
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd.
Pagi ini kita berkumpul kembali dalam suasana sukacita. Hari raya kembali datang menyapa kita. Segala puji bagi Dia yang telah menurunkan semua karunia. Sungguh, setiap kali ada nikmat, tersimpan juga kewajiban berbuat. Sebuah keraguan datang mendekat: adakah syukur telah terpanjat? Bersama bahagia, hadir pula tanya. Bersama suka, melekat pula duka. Kita terombang-ambing antara harap dan cemas, khauf dan rajaa’, antara penderitaan penantian dan pemenuhan cinta.
Di tengah zaman yang gelap oleh krisis moral dan sosial, khutbah Idul Adha kali ini mengajak kita untuk kembali meneladani kepasrahan Nabi Ibrahim AS. Betapa sang kekasih Allah itu tak hanya diuji dengan perintah menyembelih anaknya, Ismail, tetapi juga dituntut untuk melepaskan segala keterikatan dunia demi meraih ridha Tuhan semata. Ia tidak hanya patuh, tapi juga ikhlas dalam menyerahkan segala yang ia cintai.
Ustadz Nurdin Qusyaeri menggambarkan kepasrahan ini sebagai sebuah bentuk wuquf batin, berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk menyadari kebesaran Allah, kehinaan diri, dan pentingnya bersyukur kepada sesama. Kepasrahan Nabi Ibrahim bukan pasif, tetapi aktif—menjadi energi spiritual untuk memperbaiki dunia.
Khutbah Idul Adha ini juga menyinggung luka umat Islam di berbagai penjuru dunia, terutama Palestina. Ratusan ribu nyawa melayang, dan dunia tampak bungkam. Di sisi lain, Indonesia pun tengah menghadapi badai ketidakadilan dan korupsi. Di sinilah pentingnya kekuatan rabbaniyyah—nilai ilahiyah dalam diri manusia—untuk melawan kecerdikan setan, kebuasan nafsu, dan kerakusan dunia.
Idul Adha bukan sekadar seremoni, tapi ajakan untuk kurban: mengorbankan ego, keangkuhan, dan apatisme. Mari kita hidupkan semangat Nabi Ibrahim dalam kehidupan kita: empati, ketulusan, dan keberanian menegakkan keadilan.
Ingin membaca teks lengkap khutbah ini?
📥 Klik untuk mengunduh versi PDF khutbah lengkap karya Ust. Nurdin Qusyaeri: Download di sini






