Website Berita dan Opini
Indeks

Asesor LAMDIK: “IAI PERSIS Bandung Sudah Layak Menjadi Universitas Islam PERSIS”

Asesor LAMDIK: "IAI PERSIS Bandung Sudah Layak Menjadi Universitas Islam PERSIS"
Asesor Lamdik foto bersama dengan para pimpinan dan civitas akademika sesuai penutupan Asesmen Lapangan IAI PERSIS Bandung, Sabtu 1 Agustus 2026 di aula Pasca sarjana.

 

Bandung, DARAS.ID – Pelaksanaan Asesmen Lapangan Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S-2 PAI) Institut Agama Islam (IAI) PERSIS Bandung resmi ditutup pada Sabtu (1/8/2026) di Aula Pascasarjana IAI PERSIS Bandung.

Selama dua hari proses asesmen, berbagai apresiasi, masukan, sekaligus gagasan strategis disampaikan oleh tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).

Salah satu pesan yang paling mengemuka adalah dorongan agar IAI PERSIS segera bertransformasi menjadi Universitas Islam PERSIS.

 

Membuka sambutan penutupan, Asesor I LAMDIK, Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si., kembali menegaskan pandangannya yang telah disampaikan sejak hari pertama asesmen.

“Saya ingin mengulang lagi, IAI PERSIS Bandung sudah layak menjadi Universitas Islam PERSIS,” tegasnya, disambut tepuk tangan seluruh peserta yang hadir.

Menurut Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, modal kelembagaan, lingkungan akademik, infrastruktur, serta semangat sivitas akademika telah menunjukkan bahwa IAI PERSIS memiliki kapasitas untuk naik kelas menjadi universitas.

Namun, menurutnya, membangun universitas tidak cukup hanya dengan memenuhi persyaratan administratif. Yang lebih penting adalah memiliki arah dan identitas yang jelas.

Ia kemudian mengajak keluarga besar PERSIS melakukan refleksi mengenai positioning organisasi dalam peta pemikiran Islam Indonesia.

“Kalau Muhammadiyah mempunyai jargon Islam Berkemajuan, Nahdlatul Ulama dikenal dengan Islam Nusantara, lalu PERSIS ingin dikenal sebagai apa?” tanyanya.

Prof. Tobroni mengingatkan agar PERSIS tidak kehilangan identitas strategis dalam membangun pendidikan tinggi.

“Jangan sampai PERSIS berada pada posisi manzilatun bainal manzilataini, tidak memiliki kejelasan arah dan positioning.”

Menurutnya, identitas kelembagaan akan menjadi fondasi dalam membangun karakter perguruan tinggi, arah pengembangan akademik, hingga reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional.

Mutu Tidak Dibangun Lima Tahun Sekali

Dalam kesempatan itu, Prof. Tobroni juga mengingatkan bahwa akreditasi bukanlah agenda seremonial yang datang setiap lima tahun.

“Visitasi bukan ritual lima tahunan. Visitasi adalah management tools untuk memastikan penjaminan mutu eksternal berjalan secara berkelanjutan.”

Karena itu, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi yang kredibel tidak hanya diukur dari gedung atau jumlah mahasiswa, tetapi dari kualitas tata kelolanya.

“Lembaga yang kredibel harus memiliki kebijakan yang jelas, peraturan yang tertata, pedoman yang menjadi acuan, serta SOP yang dijalankan secara konsisten.”

Budaya mutu, lanjutnya, harus menjadi budaya organisasi, bukan hanya budaya ketika menghadapi asesor.

Baca Juga:  Menyulam Kembali Rasa dalam Dakwah dan Pendidikan Pesantren

Temukan Keunggulan PERSIS

Sementara itu, Asesor II, Dr. H. Karwadi, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas berbagai praktik baik (best practices) yang ia temukan selama proses asesmen berlangsung.

Menurutnya, IAI PERSIS sesungguhnya memiliki keunggulan khas yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lain.

“Saya menemukan best practice yang sebenarnya menjadi kekuatan dan keunggulan IAI PERSIS.”

Ia menilai cita-cita IAI PERSIS untuk naik level menjadi universitas bukanlah sebuah angan-angan.

