
Oleh Beni Ahmad Nurbaeni
Pro dan kontra terhadap kinerja pejabat yang dijadikan konten masih terus hangat dibahas warganet. Di grup-grup WA, Tiktok dan media sosial lainnya, terus bergulir pembahasan konten kinerja gubernur antara yang pro dan kontra. Bukan itu saja, beberapa kebijakan baru yang disodorkan gubernur juga tak luput dari perhatian warganet.
Warganet yang pro, melihat dari sisi “béréhanana”, juga terpantaunya setiap kegiatan gubernur di lapangan. Sehingga bisa terbaca kemampuan seorang pejabat/pemimpin dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh rakyat juga dalam memberikan solusi yang tepat dari masalah tersebut.
Di sisi lain, juga warganet menyoroti pernyataan-pernyataan Gubernur Jabar dalam beberapa lawatan dinasnya. Seperti saat Kang Dedi Mulyadi menghadiri sebuah acara di Kabupaten Cirebon. Disepanjang jalur yang dilewati beliau terpangpang sepanduk-sepanduk yang di antaranya bertuliskan: “KDM Lain Bapa Aing, tapi bapa téré”.
Tak luput pembahasan vasektomi menjadi salahsatu syarat penerima Bansos, UU 28/1999 & UU 30/2014 yang melarang penyalahgunaan jabatan dan wewenang untuk keuntungan pribadi terkait konten-konten yang ditayangkan dalam akun pribadi beliau, dan menjurus kepada permintaan harus segara adanya laporan anggaran, capaian program dan evaluasi masalah rakyat.
Adil jugakah tuntutan-tuntutan yang ditujukan kepada gubernur yang baru bekerja sekitar 80 hari kerja di awal bulan Mei ini?
Wallahu’alam
*Penulis adalah marbot Masjid Al Mujaddid Jalancagak Nagrég.





