
Internasional, Daras.id – Serangan udara Israel di Doha, Qatar, pada Selasa (9/9/2025) menewaskan enam orang, termasuk putra dari Khalil al-Hayya—negosiator senior Hamas—dan seorang petugas keamanan Qatar. Serangan ini menargetkan pejabat Hamas yang tengah berada di Qatar, namun tokoh utama yang menjadi sasaran dilaporkan selamat.
Menurut Associated Press (AP), korban terdiri dari lima anggota Hamas berpangkat rendah serta satu petugas keamanan Qatar. Al Jazeera menegaskan bahwa serangan tersebut terjadi di tengah proses peninjauan proposal gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.
Kecaman Internasional
Serangan Israel memicu kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional:
- Rusia menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.”
- Uni Eropa mengutuk keras aksi Israel dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Qatar.
- Dewan Keamanan PBB, dengan dukungan AS, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Israel.
Qatar sendiri menyatakan serangan ini telah “membunuh harapan” tercapainya kesepakatan pertukaran sandera dan gencatan senjata.
Analisa dari Media Internasional
Beberapa media menilai serangan ke Qatar ini sebagai eskalasi serius:
- Reuters menulis bahwa serangan tidak akan mengubah tuntutan Hamas dalam perundingan, yaitu gencatan senjata penuh, pembebasan sandera, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi Gaza.
- Al Jazeera menekankan bahwa serangan di luar zona konflik biasa—seperti Gaza atau Lebanon—menunjukkan Israel bersedia memperluas operasi militer bahkan ke wilayah negara Teluk.
- AP News mengingatkan bahwa serangan di Doha berisiko merusak diplomasi yang selama ini dijalankan Qatar sebagai mediator utama konflik Gaza.
Risiko Eskalasi Regional
Pengamat menilai serangan Israel di Qatar bukan hanya persoalan militer, tetapi juga membuka babak baru dalam geopolitik Teluk. Dengan Qatar sebagai salah satu pemasok gas terbesar dunia, instabilitas di Doha berpotensi memengaruhi pasar energi global sekaligus mempercepat terbentuknya blok solidaritas negara Teluk menghadapi Israel.
(Daras.id, Newsroom)






