Gencatan Senjata Iran-Israel Masih Rapuh, Analis Peringatkan Potensi Bentrokan Baru

Gencatan senjatan Iran-Israel
Gencatan Senjata Iran dan Israel Masih Rapuh (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Internasional, daras.id — Gencatan senjata antara Iran dan Israel yang mulai berlaku sejak 24 Juni 2025 memberi harapan jeda konflik di kawasan Timur Tengah. Namun, banyak analis menilai perdamaian ini masih sangat rapuh. Ketegangan historis dan ketidakpercayaan mendalam antara Teheran dan Tel Aviv masih menyelimuti situasi yang bisa berubah sewaktu-waktu jika diplomasi tak segera diintensifkan.

Ketidakpercayaan yang Mengakar

Pakar hubungan internasional menyebut bahwa kedua negara masih menyimpan luka strategis. Serangan udara Israel yang dibantu Amerika Serikat memang menargetkan fasilitas nuklir Iran, namun menurut laporan Reuters dan The Guardian, serangan tersebut hanya menimbulkan kerusakan terbatas dan tidak menghentikan sepenuhnya program nuklir Iran.

Financial Times melaporkan bahwa gencatan senjata ini bersifat “delicate”—ringkih dan tidak memiliki fondasi politik yang kuat. Business Insider menambahkan bahwa Iran masih menyimpan beberapa kartu strategis, termasuk pengaruh terhadap kelompok bersenjata di kawasan dan potensi manuver di Selat Hormuz, jika konflik kembali meletus.

Baca Juga:  Konflik Israel–Iran dalam Perspektif Politik Multipolar: Tinjauan Teoritis Andrew Heywood

Harapan pada Jalur Diplomasi

Sejumlah negara seperti Qatar, AS, dan beberapa anggota Uni Eropa menyerukan dilanjutkannya pembicaraan nuklir yang sebelumnya mandek. Sayangnya, rencana perundingan lanjutan di Jenewa masih belum memiliki kepastian. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum diberi akses penuh ke fasilitas nuklir Iran sejak gencatan diberlakukan.

Kondisi sosial-politik di masing-masing negara juga menjadi cerminan suasana pascakonflik. Di Israel, kehidupan masyarakat mulai pulih perlahan—aktivitas publik kembali berjalan, namun dengan kewaspadaan tinggi terhadap potensi serangan balasan. Di sisi lain, Iran menghadapi tantangan dalam negeri, termasuk penguatan kontrol keamanan dan pembatasan akses informasi, yang oleh pemerintah dianggap sebagai respons terhadap potensi infiltrasi asing pascaserangan.

Analis: Jika Diplomasi Mandek, Konflik Bisa Terulang

Sejumlah analis memperingatkan bahwa tanpa langkah diplomasi konkret, skenario konflik bisa kembali muncul, antara lain:

  • Iran bisa mempercepat program nuklirnya secara tertutup di luar pengawasan IAEA.
  • Israel kemungkinan melakukan serangan dengan dalih “pencegahan” jika mendeteksi peningkatan kapasitas nuklir Iran.
  • Kelompok proxy seperti Hizbullah di Lebanon atau Houthi di Yaman berpotensi mengaktifkan kembali konflik regional.

Washington Post menulis bahwa “gencatan senjata hanyalah jeda yang menunggu pecah kembali, jika tidak ada jaminan konkret dalam pembicaraan lanjutan.”

Baca Juga:  Serangan AS-Israel ke Iran: Dalih Nuklir atau Hegemoni?

Meski saat ini gencatan senjata masih berlangsung, banyak analis menilai bahwa gencatan senjata Iran-Israel masih rapuh. Karena itu, mendesaknya diplomasi nuklir dan pengembalian akses IAEA dianggap langkah prioritas agar ketegangan tidak memasuki fase baru yang bisa menciptakan eskalasi regional yang lebih luas.

(San)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *