
Oleh Yuyun Asymiawati*
Bayangkan jika lembar-lembar Al-Qur’an yang diturunkan selama dua dekade itu tak ada yang merawat, menjaga, dan mengarsipkannya. Mungkin hari ini kita tak akan bisa membaca ayat-ayat yang menenangkan jiwa di tengah riuhnya dunia. Tapi sejarah menyimpan satu nama perempuan hebat di balik amanah besar itu: Hafshah binti Umar.
Ia bukan hanya istri Nabi Muhammad SAW, ia juga anak dari Umar bin Khattab sang singa padang pasir yang tegas dan lugas. Tapi Hafshah tumbuh bukan hanya sebagai bayang-bayang dua tokoh besar itu. Ia punya identitas, intelektualitas, dan peran yang tak tergantikan dalam sejarah Islam. Salah satu kontribusi terbesarnya? Menjadi penjaga pertama mushaf Al-Qur’an.
Zaman itu, belum ada percetakan, belum ada Google Drive, bahkan belum ada catatan digital. Wahyu ditulis di pelepah kurma, batu, kulit binatang, dan dihafal oleh para sahabat. Namun setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam perang Yamamah, Umar bin Khattab merasa khawatir: bagaimana jika hafalan-hafalan itu hilang?
Maka dibentuklah tim pengumpulan Al-Qur’an, yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Setelah berhasil disusun secara lengkap dalam satu mushaf, pertanyaan berikutnya muncul: Siapa yang bisa dipercaya untuk menjaga lembaran-lembaran itu? Jawabannya jatuh kepada seorang perempuan. Hafshah binti Umar.
Hafshah tak hanya cerdas, tapi juga tekun dan dipercaya. Ia bisa membaca dan menulis—kemampuan langka untuk perempuan saat itu. Hafshah juga kritis, suka bertanya, dan punya rasa ingin tahu tinggi terhadap ilmu dan wahyu. Dalam banyak riwayat, Hafshah bahkan dikenal suka menanyakan hal-hal yang belum ia pahami kepada Rasulullah secara langsung.
Dalam konteks Komunikasi dan Penyiaran Islam, Hafshah adalah simbol: arsiparis, penyunting, penjaga data, dan komunikator informasi suci. Kalau hari ini kita mengenal profesi seperti:
- Editor naskah: Hafshah pernah menjaganya.
- Penyiar berita: ia menyampaikan hadis dan riwayat dari Rasul.
- Dokumentalis: ia menyimpan warisan intelektual Islam.
- Manajer konten: ia tahu informasi mana yang penting untuk dijaga.
- Penulis skrip dan kreator pesan dakwah: Hafshah memberi inspirasi.
- Konsultan media dakwah: yang menjaga orisinalitas pesan.
Di dunia Komunikasi Penyiaran Islam, tugas kita bukan cuma bicara depan kamera atau pegang mic di studio. Ada tanggung jawab untuk menjaga kebenaran informasi, menyampaikan pesan secara utuh dan jujur. Dan Hafshah, ratusan tahun sebelum media sosial ada, sudah mencontohkannya.
Hafshah adalah teladan perempuan yang tak hanya bijak, tapi juga tangguh secara emosional. Ia pernah kehilangan suami pertamanya, sempat diceraikan Nabi lalu kembali, namun ia tetap bertahan dan menjalani hidupnya dengan martabat tinggi. Hafshah memberi pesan kepada generasi hari ini bahwa perempuan bisa berdiri tegak bukan karena siapa yang mendampinginya, tapi karena apa yang dia jaga dan perjuangkan.
Jika kamu adalah mahasiswi KPI hari ini, yakinlah bahwa kamu sedang melanjutkan jejak Hafshah. Bukan sekadar belajar komunikasi, tapi belajar merawat kebenaran dan menyampaikan cahaya. Kamu tidak hanya sedang kuliah, tapi juga meniti jalan peradaban.
Karena menulis ini pun bagian dari cinta pada ilmu dan sejarah. Yuk, ikut jadi bagian dari KPI dan bangun dunia dengan kata-kata, visual, dan pesan kebaikan!
*Penulis: Mahasiswa KPI IAI Persis Bandung