“Keinginan menjadi universitas sebenarnya sudah sangat memadai. Tinggal bagaimana seluruh potensi yang dimiliki dikonsolidasikan menjadi kekuatan kelembagaan.”

Karwadi juga berharap Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam mampu menjadi program studi yang memiliki daya saing nasional.

“Hari ini kita memiliki semangat yang sama untuk mengantarkan Program Magister Pendidikan Agama Islam memiliki daya saing yang semakin kuat.”

Menurutnya, salah satu pekerjaan besar yang harus segera dilakukan adalah menerjemahkan nilai-nilai dasar PERSIS ke dalam seluruh sistem pendidikan tinggi.

Ia mendorong agar core values organisasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diimplementasikan dalam kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga tata kelola institusi.

“Break down tata nilai PERSIS. Turunkan pemikiran tokoh-tokoh besar seperti A. Hassan, Mohammad Natsir, dan para ulama PERSIS ke dalam sistem akademik.”

Dengan demikian, lanjutnya, kekhasan IAI PERSIS akan menjadi identitas ilmiah yang membedakannya dengan perguruan tinggi Islam lainnya.

Sekolah Perintis Kebanggaan Jam’iyah

Menanggapi berbagai masukan dari kedua asesor, Rektor IAI PERSIS Bandung menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas seluruh proses asesmen yang berlangsung dengan suasana hangat, dialogis, dan penuh semangat membangun.

Menurutnya, IAI PERSIS merupakan perguruan tinggi perintis yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan tinggi Persatuan Islam.

“IAI PERSIS Bandung adalah sekolah perintis sekaligus perguruan tinggi kebanggaan Jam’iyah PERSIS.”

Ia juga menanggapi pernyataan Prof. Tobroni mengenai hubungan PERSIS dan Muhammadiyah dengan nada penuh keakraban.

“PERSIS dan Muhammadiyah itu ibarat kakak dan adik. Kami berharap kakaknya jangan berlari terlalu kencang, supaya adiknya masih bisa mengejar tanpa kehabisan tenaga,” ujarnya yang disambut tawa para peserta.

Di balik candaan tersebut, tersimpan pesan yang serius.

Baca Juga:  IAI PERSIS Bandung Pulih dari Masa Transisi, Siap Melaju dengan Optimisme Baru

Rektor menegaskan bahwa PERSIS memiliki banyak hal yang dapat dipelajari dari Muhammadiyah, terutama dalam tata kelola, pengembangan kelembagaan, budaya mutu, serta strategi membangun perguruan tinggi yang maju dan berdaya saing.

“Kami tidak malu belajar kepada Muhammadiyah. Banyak praktik baik dalam pengelolaan perguruan tinggi yang layak menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan tinggi PERSIS.”

Ia berharap semangat saling belajar antarsesama organisasi Islam menjadi modal penting dalam memajukan pendidikan tinggi umat.

Momentum Melompat Lebih Tinggi

Penutupan asesmen lapangan tidak hanya menandai berakhirnya proses visitasi akreditasi Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menghadirkan optimisme baru bahwa IAI PERSIS Bandung memiliki peluang besar untuk melakukan lompatan kelembagaan.

Dorongan kedua asesor agar IAI PERSIS segera bertransformasi menjadi Universitas Islam PERSIS, penguatan tata kelola berbasis mutu, penegasan identitas keilmuan PERSIS, serta pengembangan core values yang berakar pada pemikiran A. Hassan, Mohammad Natsir, dan ulama-ulama PERSIS menjadi catatan penting yang dapat dijadikan peta jalan pengembangan institusi.

Asesmen lapangan akhirnya bukan hanya menghasilkan evaluasi, tetapi juga menghadirkan harapan. Harapan agar IAI PERSIS Bandung terus tumbuh sebagai perguruan tinggi Islam unggul, menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan peradaban, sekaligus menjadi fondasi lahirnya Universitas Islam PERSIS yang menjadi kebanggaan Jam’iyah Persatuan Islam dan umat Islam Indonesia.

Penulis: tim Daras.ID

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *