
Oleh Nurdin Qusyaeri
Malam yang sunyi, merintih senyap,
Dunia diam, kala langit menyiapkan titah yang terucap.
Di balik tirai malam, Rasul terpilih,
Dipanggil mengarungi ruang yang tak pernah terlihat.
Oh Buraq, tunggangan cahaya,
Membawa sang kekasih menuju cinta yang Maha.
Melintasi bebatuan fana,
Menuju Aqsa, rumah para nabi terdahulu pernah singgah.
Langit pertama hingga ketujuh,
Adam menyapa dengan kasih yang teduh.
Yusuf tersenyum dalam keelokan,
Musa memberi petuah, penuh keakraban.
Hingga Ibrahim, di puncak takdir yang tertinggi,
Menanti dengan doa suci tanpa henti.
Di Sidratul Muntaha, pena-pena menggores takdir,
Namun Jibril terdiam, langkahnya terhenti getir.
“Ini bukan makomku lagi,” bisiknya sendu,
Hanya engkau, wahai Muhammad, yang mampu.
Di hadapan Arsy, suara lembut menyapa,
“Attahiyyat,” ucapmu penuh cinta.
Dan Allah menjawab dengan rahmat dan salam,
Mengalirkan damai ke seluruh alam.
Perintah turun, lima waktu menjadi lentera,
Dari lima puluh, menjadi kasih yang sempurna.
Engkau pun kembali, membawa amanah,
Untuk umat yang merindu dalam ibadah.
Isra Miraj, jejak cinta yang abadi,
Menyulam langit dan bumi dalam harmoni.
Oh jiwa yang rindu, tengadahkan doa,
Karena setiap sujud adalah mi’raj yang nyata.
Wallahu’alam






