By Dr. H. Dana, M.E., M.I.Kom
Hidup dalam ruang terbatas tanpa banyak interaksi dengan dunia luar sering kali melahirkan persepsi yang keliru terhadap diri sendiri. Ketika seseorang terlalu lama berkutat pada lingkaran kecil yang itu-itu saja tanpa banyak dialog dan pertukaran pandangan, muncul kecenderungan untuk merasa paling memahami, paling tahu, bahkan paling layak memimpin. Pandangan sempit ini tumbuh bukan karena kapasitas yang luar biasa, melainkan karena kurangnya perbandingan dan minimnya refleksi sosial.
Pergaulan sosial bukan sekadar aktivitas pelengkap kehidupan, melainkan ruang pembelajaran yang efektif. Di sanalah seseorang belajar melihat dirinya secara lebih objektif melalui cermin pengalaman orang lain. Interaksi sosial yang sehat membantu individu memahami bahwa ada banyak hal yang belum diketahui, dan bahwa dirinya bukan pusat semesta. Kesadaran ini membentuk kerendahan hati, membuka ruang refleksi, serta menjauhkan dari sikap arogan yang semu. Tanpa pergaulan yang luas, seorang pemimpin sangat rentan hidup dalam gelembung persepsi diri yang keliru.
Teori interaksionisme simbolik yang diperkenalkan oleh George Herbert Mead memberikan dasar untuk memahami pentingnya interaksi sosial dalam pembentukan identitas. Dalam pandangannya, seorang individu tidak lahir dalam isolasi, melainkan dibentuk melalui proses pertukaran makna dengan orang lain. Tanpa keberadaan orang lain sebagai “significant others”, seseorang tidak akan mampu membentuk konsep diri yang realistis. Dalam konteks kepemimpinan, hal ini sangat penting.
Pemimpin yang miskin pergaulan akan mengalami kesulitan mengenali posisi dan pengaruhnya secara realistis. Ia kehilangan peta sosial, gagal membaca dinamika, dan akhirnya mengambil keputusan berdasarkan persepsi yang terbatas.
Pola kepemimpinan yang dibangun tanpa relasi yang sehat dan keterbukaan terhadap masukan sangat rentan menumbuhkan kekakuan dalam pengambilan keputusan. Ketika suatu otoritas terbentuk dalam ruang yang tertutup, kekuasaan cenderung berkembang secara sepihak. Dalam situasi ini, keputusan lebih didorong oleh dominasi daripada musyawarah.
Kekuasaan semacam ini sangat rapuh, karena ketika seorang pemimpin membuat kesalahan, tidak ada dukungan sosial yang cukup untuk mencegah kejatuhan. Hubungan yang terbentuk hanya bersifat formal, tanpa dasar sosial yang kuat untuk menahan dampak dari keputusan yang keliru.
Michel Foucault, dalam pemikirannya mengenai kekuasaan, mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh posisi struktural, tetapi oleh jaringan hubungan dan diskursus yang terbentuk. Ketika pemegang kekuasaan kehilangan relasi timbal balik dengan lingkungan sosialnya, kekuasaan itu menjadi kaku, tertutup, dan akhirnya rapuh. Kekuasaan yang tidak dikawal oleh kritik dan pengawasan sosial lambat laun berubah menjadi bentuk otoritarianisme tersembunyi, di mana kebenaran diklaim tunggal dan tidak dapat diganggu gugat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada jabatan atau otoritas struktural, melainkan pada kemampuan membangun jalinan sosial yang sehat. Pergaulan yang luas, interaksi yang jujur, dan kesediaan untuk mendengar pendapat orang lain adalah bentuk kekuatan sosial yang lebih tahan uji. Melalui keterbukaan terhadap dunia luar, tercipta pemahaman yang lebih utuh, tidak hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang keterbatasan diri sendiri.
Dalam dunia nyata, individu yang aktif bersosialisasi cenderung memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap dinamika lingkungan. Kemampuan beradaptasi, kepekaan terhadap perubahan, serta sikap empatik terhadap kondisi orang lain lebih mudah tumbuh dalam diri seseorang yang terbiasa berinteraksi lintas latar belakang.
Sebaliknya, kurangnya interaksi sosial dapat mengakibatkan lahirnya keputusan-keputusan yang tidak kontekstual, serta kegagalan memahami aspirasi yang berkembang di lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, bagi seorang pemimpin membangun budaya bergaul dan terbuka bukan sekadar strategi sosial, tetapi kebutuhan mendasar dalam pembentukan kepribadian yang seimbang. Dunia luar bukan ancaman, tetapi laboratorium kehidupan yang menyajikan pelajaran tentang siapa sebenarnya diri ini di antara manusia lain.
Semakin terbuka terhadap dunia, semakin sadar bahwa posisi pribadi bukanlah pusat dari segalanya dan kesadaran inilah yang melindungi seseorang dari kesombongan yang menjerumuskan.
Pemimpin yang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang hanya dipenuhi pujian atau keheningan tanpa kritik perlahan menciptakan gambaran yang keliru tentang dirinya. Pemimpin tersebut mulai merasa bahwa setiap keputusannya tidak mungkin salah, dan kekuasaan yang dimilikinya seolah tak terbantahkan.
Dari sinilah tumbuh keyakinan bahwa dirinya adalah sosok pemimpin yang mumpuni dan tidak perlu lagi mendengar pandangan orang lain. Keyakinan semacam ini berbahaya karena menutup ruang refleksi, menghapus rasa butuh terhadap masukan, dan pada akhirnya menjauhkan pemimpin dari realitas sosial yang sebenarnya.
Seringkali, pemimpin yang hidup dalam ruang terbatas akan merasa nyaman hanya dengan segelintir orang yang setuju dengannya. Ia menganggap rapat sebagai ruang legitimasi, bukan diskusi. Setiap suara yang berbeda dianggap ancaman, bukan masukan.
Maka, yang hadir bukan lagi rapat yang sehat, melainkan semacam seremoni pengukuhan pendapatnya sendiri. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan menjadi sunyi dari suara kebenaran. Bahkan tidak jarang, ketika seorang bawahan menyampaikan pendapat berbeda, pemimpin merasa diserang atau dilecehkan. Reaksi yang muncul bukan keterbukaan ruang dialog, melainkan kemarahan yang dibungkus dengan dalih menjaga wibawa. Perbedaan pendapat dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan, bukan partisipasi intelektual. Dalam iklim seperti ini, pengekor lebih dihargai dibandingkan kejujuran, dan diam menjadi strategi bertahan yang paling aman.
Kekuasaan semacam ini bersifat artifisial yang tampak kuat, namun kosong dari kekuatan sosial yang hakiki. Dalam konteks ini, pemikiran Michel Foucault menjadi relevan. Foucault menekankan bahwa kekuasaan bukan sekadar alat kontrol yang mengalir satu arah, tetapi sebuah jejaring relasi. Pemimpin yang membangun otoritas tanpa jejaring dialog dan pertukaran pandangan sejatinya sedang menyempitkan makna kekuasaannya sendiri.
Sering kali pemimpin seperti ini dikelilingi oleh kepatuhan semu. Orang-orang di sekitarnya diam bukan karena hormat, tetapi karena takut. Tidak ada diskusi, tidak ada kritik, dan yang lebih fatal tidak ada rasa memiliki dari bawahannya. Ketika badai datang, dan keputusan yang diambil pemimpin terbukti keliru, maka struktur yang dibangun dengan kekuasaan itu runtuh begitu saja. Tidak ada kekuatan sosial yang menopang, karena selama ini hubungan yang dibangun adalah hubungan vertikal yang kaku, bukan kolaboratif yang mengakar.
Dalam filsafat sosial, Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik di mana dialog rasional bisa tumbuh. Ketika pemimpin menutup ruang-ruang ini baik secara formal maupun emosional maka legitimasi kepemimpinannya perlahan terkikis. Sebab kekuasaan sejati bukan hanya berasal dari posisi struktural, melainkan dari kepercayaan yang tumbuh lewat komunikasi, partisipasi, dan pengakuan sosial.
Dalam banyak kasus, kejatuhan pemimpin bukan karena serangan dari luar, melainkan karena ia membiarkan dirinya terlalu lama berada dalam ruang kekuasaan yang sunyi dari kritik. Ia keliru menilai keheningan sebagai dukungan, padahal itu adalah tanda menjauhnya kepercayaan. Ketika pemimpin menjauh dari realitas sosial, maka rakyat, tim kerja, atau anggota organisasi pun mulai menjauh dari dirinya.
Kepemimpinan sejati justru dibangun di atas pondasi keterbukaan. Seorang pemimpin harus berani turun dari menara gading kekuasaan dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Ia harus membangun jejaring sosial, mendengar pendapat yang berbeda, dan membuka diri pada kritik. Dengan cara inilah ia bukan hanya memimpin secara struktural, tetapi juga secara sosial dengan kekuatan yang lebih tahan uji.
Oleh karena itu, menjadi pemimpin yang bergaul bukanlah bentuk kelemahan, melainkan langkah strategis dalam menjaga kewarasan kepemimpinan. Dunia sosial adalah cermin yang paling jujur untuk mengenali diri. Pemimpin yang terbuka pada dunia luar, akan mengenal dirinya lebih baik, mengenali kebutuhan orang lain lebih akurat, dan pada akhirnya membangun kekuasaan yang tidak hanya dihormati, tetapi juga dicintai.
Wallahu a’lam bish-shawab
*Penulis adalah dosen Ekonomi syariah IAI Persis Bandung, Ketua Departemen Ekonomi Kreatif Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Barat, dan Owner: PT. Sarana Nusantara Bersatu (SNB)







