Diam Itu Nyaman, Tapi Perubahan Butuh Suara

Diam mungkin terasa nyaman, tapi perubahan tak lahir dari keheningan. Mahasiswa harus kembali bersuara dengan kesadaran, keberanian, dan keberpihakan. Sebab perubahan butuh suara.

Perubahan Butuh Suara
Ilustrasi

Oleh Ibnu Azhar S.A

Kecenderungan mahasiswa memilih diam di tengah berbagai ketidakadilan sosial menunjukkan kemunduran fungsi intelektual mereka sebagai agen perubahan. Banyak yang bersembunyi di balik alasan “fokus akademik” atau “jaga citra”, seolah diam adalah bentuk kedewasaan. Padahal, seperti dikatakan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), pendidikan yang membebaskan menuntut kesadaran kritis (conscientization), yakni kemampuan membaca realitas sosial dan bertindak untuk mengubahnya. Ketika mahasiswa kehilangan suara, maka pendidikan hanya melahirkan individu patuh, bukan manusia merdeka.

Diam Tak Selalu Bijak

Sayangnya, banyak mahasiswa justru aktif hanya saat butuh eksistensi—ketika lomba, tugas, atau dokumentasi publik. Di luar itu, mereka absen dari ruang-ruang perubahan. Diam yang dipilih bukan lagi bentuk refleksi, melainkan bentuk penyesuaian terhadap sistem yang menindas. Dalam konteks ini, netralitas bukan sikap bijak, melainkan bentuk persetujuan diam-diam terhadap ketimpangan.

Baca Juga:  Protes Mahasiswa Global Desak Universitas Putuskan Hubungan dengan Israel

Jika mahasiswa yang terdidik saja enggan bersuara, siapa lagi yang akan menggugat kebijakan yang keliru? Perubahan butuh suara, bukan kenyamanan. Keberanian bersuara memang tak selalu nyaman, tapi dari ketidaknyamanan itulah perubahan lahir.

Perubahan Butuh Suara dalam Dunia yang Sunyi

Maka jangan heran jika hari ini bangsa terasa sunyi. Intelektual mudanya sedang asyik menikmati damai semu, alih-alih mengusik ketidakadilan yang nyata. Mereka lupa bahwa suara—sekecil apapun—adalah titik awal perubahan sosial.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa keberpihakan pada keadilan adalah panggilan iman. Diam di hadapan ketidakadilan bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebenaran.

Suara Mahasiswa, Energi Perubahan

Mahasiswa harus kembali menemukan suaranya. Bukan untuk sekadar berbicara, tetapi untuk menyuarakan kebenaran dan mendorong perubahan. Perubahan butuh suara, dan suara itu harus lahir dari kesadaran, keberanian, dan keberpihakan pada yang benar.

*Penulis Mahasiswa KPI IAI Persis Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *