
Oleh Nurdin Qusyaeri
Hari kedelapan belas. Puasa dan Dakwah Ekologis. Di luar sana, langit mendung menggantung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan: potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia pada pekan-pekan awal Ramadhan 1447 H ini.
Fenomena La Niña yang masih aktif, ditambah dengan Madden Julian Oscillation (MJO), membuat intensitas hujan meningkat signifikan .
Ini bukan sekadar berita cuaca biasa. Ini adalah alarm. Alarm bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Bahwa krisis iklim yang selama ini kita dengar sebagai wacana global, kini sudah di depan mata. Dan ironisnya, di bulan yang seharusnya melatih kita menahan diri, justru sering terjadi peningkatan konsumsi yang memperparah kerusakan lingkungan.
Pertanyaan untuk kita: di mana peran puasa dalam krisis ini?
Data dan Fakta: Ironi Konsumsi di Bulan Puasa
Mari kita lihat angka-angka yang mencengangkan ini. Berdasarkan proyeksi terbaru, volume sampah nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mencapai 12,4 juta ton, di mana porsi terbesarnya—57 persen—berasal dari sampah makanan .
Untuk membayangkan skala besarnya, akumulasi limbah tahunan ini setara dengan membentuk bukit sampah setinggi Tugu Monas di atas lahan seluas 170 lapangan sepak bola.
Di negara tetangga Malaysia, data menunjukkan bahwa selama Ramadhan, hampir 90.000 ton sisa makanan berakhir di tempat pembuangan sampah .
Di Qatar, para ahli memperkirakan pemborosan makanan selama Ramadhan mencapai 30 hingga 50 persen dari total makanan yang disiapkan di rumah, hotel, dan restoran .
Lebih mengerikan lagi, sisa makanan yang membusuk di tempat pembuangan sampah menghasilkan gas metana. Dalam perspektif kimia lingkungan, gas metana adalah salah satu gas rumah kaca utama dengan kemampuan memerangkap panas 28 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka waktu 100 tahun .
Artinya, setiap butir nasi yang kita buang, setiap lauk yang tersisa di piring, berkontribusi langsung pada pemanasan global.
Di sisi lain, laporan PBB melalui The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) mencatat sekitar 673 juta jiwa masih terjebak dalam krisis pangan akut secara global . Sungguh ironi yang tak terperi: di saat separuh dunia kelaparan, kita justru sibuk membuang makanan.
Fondasi Teologis: Mizan dan Khilafah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini, menurut para mufasir, adalah peringatan tegas bahwa kerusakan ekologis adalah akibat langsung dari ulah tangan manusia. Prof. Dr. Riyanta, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan bahwa krisis ekologi saat ini merupakan validasi empiris atas peringatan Al-Qur’an ini .
Dalam studi ekoteologi kontemporer, konsep mizan (keseimbangan) menjadi kunci. Allah berfirman:
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9)
Alam semesta diciptakan dalam kondisi seimbang (mizan). Manusia diberi amanah sebagai khalifah—pemimpin, pengelola, penjaga bumi. Bukan sebagai penguasa yang boleh mengeksploitasi seenaknya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa setiap nikmat yang Allah berikan akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk nikmat alam semesta.
Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim, dalam berbagai karyanya menegaskan bahwa krisis lingkungan modern adalah akibat dari hilangnya kesadaran akan yang sakral dalam alam. Manusia modern melihat alam hanya sebagai objek, bukan sebagai ayat (tanda) kebesaran Tuhan.
Al-Mizan: Dokumen Bersejarah Ulama Islam untuk Bumi
Pada Februari 2024, sebuah dokumen bersejarah lahir di Nairobi, Kenya. Berjudul “Al-Mizan: A Covenant for the Earth”, dokumen ini ditandatangani oleh para ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka dari seluruh dunia .
Dokumen ini, yang sering disebut sebagai “saudara Muslim” dari ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’, menegaskan bahwa ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk aktif menjaga ciptaan. Para ulama menyerukan negara-negara Muslim dan perusahaan-perusahaan minyak untuk “beralih dengan cepat dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan” .
Beberapa poin penting dari dokumen Al-Mizan:
1. Semua makhluk memiliki nilai intrinsik dan merefleksikan kehadiran Ilahi. Menghancurkan ekosistem dan menyebabkan kepunahan spesies adalah “ekosida” yang dianalogikan dengan kejahatan terhadap kemanusiaan.
2. Kita diperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa mengubah ciptaan Allah adalah tindakan setanik.
3. Pembakaran bahan bakar fosil telah mengganggu keseimbangan (mizan) sistem bumi yang saling terhubung.
4. Para ulama mendukung usulan Traktat Non-Proliferasi Bahan Bakar Fosil (Fossil Fuel Non-Proliferation Treaty).
Ini adalah bukti bahwa Islam memiliki respons teologis yang kuat terhadap krisis iklim. Pertanyaannya: sejauh mana kita, sebagai umat Islam biasa, mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari?
Green Ramadhan antara Konsep dan Praktik
Gufron Amirullah, dosen Uhamka, dalam tulisannya di Suara Muhammadiyah mengusung konsep “Green Ramadhan” . Ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan keharusan etis untuk menghentikan “sampah moral” yang dihasilkan dari ketidakbijaksanaan kita dalam mengelola konsumsi.
Apa saja yang bisa kita lakukan?
Pertama, mengurangi sampah makanan. Belilah makanan secukupnya. Hindari “lapar mata” saat membeli takjil. Ingat, nasi yang kita buang hari ini adalah doa yang tidak terkabul untuk saudara kita yang kelaparan.
Kedua, mengurangi penggunaan plastik. Bawa wadah sendiri saat membeli takjil. Gunakan botol minum isi ulang. Setiap plastik sekali pakai butuh ratusan tahun untuk terurai.
Ketiga, hemat air dan energi. Jangan biarkan keran mengalir percuma saat wudhu. Matikan lampu yang tidak perlu. Di Qatar, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi energi dan air selama Ramadhan meningkat signifikan tanpa disadari dampak lingkungannya .
Keempat, memanfaatkan sisa makanan. Olah kembali sisa makanan yang masih layak, atau berikan kepada yang membutuhkan. Program-program seperti MySaveFood di Malaysia bisa menjadi inspirasi .
Kelima, dukung energi bersih. Di Indonesia, gerakan Wakaf Energi dan Sedekah Energi telah diluncurkan untuk membiayai pemasangan panel surya di masjid-masjid. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik inisiatif ini, mengingatkan teladan sahabat Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur untuk kedaulatan air—kini saatnya wakaf untuk kedaulatan energi .
Kesalehan Ekologis merupakan Bentuk Takwa dalam Dimensi Baru
Prof. Dr. Riyanta memperkenalkan istilah “kesalehan ekologis” sebagai dimensi baru ketakwaan yang perlu dikembangkan . Selama ini kita mengenal kesalehan ritual (hablun minallah) dan kesalehan sosial (hablun minannas). Kini saatnya menambahkan kesalehan ekologis (hablun minal ‘alam).
Puasa, dengan segala latihan pengendalian dirinya, adalah momentum tepat untuk membangun kesalehan ekologis ini. Mengapa? Karena puasa melatih kita untuk tidak berlebihan. Puasa mengajarkan kita untuk merasa cukup. Puasa membiasakan kita untuk menahan diri.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ menjelaskan bahwa puasa yang benar akan menghasilkan takwa. Dan takwa dalam perspektif ekologis berarti kesadaran bahwa setiap tindakan kita terhadap alam akan dimintai pertanggungjawaban secara transendental.
Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi -nya berkata:
“Jangan kau kira bumi ini mati.
Ia hidup, ia merasa, ia bertasbih.
Setiap butir tanah yang kau injak,
Adalah saksi bisu atas amalmu.
Maka berjalanlah dengan lembut,
Karena kau tak pernah tahu,
Mungkin di bawah kakimu,
Ada taman surga yang tersembunyi.”
Rumi mengajarkan bahwa alam semesta adalah komunitas makhluk hidup yang bertasbih kepada Allah. Menyakitinya berarti menyakiti makhluk yang sedang beribadah.
Kritik atas Materialisme dan Konsumerisme
Di sinilah puasa menjadi kritik paling tajam atas gaya hidup modern yang serba berlebihan. Kapitalisme telah mengubah Ramadhan menjadi ajang konsumsi. Iklan-iklan berbondong-bondong menawarkan diskon. Mal-mal penuh sesak dengan pemburu baju baru. Hidangan berbuka semakin meriah, semakin banyak, semakin mahal.
Para ahli di Qatar menyebut fenomena ini sebagai paradoks fundamental: puasa seharusnya mengatur hasrat, tapi dalam praktiknya justru sering dibarengi dengan konsumsi berlebihan dan pemborosan .
Ini yang disebut Gufron Amirullah sebagai “anomali perilaku konsumsi” . Kita menahan diri di siang hari, tapi “balas dendam” di malam hari.
Padahal, esensi puasa adalah pengendalian diri secara total, bukan sekadar perpindahan waktu makan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa makan berlebihan adalah sumber berbagai penyakit fisik dan spiritual. Maka, menahan diri saat berbuka adalah kelanjutan dari puasa itu sendiri.
Kritik Ekologis dengan Gaya Humor
Abu Nawas, seperti biasa, punya cara khas untuk menyindir. Suatu hari ia melihat tetangganya pulang dari bazar Ramadhan dengan puluhan kantong plastik. Isinya: aneka gorengan, es buah, kolak, dan lauk pauk.
“Wahai tetangga,” kata Abu Nawas, “engkau puasa seharian, lalu kau beli makanan sebanyak ini. Berapa orang di rumahmu?”
“Lima orang,” jawab tetangga itu.
“Lalu kenapa kau beli makanan untuk lima puluh orang?”
“Ini untuk jaga-jaga, Abu Nawas. Siapa tahu ada tamu.”
Abu Nawas tersenyum sinis. “Tamu yang mana? Yang datang berkunjung, atau yang datang berupa sampah plastik yang akan menumpuk di depan rumahmu?”
Tetangga itu terdiam. Abu Nawas melanjutkan,
“Di hari kiamat nanti, setiap helai plastik yang kau gunakan akan bersaksi. Mereka akan berkata, ‘Ya Allah, hamba-Mu ini memakanku sekali pakai, lalu membuangku ke bumi. Padahal aku butuh 500 tahun untuk terurai.’ Siap-siap saja punya saksi sebanyak sampah plastikmu.”
Refleksi di Hari Kedelapan Belas
Hari kedelapan belas. Sebentar lagi Ramadhan akan pergi. Sebentar lagi kita akan merayakan kemenangan. Tapi pertanyaannya: kemenangan seperti apa yang kita rayakan jika bumi semakin sekarat?
Jika setelah Ramadhan kita tetap boros, tetap konsumtif, tetap abai pada lingkungan, maka puasa kita baru berhasil di level perut, belum di level kesadaran.
Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan. Puasa awam: sekadar menahan lapar dan haus. Puasa khusus: menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Puasa khususul khusus: puasa hati dari segala keinginan rendah, termasuk keinginan berlebihan pada dunia.
Kesalehan ekologis adalah bagian dari puasa khusus. Ketika kita menahan diri dari konsumsi berlebihan, kita sedang menahan tangan dari dosa terhadap bumi.
Ketika kita memilah sampah, kita sedang menahan kaki dari kerusakan. Ketika kita mengurangi penggunaan plastik, kita sedang menahan lisan dari pembiaran.
Pamungkas: Puasa sebagai Aksi Iklim
Di penghujung Ramadhan ini, mari kita jadikan puasa sebagai aksi iklim. Bukan sekadar ritual tahunan yang habis begitu saja, tapi gerakan transformatif yang mengubah cara kita berelasi dengan alam.
Dokumen Al-Mizan mengingatkan kita: “Kita diperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa mengubah ciptaan Allah adalah tindakan setanik” .
Sebaliknya, menjaga ciptaan Allah adalah tindakan kenabian.
Maka, mari kita buktikan bahwa puasa kita bukan hanya menghasilkan lapar dan dahaga, tapi juga menghasilkan kesadaran baru: bahwa bumi ini amanah, bahwa alam ini saudara, bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari iman.
Wallahu a’lam bish-shawab.





