Website Berita dan Opini
Indeks

Isra Mi’raj dalam Sains: Melintasi Dimensi atau Melawan Hukum?

Isra Mi'raj dalam Sains: Melintasi Dimensi atau Melawan Hukum Alam?
Foto: Nitikan.id. Isra mi’raj dikaitkan dengan sains

 

Oleh Nurdin Qusyaeri 

Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang melibatkan perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dalam waktu yang sangat singkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra) dan kemudian naik ke langit tertinggi hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dari sudut pandang iman, peristiwa ini adalah mukjizat yang menunjukkan kebesaran Allah.

Namun, bagaimana sains menjelaskan fenomena ini? Bisakah teori fisika membantu memahami perjalanan yang tampaknya mustahil ini?

1. Kecepatan Cahaya dan Relativitas Waktu

Dalam fisika, kecepatan cahaya adalah batas tertinggi bagi pergerakan dalam ruang-waktu. Cahaya bergerak dengan kecepatan 299.792.458 km per detik atau sekitar 300.000 km per detik.

Ini berarti dalam satu detik, cahaya dapat mengelilingi Bumi sekitar 7 kali.

Albert Einstein dalam Teori Relativitas menyatakan bahwa semakin cepat suatu benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, semakin besar energi yang dibutuhkan, dan waktu bagi objek tersebut akan melambat drastis dibandingkan dengan pengamat di luar sistemnya.

Jika Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan dengan kecepatan mendekati atau bahkan melebihi kecepatan cahaya, maka waktu bagi beliau bisa terasa singkat, sementara bagi dunia luar waktu tetap berjalan seperti biasa.

Ini memungkinkan perjalanan jauh dalam rentang waktu yang tampak mustahil menurut ukuran manusia biasa.

2. Perhitungan Perjalanan dengan Kecepatan Cahaya

Guru Besar Teori Fisika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Purwanto, menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad ﷺ menggunakan kecepatan cahaya, maka dalam satu jam beliau bisa menempuh jarak sekitar 4,32 miliar kilometer.

Jika kita mengasumsikan perjalanan Isra Mi’raj berlangsung selama 8 jam, maka jarak yang bisa ditempuh adalah sekitar 34,56 miliar kilometer.

Sebagai perbandingan:

  • Jarak dari Bumi ke Pluto (planet terjauh di Tata Surya) adalah sekitar 5,9 miliar km.
  • Jarak dari Bumi ke bintang terdekat (Proxima Centauri) adalah sekitar 40 triliun km.
Baca Juga:  Mempersiapkan Generasi Emas 2045

Dengan angka-angka ini, dapat dibayangkan bahwa perjalanan Isra Mi’raj melampaui batas fisika klasik yang kita pahami.

Jika perjalanan ini melibatkan kecepatan yang jauh lebih besar dari cahaya atau bahkan menembus dimensi lain, maka sains saat ini belum bisa menjelaskannya sepenuhnya.

3. Lubang Cacing dan Perjalanan Antar Dimensi

Dalam fisika teoretis, ada konsep wormhole atau lubang cacing, yaitu semacam terowongan ruang-waktu yang dapat menghubungkan dua titik berbeda dalam sekejap.

Jika Isra Mi’raj melibatkan teknologi atau fenomena seperti ini, maka perjalanan tersebut menjadi lebih masuk akal dalam konteks ilmiah.

Selain itu, teori multiverse menyatakan bahwa ada kemungkinan adanya dimensi lain di luar alam semesta yang kita kenal. Dalam Islam, konsep alam gaib sudah lama dikenal.

Jika perjalanan Mi’raj melibatkan transisi ke dimensi lain, maka ini sejalan dengan teori fisika modern yang mulai mengakui adanya realitas di luar ruang-waktu kita.

4. Isra Mi’raj Mukjizat di Atas Sains

Meskipun sains memberikan beberapa kemungkinan tentang bagaimana Isra Mi’raj bisa terjadi—melalui kecepatan cahaya, relativitas waktu, lubang cacing, atau perjalanan antar dimensi—tetap ada batas yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan teori fisika.

Seperti yang dikutip dari Prof. Dr. Muhammad Sameh Said dalam bukunya Muhammad Sang Yatim, percakapan Nabi Muhammad ﷺ dengan Allah di Sidratul Muntaha adalah sesuatu yang tak terjangkau oleh akal manusia.

Ini menunjukkan bahwa Isra Mi’raj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pengalaman spiritual yang membuktikan kebesaran Allah.

Pada akhirnya, Isra Mi’raj adalah mukjizat yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh sains. Namun, kajian ilmiah ini justru semakin menunjukkan bahwa alam semesta menyimpan banyak rahasia yang masih belum kita pahami.

Baca Juga:  Perguruan Tinggi Islam PERSIS: Antara Ideologi, Jihad Intelektual, dan Arah Transformasi

Peristiwa ini mengajarkan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh hukum fisika yang kita kenal saat ini.

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *