Andai Luka Itu Bisa Ditukar

Jika luka itu bisa ditukar
Foto dibuat oleh teh Meta: Sebuah hati yang retak

Oleh Bramantyo

Andai manusia bisa saling menukar luka…

Mungkin dunia akan berhenti sejenak dari kesombongannya. Dunia akan sedikit cepat belajar untuk empati.

Dunia juga akan memandang wajah satu sama lain bukan sebagai lawan hidup,

melainkan sebagai cermin tempat kita membaca diri sendiri.

Sebab betapa sering manusia menilai ringan derita orang lain hanya karena luka itu tidak menempel di kulitnya.

Betapa sering kita menganggap badai orang lain hanyalah gerimis

karena hujan itu tidak mengguyur bahu kita.

Andaikan luka bisa ditukar…

Kita akan tahu, bahwa di balik senyum seseorang

ada malam-malam panjang yang ia peluk sendirian.

Bahwa di balik tawa yang terdengar lantang ada kegelisahan yang coba ia bisukan agar dunia tidak khawatir.

Baca Juga:  Langkah yang Pelan, Doa yang Dalam

Mungkin kita akan terkejut, betapa getirnya hidup yang selama ini kita pandang indah dari jauh.

Betapa rapuhnya seseorang yang kita kira tegar.

Dan betapa banyak jiwa yang berjalan dengan dada bolong namun tetap menebar kebaikan yang tidak pernah kita syukuri.

Mungkin dunia ini akan belajar lebih cepat tentang empati jika manusia bisa mengizinkan sejenak derita orang lain bernaung dalam rongga dadanya.

Agar kita paham bahwa rasa sakit memiliki bahasa universal—

yang tak butuh penerjemah, hanya butuh hati yang rela mendengarkan.

Sebab rasa sakit bukan hanya milik satu sisi.

Ia menetes di setiap rumah,

mengendap di setiap dada,

bersembunyi di balik setiap langkah,

mengajar manusia untuk merendah

dan mengingat bahwa hidup ini tidak sedang berpihak pada siapa pun.

Andai luka bisa ditukar,

mungkin kita akan lebih pelan dalam menghakimi, lebih lembut dalam menyapa, lebih berhati-hati dalam berkata, lebih tulus dalam mencintai.

Dan barangkali, mungkin kita akhirnya sadar—

bahwa yang membuat manusia tetap manusia bukanlah ketangguhannya,

melainkan kemampuannya merasakan luka orang lain seolah-olah itu lukanya sendiri.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *