Cerita KKN di Kampung Cinarusa Mandalawangi Nagreg: Antara Ladang, Harapan, dan Kehidupan

Cerita KKN di kampung Cinarusa Mandalawangi Nagreg: Antara Ladang, harapan dan kehidupan
Foto: YoenAsmi dan para peserta KKN IAI PERSIS Bandung, desa Mandalawangi Nagreg kabupaten Bandung tahun 2026.

Oleh Yoenasmi

Pagi di Kampung Cinarusa selalu datang tanpa banyak suara. Kabut turun perlahan seperti selimut tipis yang sengaja disampirkan alam agar manusia belajar tenang.

Di Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagreg, hidup berjalan dengan kesederhanaan, kadang terlalu sederhana sampai kita lupa bahwa di situlah makna sering bersembunyi.

Mayoritas warga di sini bertani dan berladang. Tanah adalah buku harian mereka; dicangkul, ditanami, lalu ditunggu dengan sabar.

Soal SDM dan ekonomi, kampung ini tak pandai pamer. Tapi kehidupan tak selalu bisa diukur dengan grafik. Justru dari keterbatasan itulah, aku menemukan kelimpahan lain: sikap hidup.

Sejak hari pertama KKN, kami disambut ramah. Senyum warga seperti pintu yang tak pernah dikunci. Mereka welcome, hangat, dan selalu menyuguhkan yang tak pernah aku temui di tempat asalku, mereka menyimpan harapan besar pada kami.

Baca Juga:  Memulai Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pemahaman Kontekstual

Bukan harapan muluk, bukan pula janji revolusioner. Mereka hanya ingin program yang nyata, yang bisa disentuh, yang bisa tinggal meski kami pulang nanti. Ironi, ya.. di tempat serba kurang, harapan justru tumbuh paling subur.

Satu kalimat dari Pak Kusnadi, Kepala Dusun 1, terus terngiang di kepalaku. Dengan wajah tenang orang yang sudah “makan asam garam kehidupan”, beliau berkata,

“Saya sudah banyak mengenal orang, mulai dari yang haram jadah sampai yang bersajadah.”

Kalimat itu sederhana, tapi menghantam. Metafora hidup yang tak diajarkan di ruang kelas. Dunia, kata beliau, penuh wajah. Ada yang buruknya terang-terangan, ada yang baiknya benar-benar membumi. Dari beliau aku belajar, kebijaksanaan sering lahir dari luka yang panjang, bukan dari banyak teori.

Tokoh-tokoh masyarakat di Cinarusa pun low profile. Tak banyak bicara, tak suka menonjol. Tapi kehadiran mereka terasa penuh canda dan tawa, seperti akar pohon yang tak terlihat, namun menahan tanah agar tak runtuh.

Saat kami berkunjung ke rumah warga, hampir selalu ada yang diberikan, apalagi jika selesai panen, kami selalu mencicipi hasil kerja keras mereka. Kadang singkong, pisang, atau hasil panen lain. Tak mewah, bahkan bisa dibilang ala kadarnya. Tapi bagiku, itu jamuan paling mahal. Mereka memberi dari apa yang mereka punya, bukan dari apa yang berlebih.

Di kampung ini, alam seperti ikut bicara. Sawah mengajari sabar, ladang mengajari setia, dan rumah-rumah sederhana mengajari cukup. KKN di Cinarusa bukan sekadar Kuliah Kerja Nyata. Ia berubah menjadi kuliah tentang hidup, tentang bagaimana manusia bisa bertahan, berbagi, dan berharap tanpa banyak tuntutan.

Aku datang sebagai mahasiswa, pulang sebagai manusia yang sedikit lebih peka. Di sini aku belajar bahwa pemberdayaan bukan hanya soal program, tapi soal sikap.

Bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan cara lain untuk kaya. Dan bahwa hidup, seperti tanah di Mandalawangi, akan selalu memberi makna jika kita mau menunduk dan menanam.

Kampung Cinarusa, Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagreg, 18 Januari 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *