
Oleh Nurdin Qusyaeri*
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah mempertemukan kita dalam ruang ini, di bawah naungan ilmu dan cahaya-Nya. Salam dan penghormatan saya sampaikan kepada para dosen, staf, mahasiswa, serta tamu undangan yang hadir.
Terima kasih kepada panitia yang telah merangkai acara ini dengan tema yang begitu menggugah: “Aktualisasi Peran Mahasiswa KPI yang Sinergis dalam Menebar Nilai-nilai Islam”.
Tema ini bagai lentera yang menerangi jalan kita, mengingatkan akan peran mahasiswa KPI sebagai penyambung nurani rakyat dan agen perubahan.
Dalam setiap langkah, mahasiswa KPI tidak hanya dituntut untuk memahami nilai-nilai Islam, tetapi juga harus mampu menebarkannya dengan cara yang sinergis, kreatif, dan penuh makna.
Inilah esensi dari program KPI LINK: Learning, Interacting, dan Knowing – sebuah trilogi yang menjadi pondasi bagi mahasiswa KPI untuk bergerak, berkarya, dan menginspirasi.

KPI LINK: Trilogi yang Menyatukan Hati dan Pikiran
1. Learning: Menyelami Samudera Ilmu
Learning adalah proses menyelami samudera ilmu, menggali mutiara pengetahuan yang tersembunyi di kedalaman. Namun, belajar bukan sekadar menghafal teori atau mengumpulkan sertifikat.
Belajar adalah tentang memahami realitas, merasakan denyut nadi masyarakat, dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan bijak.
Lihatlah Almas Tsaqibbirru, mahasiswa Universitas Negeri Surakarta, yang dengan keberaniannya mengajukan yudisial review ke Mahkamah Konstitusi. Ia berhasil menurunkan batas usia calon presiden dari 40 tahun menjadi boleh kurang dari itu.
Langkahnya bukan hanya mengubah sistem politik, tetapi juga membuka pintu bagi generasi muda untuk berkontribusi lebih besar. Almas membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari dengan hati dan niat tulus dapat menjadi senjata ampuh untuk menciptakan perubahan.
2. Interacting: Menjalin Tali Silaturahmi
Interacting adalah seni menjalin tali silaturahmi, mendengar suara hati masyarakat, dan menjadi penyambung lidah rakyat. Sebagai mahasiswa KPI, kalian adalah calon dai dan komunikator yang harus mampu menyampaikan pesan Islam dengan cara yang menyentuh hati dan menggerakkan pikiran.
Ingatlah kisah empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang mengajukan yudisial review untuk menghapus batas ambang calon presiden (parliamentary threshold) yang sebelumnya harus mencapai 20%. Mereka juga memperjuangkan agar partai politik yang tidak memiliki kursi di parlemen tetap boleh mengusung calon presiden.
Langkah mereka bukan hanya mengubah sistem, tetapi juga membuka ruang demokrasi yang lebih inklusif. Mereka membuktikan bahwa interaksi yang tulus dengan realitas sosial dapat melahirkan perubahan yang nyata.
3. Knowing: Menyentuh Hakikat Kehidupan
Knowing adalah tahap di mana mahasiswa KPI tidak hanya tahu, tetapi juga memahami hakikat kehidupan. Pengetahuan yang mendalam tentang konteks sosial, budaya, dan politik akan menjadi bekal untuk menginspirasi dan menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang lebih baik.
Mahasiswa KPI harus menjadi sosok yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menggerakkan hati dan pikiran orang lain.
Seperti Almas dan empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, mereka tidak hanya berteori, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk mengubah sistem yang tidak adil.

Menyulam Benang-benang Perubahan
Program KPI LINK adalah benang-benang yang menyulam sinergi antara mahasiswa, fakultas, dan masyarakat. Melalui Learning, kalian dibekali ilmu dan pemahaman.
Melalui Interacting, kalian belajar berkomunikasi dan membangun hubungan dengan masyarakat. Melalui Knowing, kalian memahami konteks dan mengambil tindakan yang tepat.
Sinergi inilah yang menjadi kunci untuk menciptakan perubahan yang lebih besar. Mahasiswa KPI harus menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas sosial, serta menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan bagi umat.
Menjadi Pelita di Tengah Kegelapan
Mahasiswa KPI bukan hanya generasi penerus, tetapi juga pelita yang menerangi jalan umat. Seperti Almas dan empat mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, kalian pun memiliki potensi untuk mengubah dunia.
Sekarang, mari mulailah dari hal kecil, dari lingkungan sekitar, dan teruslah belajar, berinteraksi, dan memahami.
Jadilah penyambung nurani rakyat dan agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat.
Wallahu’alam
* Tulisan ini diadaptasi dari sambutan saat pembukaan acara KPI LINK tadi siang di ruang kuliah kampus.






