
Oleh NurdinQusyaeri
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Sebuah perjalanan yang tak hanya melibatkan dimensi ruang dan waktu, tetapi juga menyentuh inti spiritualitas seorang utusan Allah.
Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian, setelah Rasulullah ﷺ kehilangan dua orang tercintanya: Siti Khadijah, istri setia yang selalu mendukung dakwahnya, dan Abu Thalib, paman yang menjadi pelindungnya dari ancaman kaum Quraisy.
Kehilangan ini begitu mendalam, sehingga tahun tersebut disebut sebagai ‘Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Dalam keterpurukan itu, Allah memberikan pelipur lara dengan memperjalankan Rasul-Nya dalam peristiwa Isra Mi’raj.
Menurut Ibnul Qayyim, dalam riwayat yang sahih, Rasulullah ﷺ diperjalankan dengan jasad dan ruhnya dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dengan menaiki Buraq, makhluk Allah yang luar biasa cepatnya.
Dari sana, Nabi ﷺ melanjutkan perjalanan menuju langit tertinggi, Sidratul Muntaha, dengan dipandu Malaikat Jibril.
Dalam Mi’raj, Rasulullah ﷺ bertemu dengan para nabi di tiap tingkatan langit: Adam di langit pertama, Isa dan Yahya di langit kedua, Yusuf di langit ketiga, Idris di langit keempat, Harun di langit kelima, Musa di langit keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh.
Setiap nabi menyambut Rasulullah dengan penghormatan penuh cinta, mengisyaratkan keluhuran misinya sebagai nabi terakhir.
Di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ menyaksikan keagungan Allah yang tak tertandingi.
Di sini pula Nabi menerima perintah shalat lima waktu, setelah sebelumnya ditetapkan 50 kali.
Dalam dialog dengan Nabi Musa AS., Rasulullah diminta memohon keringanan hingga akhirnya menjadi lima waktu sehari semalam, dengan pahala yang setara dengan 50 kali shalat.
Prof. Dr. Muhammad Sameh Said dalam bukunya “Muhammad Sang Yatim” menjelaskan bahwa di Sidratul Muntaha terjadi percakapan spiritual yang mendalam antara Nabi Muhammad ﷺ dan Allah SWT. Nabi berkata dengan penuh kerendahan hati:
“Attahiyyatu lillahi was shalawatu wat thayyibat.” (Kemuliaan, shalawat, dan kebaikan adalah milik Allah).
Allah menjawab dengan kasih-Nya:
“Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.” (Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya).
Nabi pun menjawab:
“Assalamu’alaina wa’ala ibadillahish shalihin.” (Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih).
Percakapan ini menjadi inti dari tahiyat yang diucapkan umat Islam dalam setiap shalat mereka, mengingatkan bahwa shalat adalah perjalanan ruhani menuju Allah, sebagaimana Isra Mi’raj adalah perjalanan agung Nabi ﷺ.
Seyyed Hossein Nasr dalam “Muhammad Kekasih Allah” menegaskan bahwa Isra Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual shalat. Salat adalah mi’raj bagi orang beriman, sebuah medium untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Peristiwa ini juga mengingatkan umat Islam tentang kekuasaan Allah, pentingnya kepatuhan, dan keimanan kepada hal-hal ghaib.
Isra Mi’raj juga menegaskan peran Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin spiritual yang melampaui batas ruang dan waktu.
Rasulullah ﷺ tidak hanya memimpin para nabi dalam shalat di Masjidil Aqsa, tetapi juga menyatukan umat manusia dalam persaudaraan universal.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa dalam masa-masa tergelap sekalipun, selalu ada cahaya harapan dari Allah SWT.
Kepergian orang-orang tercinta Rasulullah ﷺ tidak mengakhiri perjuangannya, melainkan memperkokoh misinya sebagai pembawa risalah.
Bagi setiap muslim, peristiwa ini mengajarkan pentingnya shalat sebagai tiang agama dan sebagai cara untuk mencapai Sidratul Muntaha dalam kehidupan spiritual kita.
Peringatan Isra Mi’raj yang jatuh pada 27 Rajab bukan sekadar ritual, tetapi momen refleksi mendalam atas hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Semoga perjalanan spiritual Rasulullah ﷺ ini senantiasa menginspirasi kita untuk terus mendekat kepada Allah, menjadikan shalat sebagai mi’raj kita menuju kedekatan dengan-Nya.
Wallahu’alam.






