Apabila ketiganya berjalan bersama, budaya akademik mahasiswa KPI akan tumbuh lebih kuat.

HMPS KPI dapat mengambil peran sebagai penggerak budaya literasi mahasiswa. Misalnya, dengan
membuat forum baca buku, diskusi isu komunikasi Islam, klinik penulisan, pelatihan opini, kajian media digital, atau bedah karya mahasiswa. HMPS juga dapat menjadi penggerak budaya produksi karya, seperti pembuatan podcast dakwah, video edukatif, buletin digital, kanal YouTube mahasiswa, konten media sosial yang mencerahkan, atau liputan kegiatan kampus. Dengan begitu, HMPS tidak hanya menjadi organisasi seremonial, tetapi menjadi motor budaya akademik.

Prodi KPI dan HMPS Sebagai Mitra Strategis

HMPS juga dapat menjadi jembatan aspirasi yang elegan. Tidak semua masalah mahasiswa harus
disampaikan dengan cara gaduh. Tidak semua kritik harus dibungkus dengan kemarahan. Mahasiswa
komunikasi harus memberi contoh bahwa aspirasi bisa disampaikan secara sistematis, berbasis data,
menggunakan bahasa yang baik, dan diarahkan pada solusi. Di sinilah HMPS berperan penting sebagai ruang pendidikan demokrasi akademik, dimana mahasiswa belajar menyampaikan, dosen belajar mendengar, prodi belajar mengevaluasi, dan fakultas belajar memperbaiki layanan.

Pada saat yang sama, Prodi KPI perlu terus menjadikan HMPS sebagai mitra strategis. Kegiatan HMPS
sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai aktivitas nonakademik, tetapi sebagai bagian dari penguatan CPL mahasiswa. Kegiatan diskusi memperkuat kemampuan berpikir kritis. Kegiatan pelatihan media memperkuat keterampilan praktis. Kegiatan pengabdian memperkuat kepedulian sosial. Kegiatan dialog memperkuat komunikasi interpersonal dan etika akademik. Kegiatan kepanitiaan memperkuat kepemimpinan dan kerja sama. Semuanya sejalan dengan nilai-nilai KPI.

Fakultas Dakwah dan Komunikasi juga perlu terus mendorong agar budaya akademik mahasiswa tidak
terjebak pada kegiatan yang bersifat seremonial. Kegiatan mahasiswa harus memiliki arah, dampak, dan
keberlanjutan. Setiap kegiatan HMPS idealnya memiliki nilai pembelajaran: apa kompetensi yang diperkuat, apa masalah yang dijawab, apa manfaat bagi mahasiswa, dan apa kontribusinya bagi prodi. Dengan cara ini, kegiatan kemahasiswaan menjadi bagian dari ekosistem mutu, bukan sekadar pelengkap kalender akademik.

Budaya Akademik Mahasiswa KPI

Budaya akademik mahasiswa KPI pada akhirnya harus melahirkan karakter komunikator muslim yang utuh. Utuh dalam ilmunya, baik dalam akhlaknya, kuat dalam kompetensinya, dan luas dalam manfaatnya. Mahasiswa KPI harus terbiasa berpikir sebelum berbicara, membaca sebelum berpendapat, memeriksa sebelum membagikan informasi, berdialog sebelum menghakimi, dan berkarya sebelum menuntut pengakuan.

Mahasiswa KPI juga harus sadar bahwa dunia komunikasi adalah dunia yang penuh tanggung jawab. Dalam komunikasi, seseorang bisa mempengaruhi cara orang berpikir. Dalam penyiaran, seseorang bisa membentuk opini publik. Dan dalam dakwah digital, seseorang bisa menggerakkan perilaku keagamaan masyarakat. Karena itu, mahasiswa KPI tidak boleh hanya mengejar kemampuan tampil, tetapi juga harus membangun kedalaman ilmu dan kejernihan hati.

Maka, budaya akademik mahasiswa KPI IAI Persis Bandung harus dibangun melalui tiga kekuatan besar. Fakultas Dakwah dan Komunikasi sebagai rumah mutu dan arah kelembagaan. Prodi KPI sebagai pusat pengembangan ilmu, kurikulum, kompetensi, dan nilai keislaman. HMPS KPI sebagai ruang aktualisasi mahasiswa, penggerak dialog, solidaritas, kreativitas, dan kepemimpinan. Ketiganya harus saling menguatkan.

Apabila sinergi ini berjalan, mahasiswa KPI tidak hanya akan menjadi mahasiswa yang aktif di kelas, tetapi juga hidup dalam budaya akademik yang sehat. Mereka tidak hanya menjadi lulusan yang memiliki ijazah, tetapi menjadi pribadi yang siap memberi manfaat. Mereka tidak hanya menjadi sarjana komunikasi dan penyiaran Islam, tetapi menjadi komunikator muslim yang berilmu, berakhlak, kreatif, kritis, kolaboratif, dan berdampak.

Inilah nilai penting yang harus terus dijaga. Menjadi mahasiswa KPI bukan sekadar belajar komunikasi, tetapi belajar menjadikan komunikasi sebagai jalan dakwah, jalan ilmu, jalan perbaikan, dan jalan pengabdian.
Wallahu ‘alam bissawab.

Bravo Prodi KPI, KPI yang berprestasi, mari kita bersinergi menghadapi akreditasi prodi, bekerja sepenuh hati, melangkah pasti, menuju akreditasi unggul yang membanggakan institusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *